📑 Daftar Isi

Pekerja mengetik di laptop sambil memeriksa hasil kerja AI di meja kantor

Riset: 48% Karyawan Harus Koreksi Hasil Kerja AI di Kantor

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Riset Use.AI survei 8.316 pengguna AI di tempat kerja di Inggris, Uni Eropa, AS, Kanada, Australia, dan Amerika Latin
  • 62% merasa AI mempermudah pembuatan dokumen, memo, dan kode
  • 48% menerima materi berbantuan AI yang memerlukan koreksi, 43% harus mengulang pekerjaan AI
  • 39% menilai cek hasil AI lebih lama daripada mengerjakan sendiri, 41% menyebut review meningkat
  • 34% meneruskan hasil AI tanpa memeriksa, 58% menyatakan tidak ada aturan pengecekan

Telset.id – Riset Use.AI terhadap 8.316 pengguna AI di tempat kerja menemukan bahwa 48% responden menerima materi berbantuan AI yang memerlukan koreksi. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan AI di kantor tidak otomatis menghadirkan produktivitas, karena output yang dihasilkan masih menuntut revisi dan verifikasi ulang.

Survei yang melibatkan responden dari Inggris, Uni Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Amerika Latin itu menyoroti kesenjangan antara kemudahan produksi konten dan beban pengecekan yang muncul setelahnya. Meski 62% responden mengaku senang karena AI mempermudah pembuatan dokumen, memo, bahkan kode, masalah justru muncul pada tahap berikutnya.

Sebanyak 43% responden menyatakan pernah dipaksa mengulang pekerjaan AI yang dinilai tidak layak. Sementara itu, 39% menilai pengecekan hasil AI justru memakan waktu lebih lama dibanding mengerjakan tugas itu sendiri dari nol. Angka ini diperkuat oleh 41% responden yang menyebut beban review dan verifikasi materi AI meningkat sejak teknologi tersebut masuk ke proses produktivitas.

Banyak Pekerja Abaikan Pengecekan Hasil AI

Temuan paling mengkhawatirkan dalam riset ini adalah kebiasaan meneruskan hasil AI tanpa pemeriksaan. Sebanyak 34% responden mengaku meneruskan pekerjaan yang dihasilkan atau dibantu AI tanpa memeriksa isinya. Pola ini berpotensi menimbulkan masalah ketika AI menghasilkan materi yang tidak sesuai atau sulit dibaca.

Riset Use.AI juga mencatat bahwa 58% responden menyatakan tidak ada aturan untuk memeriksa pekerjaan berbantuan AI. Kondisi ini dinilai dapat memperparah masalah yang muncul sehari-hari, termasuk materi hasil AI yang diedarkan hanya lewat satu prompt tanpa melalui proses review apa pun.

A person typing on a laptop and using a tablet. Only their upper torso, arms and hands are visible. Text superimposed on the image shows AI

Di sisi lain, riset ini tetap mencatat sisi positif adopsi AI. Sebanyak 62% responden merasa terbantu karena AI mempermudah pembuatan dokumen, memo, dan kode. Namun, hampir 48% responden menilai teknologi tersebut justru menciptakan lebih banyak masalah dalam proses kerja mereka.

Beban Verifikasi Menggerus Manfaat Produktivitas

Use.AI menyebut bahwa pola “fire and forget” atau langsung pakai tanpa cek menjadi persoalan tersendiri dalam penggunaan AI di tempat kerja. Responden yang meluangkan waktu memeriksa hasil AI justru menemukan berbagai masalah, dan proses revisinya memakan waktu. Hal ini membuat keunggulan produktivitas yang dijanjikan AI tidak selalu terwujud.

Riset ini juga menyinggung besarnya investasi yang telah dikeluarkan perusahaan untuk membeli tools AI, menyusun kebijakan dan prosedur, mengganti personel, hingga menerapkan taktik pemasaran “AI-ready” dalam beberapa tahun terakhir. Namun temuan survei menunjukkan bahwa bagi banyak bisnis, AI bisa menjadi masalah ketimbang keuntungan.

Kebutuhan pengawasan pun meningkat untuk memastikan AI menjalankan tugas secara akurat. Lebih banyak waktu tersita untuk menyelesaikan kesalahan, masalah kualitas, dan persoalan lain. Alhasil, keunggulan produktivitas yang seharusnya diberikan AI terganjal oleh materi yang dihasilkannya sendiri.

Sebagai perbandingan, persoalan kesenjangan keterampilan juga menjadi hambatan adopsi AI di bisnis, seperti dibahas dalam artikel soal kesenjangan skill AI. Sementara itu, kebutuhan pelatihan bagi pekerja turut menjadi sorotan dalam laporan tentang pelatihan ancaman siber AI.

Riset Use.AI dapat dibaca secara online. Survei ini melibatkan 8.316 orang dewasa yang menggunakan AI di tempat kerja, dan hasilnya memperlihatkan bahwa tanpa aturan pengecekan yang jelas, output AI berisiko menambah beban kerja alih-alih meringankannya.

[WIDGET_STATS]
Survei Use.AI terhadap 8.316 pengguna AI di tempat kerja:

  • 62% merasa AI mempermudah pembuatan dokumen, memo, dan kode
  • 48% menerima materi berbantuan AI yang memerlukan koreksi
  • 43% dipaksa mengulang pekerjaan AI yang tidak layak
  • 39% menilai cek hasil AI lebih lama daripada mengerjakan sendiri
  • 41% menyebut review dan verifikasi materi AI meningkat
  • 34% meneruskan hasil AI tanpa memeriksa isinya
  • 58% menyatakan tidak ada aturan pengecekan pekerjaan AI
Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.