Ilustrasi investasi AI raksasa teknologi dengan tangan robot memegang uang dolar

Investasi AI Amazon, Google, Meta, Microsoft Tembus Triliunan Dolar

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Amazon, Google, Meta, dan Microsoft telah menggelontorkan dana lebih dari $1 triliun untuk infrastruktur AI sejak 2023
  • Belanja modal mencapai $1,1 triliun dan diperkirakan bertambah $745 miliar lagi tahun ini
  • Permintaan daya pusat data memaksa perusahaan utilitas AS menaikkan tarif listrik untuk semua konsumen
  • Terjadi kekurangan chip memori konsumen mulai 2025 karena prioritas produksi HBM untuk AI
  • Muncul kekhawatiran "utang tersembunyi" senilai $1,65 triliun yang tidak tercantum di neraca keuangan
  • Pendapatan kuartalan gabungan keempat perusahaan mencapai hampir $470 miliar
  • Investor mulai menuntut hasil nyata dari pengeluaran besar-besaran di AI

Telset.id – Amazon, Google, Meta, dan Microsoft telah menggelontorkan dana lebih dari satu triliun dolar AS untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) sejak 2023. Investasi AI raksasa teknologi ini mencakup pembangunan pusat data, chip di dalamnya, serta pasokan listrik untuk mengoperasikan fasilitas tersebut.

Berdasarkan laporan Financial Times yang dikutip dari Tom’s Hardware, keempat perusahaan besar ini telah mencapai belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar 1,1 triliun dolar AS berdasarkan laporan laba terbaru mereka. Angka tersebut diperkirakan akan bertambah sekitar 745 miliar dolar AS lagi pada tahun ini saja.

Investasi AI yang masif ini berdampak signifikan pada berbagai industri lain, terutama harga listrik serta industri chip memori dan penyimpanan. Permintaan daya yang sangat besar dari pusat data telah memaksa banyak perusahaan utilitas di Amerika Serikat mengeluarkan miliaran dolar untuk meningkatkan infrastruktur mereka.

a robot hand holding a wad of dollar bills

Biaya peningkatan infrastruktur tersebut kemudian dibebankan kepada seluruh konsumen, bukan hanya perusahaan besar yang memicu peningkatan tersebut. Hal ini, bersama dengan isu lingkungan lainnya, menyebabkan banyak warga Amerika menolak proyek pusat data di dekat komunitas mereka.

## Tekanan pada Harga Listrik dan Kebijakan Pemerintah

Pemerintah Amerika Serikat melalui Gedung Putih telah memberlakukan “ratepayer protection pledge” yang mewajibkan perusahaan AI hyperscaler, operator utilitas, perusahaan pusat data, dan masing-masing negara bagian untuk berjanji melindungi konsumen rata-rata dari kenaikan biaya listrik. Namun, sejauh ini belum ada negara bagian yang mengambil langkah untuk mengkodifikasikan janji tersebut menjadi undang-undang.

Oregon justru memberlakukan POWER Act yang mengakibatkan kenaikan tagihan listrik sebesar 30% bagi pengguna yang mengonsumsi lebih dari 20MW, sementara memangkas tagihan warga sebesar 1,3%. Kebijakan ini dilakukan pada 2025, jauh sebelum Presiden Donald Trump memanggil raksasa teknologi ke Gedung Putih dan meminta mereka untuk “membayar sendiri” biaya infrastruktur.

Microsoft data center in Mount Pleasant, Wisconsin

Analis RBC Capital, Rishi Jaluria, mengatakan kepada Financial Times bahwa “pada dasarnya tidak ada akhir yang terlihat untuk pertumbuhan belanja modal ini.” Ia menambahkan bahwa investor membutuhkan perusahaan-perusahaan ini untuk menjaga keseimbangan antara investasi di AI dan tidak mengorbankan hal-hal yang telah membuat mereka sukses.

## Dampak pada Industri Chip Memori

Gunungan uang yang dituangkan raksasa teknologi untuk AI juga memengaruhi industri chip memori dan penyimpanan. Karena perusahaan AI hyperscaler memiliki banyak likuiditas dari investor, mereka bersedia membayar mahal untuk HBM (High Bandwidth Memory) yang dibutuhkan untuk menjalankan pusat data mereka.

Kondisi ini membuat Micron, Samsung, dan SK hynix memprioritaskan produksi HBM dibandingkan DRAM, terutama karena mereka dapat mengenakan harga premium untuk chip tersebut dan ada pelanggan yang bersedia membayar di harga tersebut. Akibatnya, terjadi kekurangan memori konsumen yang dimulai pada 2025.

Kekurangan ini awalnya memengaruhi para perakit PC dan penggemar teknologi, namun kini mulai berdampak pada industri lain yang membutuhkan memori, termasuk mobil dan ponsel pintar. Bahkan Apple, yang secara historis memiliki pengaruh besar atas pemasoknya, terpaksa menaikkan harga karena kelangkaan ini.

## Kekhawatiran “Utang Tersembunyi”

Selain memengaruhi industri lain, belanja modal besar-besaran yang dilakukan empat perusahaan besar ini mengkhawatirkan sejumlah ahli. Mereka memperingatkan bahwa janji dan kontrak yang dibuat perusahaan-perusahaan tersebut mengarah pada “utang tersembunyi” yang tidak tercantum dalam neraca keuangan mereka.

Jumlah utang tersembunyi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 1,65 triliun dolar AS, yang dicatat dalam laporan keuangan kuartalan sebagai kewajiban masa depan yang baru akan berlaku saat aset atau layanan terkait mulai beroperasi. Nilai saat ini mencapai 122% dari utang aktual yang tercermin dalam neraca mereka, yang dapat memberi investor kesan yang salah bahwa mereka memiliki lebih sedikit kewajiban daripada yang sebenarnya.

## Pendapatan Kuartalan Raksasa Teknologi

Meskipun jumlah uang yang dibelanjakan empat perusahaan besar untuk AI mungkin tampak sangat tinggi, perlu dicatat bahwa perusahaan-perusahaan ini juga menghasilkan banyak uang secara kuartalan. Pendapatan kuartal terbaru Microsoft mencapai 90 miliar dolar AS, sementara Meta menghasilkan 60 miliar dolar AS pada periode yang sama. Alphabet (Google) mengumumkan pendapatan hampir 120 miliar dolar AS, sementara Amazon mencapai 200 miliar dolar AS.

Total pendapatan keempat perusahaan ini mencapai hampir 470 miliar dolar AS hanya dalam satu kuartal terakhir. Namun, hal tersebut tidak berarti mereka dapat terus membelanjakan uang untuk AI tanpa batas.

Sebagai contoh, meskipun bisnis cloud Google memiliki pendapatan 11 miliar dolar AS tahun lalu, harga sahamnya turun setelah mengumumkan bahwa perusahaan mengeluarkan lebih banyak uang daripada yang dihasilkan pada kuartal terakhir. Ini adalah pertama kalinya hal ini terjadi dalam 20 tahun sejak perusahaan go public.

Meta juga berencana menyewakan komputasi AI-nya, tampaknya mengikuti jejak Amazon, Google, dan Microsoft yang memiliki bisnis cloud yang berkembang. Namun, pengumuman ini menyebabkan penurunan harga sahamnya.

“Investor tidak lagi menginginkan pertumbuhan dengan biaya berapa pun; mereka ingin melihat pengeluaran mengalir ke hasil, seperti di Big Three,” kata Dec Mullarkey, managing director SLC Management, kepada Financial Times.

Investasi besar-besaran dalam AI ini menunjukkan bagaimana keputusan bisnis perusahaan teknologi global dapat memengaruhi berbagai sektor, mulai dari harga listrik hingga ketersediaan chip memori di pasar. Perusahaan-perusahaan ini harus menyeimbangkan ambisi mereka dalam pengembangan AI dengan dampak yang ditimbulkan pada konsumen dan investor.

Dengan total pendapatan kuartalan yang mencapai hampir 470 miliar dolar AS, keempat raksasa teknologi ini memiliki kemampuan finansial yang kuat. Namun, tekanan dari investor untuk melihat hasil nyata dari pengeluaran besar-besaran ini akan menjadi tantangan yang harus dihadapi perusahaan-perusahaan tersebut ke depannya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.