Telset.id – Pasar smartphone murah di bawah US$200 diprediksi menyusut hingga 40% pada 2030, setara hilangnya 230 juta perangkat dari pasar global. Penyusutan ini dipicu oleh kenaikan biaya RAM dan chipset akibat lonjakan kebutuhan pusat data AI, yang membuat segmen perangkat terjangkau semakin tidak menguntungkan bagi produsen.
Riset terbaru dari Counterpoint Research mengungkap bahwa pasar smartphone secara keseluruhan akan pulih ke volume 2025 pada 2030, tetapi dengan segmen anggaran yang jauh lebih kecil. Sementara perangkat mid-range, premium, dan ultra-premium relatif tidak terlalu terdampak, konsumen berpenghasilan rendah—terutama di negara-negara miskin—berisiko kehilangan akses internet karena harga perangkat yang melambung.
Guncangan Struktural di Industri Smartphone
Studi Counterpoint Research menyebut pasar smartphone akan berubah signifikan karena spesifikasi perangkat yang lebih tinggi menjustifikasi harga jual yang lebih mahal di tengah kenaikan biaya komponen. “Structural shock” ini dapat ditelusuri dari penurunan pasar saat ini, dan kemungkinan akan membuat banyak orang mempertahankan ponsel mereka lebih lama—meski mereka yang mampu akan tetap melakukan upgrade.
Kondisi ini berpotensi memperpanjang siklus penggantian perangkat, baik oleh konsumen maupun vendor yang mungkin terdorong oleh permintaan pasar. Pasar ponsel refurbished juga berpeluang diuntungkan, begitu pula dengan paket asuransi handset yang bisa memiliki langganan lebih panjang, sehingga semakin mendukung pasar refurbished dan pasokan stok perangkat lama.

Selama beberapa tahun terakhir, smartphone premium menjadi penggerak pasar, dan data yang ada menunjukkan tren ini akan berlanjut. Prediksi tersebut tidak menyiratkan bahwa ponsel murah akan hilang sepenuhnya, tetapi akan ada peluang baru dari pasar ponsel bekas, dumbphones, hingga solusi niche atau DIY.
Baca Juga:
Risiko Konektivitas bagi Pengguna Baru
Ponsel premium dan perangkat mid-range berspesifikasi lebih tinggi memang terdengar positif di permukaan. Namun, hal ini berarti wilayah-wilayah di mana ponsel murah menjadi vital untuk komunikasi dan akses internet akan semakin sulit mencapai konektivitas internet mobile.
“Pasar smartphone akan pulih dalam hal unit, tetapi segmen terjangkau tidak akan kembali ke posisi sebelumnya,” kata Yang Wang, principal analyst di Counterpoint Research, seraya mencatat ukuran pasar secara keseluruhan akan serupa, tetapi berbeda dalam nilai.
“Peluang sekarang bergeser ke perangkat mainstream berspesifikasi lebih baik dan produk premium, meskipun tier yang lebih tinggi tidak dapat menyerap semua volume yang hilang,” tambah Wang. “Ada juga risiko konektivitas yang lebih luas, karena hilangnya smartphone baru yang terjangkau dapat mempersulit pengguna pertama di pasar berpenghasilan rendah untuk online.”

Counterpoint Research menegaskan bahwa mereka memperkirakan pasar smartphone akan kembali ke volume 2025 pada 2030, tetapi dengan segmen anggaran yang jauh lebih kecil. Kenaikan biaya RAM dan chipset yang dipicu oleh booming pusat data AI menjadi faktor kunci dalam proyeksi ini, sejalan dengan tekanan serupa yang juga menerpa komponen lain seperti yang terlihat pada Harga Panel LCD.
Dampak kenaikan biaya komponen ini tidak hanya dirasakan oleh konsumen smartphone, tetapi juga oleh produsen perangkat lain yang bergantung pada pasokan RAM dan memori. Sebagai gambaran, kebijakan yang membatasi fleksibilitas perangkat juga terlihat pada produk seperti Raspberry Pi Kunci RAM, yang menunjukkan betapa krusialnya komponen memori dalam menentukan harga dan spesifikasi perangkat.
Di sisi lain, pasar perangkat premium terus bergerak. Peluncuran produk seperti AirPods 5 Resmi menunjukkan bahwa segmen konsumen yang mampu tetap menjadi fokus utama para vendor, sementara segmen anggaran semakin terpinggirkan.
Bagi konsumen yang ingin mengamankan perangkat dengan harga lebih bersahabat, pasar ponsel bekas dan refurbished menjadi alternatif yang diprediksi akan tumbuh. Namun, bagi pengguna di pasar berpenghasilan rendah, tantangan untuk tetap terhubung ke internet mobile menjadi semakin nyata seiring menyusutnya pasokan ponsel baru yang terjangkau.
Counterpoint Research menyimpulkan bahwa meskipun pasar smartphone secara keseluruhan akan kembali ke volume 2025 pada 2030, lanskapnya akan sangat berbeda—dengan segmen anggaran yang jauh lebih kecil dan pergeseran nilai ke perangkat berspesifikasi lebih tinggi. Bagi konsumen yang mengandalkan ponsel murah sebagai pintu masuk ke internet, perubahan ini menuntut perencanaan lebih matang untuk penggantian perangkat di masa depan.





Komentar
Belum ada komentar.