Telset.id – Sebuah riset baru dari Fizz menemukan bahwa 96% mahasiswa kini menggunakan AI, namun 56% di antaranya menyatakan akan melarang teknologi ini secara permanen jika memiliki kesempatan. Temuan ini menggambarkan hubungan Gen Z dengan AI yang penuh paradoks: adopsi masif, kesadaran akan dampak negatif, sekaligus keengganan untuk melepaskannya.
Riset Fizz menyoroti bahwa ketergantungan mahasiswa terhadap AI justru meningkat seiring intensitas pemakaian. Sebanyak 68% mahasiswa yang memakai AI beberapa kali sehari meyakini tugas kuliah akan menjadi lebih sulit tanpa teknologi tersebut. Angka ini menurun pada kelompok pengguna harian (59%), pengguna mingguan (42%), pengguna beberapa kali sebulan (22%), dan hanya 9% pada mereka yang memakai AI kurang dari sekali sebulan.
Fizz menyebut kelompok pengguna terberat sebagai pihak yang “kecanduan”. Dampaknya pun meluas melampaui urusan akademik, dengan 43% pengguna berat setuju bahwa persiapan karier mereka akan lebih sulit tanpa AI. Bahkan dua dari lima pengguna berat khawatir kehidupan sehari-hari mereka akan terasa lebih berat tanpa kehadiran teknologi ini.
Ketergantungan Tinggi, tapi Khawatir Dampak Lingkungan
Meski adopsinya masif, mahasiswa tetap menyimpan kekhawatiran. Menariknya, isu penurunan kognitif dan ketergantungan menempati urutan kedua (28%) sebagai kekhawatiran utama, di bawah persoalan kerusakan lingkungan (35%). Kekhawatiran soal jejak lingkungan ini sejalan dengan sorotan terhadap konsumsi energi industri AI, seperti yang dibahas dalam isu ledakan energi data center AI.
Ketergantungan ini juga merambah ke ranah personal. Sebanyak 86% pengguna AI harian mengaku pernah memakai teknologi ini untuk hal yang sebelumnya mereka diskusikan dengan orang lain. Topik yang paling sering dibawa ke AI mencakup saran karier atau kehidupan (51%), masalah pribadi (48%), hingga keputusan soal cara membalas pesan (45%).
Baca Juga:
Meski begitu, mahasiswa tetap menyadari pentingnya keterampilan yang tidak bisa digantikan AI. Sebanyak 27% menempatkan kemampuan komunikasi dan people skills sebagai prioritas, yang secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa pemakaian AI berlebihan berpotensi menggerus kemampuan tersebut.
Tekanan Institusi dan Keinginan Melepas AI
Laporan Fizz juga mengungkap bahwa hampir separuh pengguna AI terberat merasa tertekan untuk memakai teknologi ini karena takut tertinggal di pasar kerja. Tekanan ini sebagian datang dari lingkungan pendidikan, dengan 64% mahasiswa mengaku merasakan setidaknya sedikit tekanan dari guru atau institusi pendidikan untuk mengadopsi AI.
Tekanan serupa juga muncul di sektor lain, misalnya di kalangan pengembang yang merasa harus memakai AI agar tidak kehilangan pekerjaan. Situasi ini memperlihatkan bagaimana dorongan adopsi AI menyebar ke berbagai profesi.

Menariknya, meski ketergantungan tinggi, sebanyak 56% mahasiswa menyatakan akan melarang AI besok jika bisa. Angka ini menunjukkan pengakuan luas bahwa dampak AI jauh melampaui sekadar pendidikan. Kesadaran akan risiko ini juga tercermin dalam diskusi publik soal jejak operasional industri AI, seperti upaya rebrand data center yang dilakukan sejumlah perusahaan untuk meredam penolakan.
Namun, bagi sebagian mahasiswa, ketergantungan telah membuat mereka sulit melepaskan AI meski menyimpan kekhawatiran. “Mereka meraihnya saat cemas atau kesepian… Dan hampir tidak ada yang percaya bahwa ini benar-benar membuat mereka lebih baik,” demikian kesimpulan laporan tersebut. “Silicon Valley percaya telah memberi Gen Z sebuah kekuatan super. Gen Z akan mengembalikannya besok, asalkan semua orang juga melakukannya.”





Komentar
Belum ada komentar.