📑 Daftar Isi

Biomemory DNA Shield menyimpan cold data dalam DNA sintetis offline dan airgapped

Biomemory DNA Shield Buka Penyimpanan DNA Komersial, Mulai €10.000 per Bulan

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Biomemory membuka pilot slot DNA Shield, penyimpanan cold data di DNA sintetis offline dan airgapped
  • DNA Shield menyasar 60% data dunia yang tidak dapat diubah, seperti biometrik dan kunci kriptografi
  • Medium DNA diklaim sejuta kali lebih padat dari magnetic storage dengan masa simpan hingga 150 tahun
  • Pilot berjalan 15 Oktober 2026 hingga pertengahan 2027, layanan penuh menyusul
  • Langganan mulai €10.000 per bulan, early access dibuka via Biomemory

Telset.id – Biomemory resmi membuka pilot slot untuk DNA Shield, layanan penyimpanan data berbasis DNA sintetis yang dirancang menyimpan aset digital kritis secara offline dan airgapped. Langkah ini menandai peralihan Biomemory dari pembuktian sains ke produk komersial, dengan harga langganan mulai €10.000 per bulan dan layanan penuh dijadwalkan menyusul setelah periode pilot berakhir pertengahan 2027.

DNA Shield menyasar apa yang disebut Biomemory sebagai “cold data”, yakni informasi yang tidak dapat diubah dan mencakup 60% dari seluruh data di dunia. Data jenis ini bisa berupa password dan biometrik, kunci kriptografi, catatan keuangan, hingga kekayaan intelektual dan pengetahuan proprietari. Lewat DNA Shield, data tersebut dienkode ke dalam DNA sintetis dan disimpan sebagai molekul fisik yang tidak membutuhkan daya untuk bertahan dalam jangka panjang.

Perusahaan menyebut pendekatan ini sebagai Molecular IT. Data dienkripsi ke dalam DNA sintetis, lalu disimpan pada medium yang diklaim sejuta kali lebih padat dibanding magnetic storage, sepenuhnya offline dan airgapped. Biomemory memposisikannya sebagai penyimpanan paling aman yang tersedia saat ini, dengan potensi masa simpan hingga 150 tahun.

Biomemory's synthetic DNA storage

DNA Shield dan Ambisi Molecular IT Biomemory

Peluncuran DNA Shield berangkat dari akuisisi Biomemory atas Catalog Technologies, pionir penyimpanan DNA asal Boston, pada Maret 2026. CEO Biomemory Laurent Guengant menyebut DNA Shield sebagai titik ketika perusahaannya beralih dari membuktikan sains menjadi menghadirkan produk komersial. Menurutnya, organisasi membutuhkan cara untuk menyimpan aset digital paling kritis, kunci kriptografi, kekayaan intelektual inti, catatan teregulasi, dan memori institusional jangka panjang, di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh satu vendor, cloud, atau sistem mana pun, sekaligus membuktikan bahwa data itu masih berfungsi seiring waktu.

Biomemory menegaskan bahwa DNA Shield menjadikannya perusahaan pertama yang meluncurkan produk Molecular IT. Klaim tersebut diperkuat oleh Vincent Franceschini, Vice President of Product Management Biomemory dan co-chair DNA Data Storage Alliance. Ia menyatakan DNA Shield dibangun di atas platform molekuler yang sama yang telah diindustrialisasi selama bertahun-tahun, tetapi ini kali pertama pelanggan diminta mengandalkannya secara operasional, bukan sekadar sebagai demonstrasi riset. Proses dari encoding hingga authorized recovery disebut menjadi pembeda yang membuat Biomemory menjadi perusahaan pertama yang membawa Molecular IT ke pasar.

DNA Shield juga menyoroti tantangan terhadap ketahanan cold data di tengah munculnya teknologi seperti artificial intelligence. Karena itu, penyimpanan berbasis molekul DNA diposisikan sebagai lapisan pertahanan fisik, bukan sekadar solusi perangkat lunak. Sebagai konteks industri, infrastruktur penyimpanan memang menjadi fondasi bagi keamanan pasca-kuantum, isu yang juga dibahas dalam artikel tentang Shield TV Pro yang menunjukkan bagaimana lini produk tertentu terus berubah mengikuti tekanan pasar.

Jadwal Pilot, Harga, dan Akses Awal

Ketersediaan layanan DNA Shield saat ini dibatasi pada sejumlah pilot yang berjalan dari 15 Oktober 2026 hingga pertengahan 2027. Setelah periode itu, Biomemory menyatakan layanan penuh akan berjalan. Organisasi yang berminat harus membayar langganan mulai dari €10.000 per bulan, dan pendaftaran early access dibuka langsung melalui Biomemory.

Bagi pasar yang memantau pergerakan harga perangkat penyimpanan, dinamika serupa terlihat pada produk konsumen seperti Nvidia Shield TV Pro yang mengalami lonjakan harga imbas AI. Sementara itu, di ranah infrastruktur jaringan, pembatasan akses teknologi juga menjadi perhatian, seperti yang tergambar dalam pembahasan soal Starlink Starshield di Ukraina.

Dengan skema langganan yang menyentuh angka puluhan juta rupiah per bulan, DNA Shield jelas tidak ditujukan untuk pengguna umum. Layanan ini menyasar organisasi yang membutuhkan jaminan bahwa aset digital paling kritis mereka tetap tidak tersentuh pihak luar, termasuk AI dan pelaku kejahatan siber, sekaligus dapat dibuktikan masih berfungsi dalam rentang dekade.

[ META_DESCRIPTION]
Biomemory DNA Shield resmi dibuka lewat pilot slot, menyimpan cold data di DNA sintetis offline dengan langganan mulai €10.000 per bulan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.