Ilustrasi Siri AI di perangkat Apple dengan antarmuka iOS terbaru

Siri AI Tanpa Pilihan Model AI, Justru Keunggulan Apple

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Siri AI hadir tanpa opsi pemilihan model AI, berbeda dengan Gemini atau Claude yang menawarkan banyak pilihan model
  • Apple merutekan pertanyaan melalui berbagai model seperti AFM 3 Core dan AFM 3 Cloud Pro secara otomatis di belakang layar
  • Keunggulan utama Siri AI adalah integrasi penuh dengan iOS, memberikan pengalaman konsisten di semua perangkat
  • Gemini di Android masih terasa terpisah-pisah dengan banyak langkah ekstra untuk mengaktifkan fitur suara
  • Pendekatan minimalis Apple dinilai tepat untuk mayoritas pengguna yang tidak ingin bingung memilih model AI
  • Pengguna lanjutan yang butuh kontrol penuh atas model AI masih bisa memilih platform lain

Telset.id – Pengalaman menggunakan Siri AI justru menunjukkan bahwa ketiadaan pilihan model AI menjadi keunggulan utama dibandingkan asisten virtual kompetitor. Seorang jurnalis teknologi yang telah menggunakan Siri sejak iPhone 4S pada 2011 menemukan bahwa pendekatan minimalis Apple ini menyelesaikan kebingungan pengguna dalam memilih model AI.

Jason Cipriani, seorang kontributor lepas TechRadar dengan pengalaman lebih dari 18 tahun meliput teknologi konsumen, mengaku awalnya skeptis terhadap Siri AI. Pada Juni, Apple meluncurkan Siri AI yang diklaim lebih pintar, lebih mampu, dan penuh fitur baru. Skeptisisme itu muncul karena tahun sebelumnya Apple pernah mendemonstrasikan versi Siri yang lebih powerful namun tidak pernah dirilis.

Beberapa hari setelah pengumuman, Cipriani menginstal beta developer pada MacBook Neo, iPad Pro, dan iPad Mini. Ia mengaku jarang berinteraksi dengan Siri di perangkat tersebut. Namun, ia sering menekan Command+Space untuk membuka Spotlight. Kini, kombinasi tombol yang sama justru memunculkan kotak teks untuk mengobrol dengan Siri. Selain itu, Siri baru juga menyertakan aplikasi chatbot Siri khusus.

Selama enam minggu pertama program beta, Cipriani menggunakan Siri melalui pintasan Spotlight lama atau langsung di aplikasi Siri. Ia sering mengajukan pertanyaan yang sama ke Siri dan Gemini untuk membandingkan hasilnya. Awalnya, ia bingung dengan tidak adanya opsi untuk memilih model AI yang ingin digunakan.

WWDC 2026 Screenshots

Sebagai pengguna harian Gemini, Cipriani terbiasa berpindah antara model Flash-lite, Flash, dan Pro, plus versi Extended untuk jawaban yang lebih baik. Claude juga memiliki opsi serupa dengan Fable, Opus, Sonnet, dan Haiku. Namun di aplikasi Siri, tidak ada opsi sama sekali. Pengguna cukup membuka dan mulai mengetik. Sederhana, meski terkesan basic.

Aplikasi Siri menampilkan daftar percakapan masa lalu, mirip thread lama di Messages atau Mail. Daftar ini mencakup semua percakapan dengan Siri, baik melalui suara maupun ketikan. Kesederhanaan aplikasi Siri sempat membuat Cipriani tidak percaya diri. Ia bertanya-tanya bagaimana mengetahui apakah mendapat jawaban terbaik untuk pertanyaan harian atau tugas kompleks seperti coding website.

Ketidakpercayaan itu berubah setelah menginstal iOS 27 di iPhone 17 Pro Max. Workflow harian Cipriani di iPhone adalah menggeser layar ke bawah, mengetik pertanyaan atau nama aplikasi, lalu melanjutkan aktivitas. Proses yang dilakukan puluhan kali sehari ini kini memicu Siri, bukan Spotlight.

Apple WWDC 2026 Siri architecture deep dive

Semakin sering menggunakan Siri, Cipriani semakin menikmati kenyataan tidak perlu membuat keputusan sadar tentang model, versi, atau mode yang digunakan. Hasil akhirnya persis seperti yang diinginkan setiap orang saat mengobrol dengan bot AI: minta sesuatu, dapatkan jawaban.

Apple merutekan pertanyaan di belakang layar melalui berbagai model on-device dan cloud seperti AFM 3 Core atau AFM 3 Cloud Pro via Private Cloud Compute. Namun pengguna tidak pernah melihat nama-nama tersebut. Apple sengaja menyembunyikan mesin di balik kap, membuat kompleksitas teknis tidak terlihat oleh orang yang hanya ingin mendapatkan jawaban.

Keunggulan nyata Siri AI dibandingkan Google Gemini di Android adalah integrasinya dengan iOS. Tidak peduli bagaimana atau di mana pengguna berinteraksi, pengalaman yang didapat tetap sama, dan catatan tersimpan di aplikasi Siri. Sementara di Android, implementasi Gemini tidak sekonsisten itu.

Meski ada aplikasi Gemini khusus seperti Siri, aplikasi tersebut memiliki lebih banyak alat, fitur, dan pengaturan. Namun di luar aplikasi tersebut, pengguna harus sengaja mencari Gemini di ponsel Android. Contohnya, ada bilah pencarian Google di setiap layar utama Pixel. Mengetuknya untuk menggunakan Google Search akan menampilkan AI overview sebagai hasil teratas, tapi itu bukan langsung menggunakan Gemini.

Untuk mengobrol dengan Gemini, pengguna harus menahan tombol power atau memicu dengan Hey Google. Namun ada langkah ekstra untuk mengaktifkan fitur suara Gemini menggantikan Google Assistant. Bahkan setelah mengaktifkan tombol power untuk memicu Gemini di Pixel 10 Pro XL, Cipriani masih mendapatkan pop-up yang mengatakan tidak bisa berbicara dengan Gemini hingga mengetuk satu tombol lagi untuk mengaktifkan mikrofon.

Cipriani mengaku menerima email dari Google yang menyatakan Google Assistant telah digantikan Gemini di semua perangkatnya yang kompatibel. Meski menyambut perubahan tersebut, penggunaan Gemini di Android masih terasa terpisah-pisah. Di iPhone, semua itu tidak diperlukan. Bagaimanapun cara mengakses Siri, pengguna tetap mendapatkan Siri dengan tambahan AI.

Pendekatan minimalis Apple terhadap aplikasi Siri dinilai Cipriani sebagai fitur tersendiri yang bagus. Saat pertama bereksperimen dengan Gemini, ia butuh berminggu-minggu mempelajari nuansa kapan menggunakan model tertentu. Begitu merasa nyaman, model baru dirilis dan proses belajar dimulai lagi. Siklus itu berlanjut hingga hampir dua tahun kemudian.

ChatGPT, Google Gemini mobile icon apps.

Meski demikian, Cipriani tetap percaya ada kebutuhan dan tempat untuk kontrol lebih besar atas interaksi AI. Sebagian orang, terutama yang menggunakan AI untuk tugas lanjutan seperti coding, diuntungkan dengan kontrol penuh atas model. Namun mayoritas pengguna yang mungkin takut terhadap AI akan menyadari Siri menjadi lebih pintar dan bisa melakukan lebih banyak hal, tanpa menyadari atau peduli bahwa ada platform AI lengkap di balik hasil tersebut.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa Apple memilih pendekatan berbeda dari kompetitor dengan menyembunyikan kompleksitas teknis. Bagi pengguna umum, kesederhanaan justru menjadi nilai jual utama. Siri AI hadir sebagai asisten yang terintegrasi penuh dengan ekosistem iOS, menawarkan pengalaman konsisten tanpa perlu memahami seluk-beluk model AI.

Keputusan Apple untuk tidak menampilkan pilihan model AI di aplikasi Siri merupakan strategi yang berani. Di tengah tren kompetitor yang justru menonjolkan berbagai opsi model, Apple memilih fokus pada pengalaman pengguna akhir. Hasilnya, pengguna tidak perlu bingung memilih model mana yang tepat untuk setiap pertanyaan.

iOS 27 interface alongside the Siri AI logo

Bagi pengguna yang terbiasa dengan kontrol penuh atas model AI, keterbatasan ini mungkin terasa kurang. Namun bagi mayoritas pengguna iPhone yang menginginkan jawaban cepat tanpa kerumitan teknis, pendekatan Apple ini justru lebih masuk akal. Siri AI membuktikan bahwa asisten virtual tidak harus rumit untuk menjadi berguna.

Integrasi mendalam dengan sistem operasi menjadi pembeda utama. Pengguna tidak perlu berpindah aplikasi atau mengaktifkan fitur tambahan. Cukup dengan gestur yang sama seperti sebelumnya, Siri AI siap membantu. Konsistensi pengalaman ini menjadi nilai yang sulit ditandingi kompetitor di ekosistem Android.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.