📑 Daftar Isi

Ilustrasi mobil terhubung yang mengirimkan data pengemudi ke perusahaan teknologi

Studi Consumer Reports: Mobil Pintar Bocorkan Data Pribadi ke Big Tech

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Studi Consumer Reports bersama peneliti Northeastern University mengungkap mobil pintar bocorkan data pribadi ke perusahaan luar
  • Hampir seperempat aplikasi kendaraan kirim nama, VIN, dan lokasi presisi ke data broker
  • Penerima terbesar data: Amazon, Google, Meta, Microsoft, Pinterest, Snap, dan Yahoo
  • Tesla Model 3 terhubung ke 34 domain iklan, Cybertruck 23 koneksi
  • Menolak berbagi data bisa kurangi fungsi kendaraan

Telset.id – Sebuah studi terbaru dari Consumer Reports mengungkap bahwa mobil pintar berpotensi membocorkan data pribadi pengemudinya ke perusahaan teknologi besar. Studi yang dilakukan peneliti privasi dari Northeastern University di Boston ini menggunakan kendaraan dan fasilitas Auto Test Center milik Consumer Reports. Temuan utamanya: hampir seluruh pabrikan otomotif yang diuji mengirimkan data ke perusahaan luar.

Studi tersebut menegaskan bahwa mobil Anda “mungkin memata-matai Anda”. Informasi yang dikumpulkan dari perilaku berkendara dikirim ke “beberapa perusahaan teknologi terbesar di dunia”. Ini bukan sekadar soal cara Anda mengemudi, tetapi juga aplikasi yang Anda gunakan hingga suara Anda. Data itu kadang dipakai untuk memasarkan produk, dan berpotensi membuat Anda dikenai premi asuransi lebih tinggi. Beberapa pabrikan mobil pun telah didenda karena menjalankan praktik ini tanpa memberi tahu pengguna secara jelas.

Consumer Reports menyatakan bahwa dari kendaraan yang diuji, “hampir setiap pabrikan mobil mengirim data ke perusahaan luar”. Lebih jauh, “hampir seperempat aplikasi kendaraan ditemukan mengirimkan informasi yang dapat diidentifikasi secara pribadi, termasuk nama pemilik kendaraan, nomor identifikasi kendaraan (VIN), dan lokasi geografis yang presisi”.

Ke Mana Data Itu Mengalir?

Pelanggaran privasi terburuk melibatkan perusahaan yang mengirim VIN sekaligus data lain, seperti alamat email atau nama lengkap, ke data broker. Hal itu memungkinkan firma periklanan menautkan Anda ke “salah satu dari banyak profil konsumen yang tersedia secara komersial, yang dijual oleh data broker dan perusahaan lain. Data tersebut sering mencakup perilaku online dan riwayat belanja,” simpul Consumer Reports.

Menariknya, Consumer Reports menyebut bahwa “penerima terbesar data pengemudi adalah beberapa perusahaan teknologi terbesar di negara itu, termasuk Amazon, Google, Meta, Microsoft, Pinterest, Snap, dan Yahoo.” Mengapa data ini terutama mengalir ke perusahaan Big Tech? Consumer Reports menyebut dua alasan: mereka sering menjadi penyedia aplikasi terhubung di sistem infotainment mobil, sekaligus berperan sebagai operator platform lelang iklan yang digunakan pemasar pihak ketiga.

connected car

Data yang terkumpul bisa dijual ke data broker dan ditautkan dengan informasi lain tentang Anda. Artinya, siapa pun yang membeli informasi itu bisa mengetahui banyak hal tentang Anda tanpa pernah bertemu. Kondisi ini juga meningkatkan risiko jika data tersebut bocor atau diretas. Agregasi besar-besaran informasi yang dapat diidentifikasi secara pribadi bisa digunakan untuk stalking, pencurian identitas, penipuan medis, atau bentuk kejahatan lain yang merugikan.

Sarah Elizabeth Gillespie, salah satu penulis bersama studi ini, berpendapat: “Tampaknya pelanggan tidak bisa membeli mobil baru yang tidak melacak Anda.” Pernyataan itu menegaskan bahwa praktik pelacakan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem mobil baru saat ini.

Meski sebagian pabrikan menyatakan bahwa ketentuan berbagi data bisa dinonaktifkan, pilihan itu bisa sangat membatasi cara Anda menggunakan kendaraan. Dalam kasus Tesla, perjanjian berbagi data perusahaan menyebutkan bahwa menolak berbagi “dapat mengakibatkan kendaraan Anda mengalami pengurangan fungsionalitas, kerusakan serius, atau tidak dapat dioperasikan.”

Tesla Cybertruck

Tesla termasuk yang paling buruk dalam hal ini. Peneliti mencatat bahwa Tesla Model 3 terhubung ke 34 domain periklanan, pelacakan, atau analitik. Pelanggar terburuk kedua di kategori ini adalah kendaraan Tesla lainnya, Cybertruck, dengan 23 koneksi.

“Dari kendaraan yang diuji, 28 dari 30 aplikasi seluler yang terhubung mengirim data ke setidaknya satu perusahaan periklanan dan/atau analitik luar, dan tujuh mengirim setidaknya satu bagian informasi yang dapat diidentifikasi secara pribadi — nama pemilik kendaraan, VIN mobil, atau lokasi geografis presisinya — ke setidaknya satu perusahaan luar,” peringat Consumer Reports.

Studi itu menambahkan bahwa “temuan ini menggarisbawahi ekosistem data pribadi yang sangat besar yang tanpa disadari dimasuki konsumen Amerika ketika mereka membeli dan menggunakan produk konsumen sehari-hari, termasuk mobil.”

Bagi pengguna di Indonesia, temuan ini menjadi pengingat bahwa mobil pintar bukan sekadar soal kenyamanan dan fitur canggih. Ada lapisan data yang terus mengalir ke luar kendaraan, dan sebagian besar pemilik tidak menyadarinya. Memahami alur data ini menjadi langkah awal untuk menimbang ulang seberapa besar privasi yang rela ditukar dengan konektivitas. Sebelum memutuskan membeli mobil terhubung, ada baiknya menelusuri kebijakan berbagi data masing-masing merek, termasuk bagaimana penolakan berbagi data berdampak pada fungsi kendaraan.

Isu privasi pada perangkat terhubung memang tak berhenti di mobil. Sejumlah laporan juga menyoroti bagaimana perangkat lain, dari televisi hingga aplikasi sehari-hari, mengumpulkan data pengguna dalam skala besar. Pola yang muncul serupa: data pribadi mengalir ke pihak ketiga, sementara pengguna kerap tak punya kendali penuh untuk menghentikannya.

Dengan temuan Consumer Reports ini, pertanyaan soal siapa yang benar-benar memiliki data berkendara Anda menjadi semakin relevan. Sebab, selama aliran data ke perusahaan luar masih berlangsung tanpa transparansi penuh, privasi pengemudi akan terus menjadi taruhan setiap kali mesin dinyalakan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.