Telset.id – Arcitecta, perusahaan manajemen data asal Melbourne, meluncurkan Mediaflux Connect 365 untuk membantu universitas menghadapi berakhirnya penyimpanan gratis Microsoft 365. Alat ini dirancang untuk memindahkan data kampus ke solusi penyimpanan yang lebih murah sebelum Microsoft mulai menagih biaya kelebihan kapasitas pada Desember 2026.
Mediaflux Connect 365 tersedia langsung dan bekerja dengan memindai seluruh aset OneDrive, SharePoint, dan Teams di institusi pendidikan. Sistem ini mengategorikan data yang ada, lalu mengelola pemindahannya ke penyimpanan on-premises atau cloud alternatif sebelum biaya tambahan mulai berlaku.
Microsoft saat ini memberlakukan batas throughput 400GB/jam untuk pemindahan data keluar. Dengan batas ini, memindahkan satu petabyte data ke pihak ketiga membutuhkan waktu hingga 105 hari. Sementara itu, masa tenggang yang diberikan Microsoft hanya 30 hari setelah kapasitas mencapai 100 persen.
Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari keputusan Microsoft yang diumumkan bertahap. Perusahaan pertama kali mengumumkan penghentian penyimpanan pendidikan tanpa batas pada 2023, dan mulai memberlakukan perubahan tersebut pada Agustus 2024.
Skema Penyimpanan Baru Microsoft untuk Pendidikan
Saat ini, setiap tenant pendidikan mendapatkan 100 TB penyimpanan pooled gratis yang dibagi untuk OneDrive, SharePoint, dan Exchange. Selain itu, setiap pengguna A3 berbayar mendapat tambahan 50 GB, dan pengguna A5 berbayar mendapat 100 GB. Pengguna A1 gratis telah dibatasi 100 GB OneDrive per pengguna sejak Februari 2024.
Kapasitas tambahan dijual dalam paket 10 TB dengan perkiraan harga eceran USD 300 per bulan. Jika dihitung, biaya ini setara dengan USD 360.000 per petabyte penyimpanan per tahun. Banyak universitas memiliki data beberapa kali lipat dari jumlah tersebut, sehingga potensi tagihan bisa mencapai jutaan dolar hanya untuk penyimpanan Microsoft.
Microsoft memberikan peringatan kepada institusi yang melewati batas kapasitas. Admin akan mendapat notifikasi saat kapasitas mencapai 80 dan 90 persen, kemudian ada masa tenggang 30 hari setelah mencapai 100 persen. Namun, masa tenggang ini dinilai tidak cukup untuk memindahkan data dalam jumlah besar dari server Microsoft.

Microsoft mengklaim kebijakan ini hanya berdampak pada sebagian kecil institusi. Perusahaan menyatakan bahwa 99,96 persen sekolah berada jauh di bawah batas penyimpanan mereka. Namun, angka ini dianggap menyesatkan karena mencakup semua tenant pendidikan di dunia, termasuk sekolah dasar dan menengah yang kebutuhan datanya jauh lebih kecil.
Gartner, seperti dikutip Blocks & Files, memberikan penilaian yang lebih blak-blakan. Analis menyebut beberapa universitas riset akan kelebihan kapasitas ratusan terabyte saat kuota diberlakukan.
Tren Industri: Akhir dari Penyimpanan Gratis
Perubahan kebijakan Microsoft bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Google Workspace for Education menghentikan penyimpanan tanpa batas pada 2022 dan kini mempool 100 TB per institusi. Dropbox juga menghapus penyimpanan bisnis tanpa batas pada 2023.
Universitas selama satu dekade memperlakukan cloud produktivitas sebagai arsip tanpa batas karena harganya nol. Kini kondisi tersebut berubah, dan institusi harus membuat keputusan: menyimpan data secara lokal, pindah ke cloud lain, atau membayar tarif yang jauh lebih tinggi untuk mempertahankan status quo.
Arcitecta menawarkan pendekatan berbeda dari Microsoft. Jika Microsoft menyarankan penghapusan data redundan, Arcitecta menawarkan solusi menyimpan semua data di lokasi lain yang tetap terkelola. Mediaflux Connect 365 menjadi jawaban bagi universitas yang ingin menghindari biaya berlebih tanpa kehilangan data penting mereka.
Kenaikan harga penyimpanan ini juga dipengaruhi oleh tingginya permintaan pusat data AI. Microsoft terlihat menggeser prioritas ke infrastruktur AI untuk memanfaatkan pasar yang sedang berkembang. Kondisi ini membuat biaya penyimpanan menjadi komoditas yang semakin mahal.

Bagi universitas riset dengan koleksi data besar, keputusan harus segera diambil. Menunggu hingga kuota diberlakukan pada Desember 2026 bisa berakibat pada tagihan jutaan dolar dan risiko kehilangan akses data. Alat seperti Mediaflux Connect 365 memberikan opsi migrasi yang lebih terencana.
Arcitecta membingkai solusinya sebagai cara mempertahankan semua data, hanya saja di lokasi yang berbeda dan tetap terkelola. Pendekatan ini berbeda dengan saran Microsoft yang lebih fokus pada penghapusan data yang dianggap redundan.
Terlepas dari argumen mana yang dipilih, universitas dan lembaga riset kini menghadapi keputusan penting terkait strategi penyimpanan data mereka. Pilihan yang tersedia adalah penyimpanan lokal, cloud alternatif, atau membayar tarif lebih tinggi ke Microsoft untuk mempertahankan layanan yang ada.





Komentar
Belum ada komentar.