Telset.id – AI data centers di Amerika Serikat menghadapi hambatan baru setelah Texas dan California menggulirkan aturan yang memperketat pembangunan fasilitas tersebut. Gubernur Texas Greg Abbott memperluas cakupan moratorium de facto terhadap data center baru hingga audit kelistrikan rampung, sementara Gubernur California Gavin Newsom menandatangani undang-undang yang memberi komunitas kontrol lebih besar atas penggunaan air, listrik, dan lahan data center.
Langkah ini menjadi pukulan lanjutan bagi industri AI di AS yang belakangan menghadapi gelombang penolakan warga. Texas dan negara bagian lain bahkan mencatat lonjakan kandidat pemilu lokal yang mengangkat isu data center sebagai topik utama. Tekanan terhadap pembangunan fasilitas AI kini menjadi salah satu isu politik paling panas di level negara bagian.
Texas Setop Koneksi Grid Baru
Abbott memperluas jangkauan moratorium de facto terhadap data center baru sampai audit listrik terbaru selesai. Kebijakan ini secara efektif mencegah data center baru mendapatkan izin lingkungan maupun akses ke jaringan listrik. Menurut ERCOT yang mengoperasikan grid listrik Texas, persetujuan koneksi data center bisa dihentikan hingga Desember ketika audit diperkirakan rampung. Sampai saat itu, tidak ada koneksi baru yang akan diizinkan.
“Sederhananya, warga Texas harus didahulukan,” kata Gubernur Texas Abbott. “Data center harus membayar sendiri, melindungi grid dan air kami, serta menyelesaikan audit ERCOT.”
Warga Texas semakin vokal menyuarakan pendapat mereka soal data center, terutama terkait penggunaan lahan, kebisingan, polusi, dan beban pada jaringan listrik. Abbott sendiri sebelumnya pro-data center dan mempromosikan Texas sebagai “epicentrum pengembangan AI”, tetapi kini berbalik sikap dengan menyatakan data center mendapat “backlash yang memang pantas mereka terima”. Perubahan haluan ini menjadi sorotan tersendiri dalam industri.
Baca Juga:
California Alihkan Biaya ke Operator
Di California, undang-undang baru Gubernur Newsom bertujuan mengalihkan sebagian besar biaya yang ditimbulkan data center dari kantong publik kembali ke operator. Biaya koneksi dan peningkatan jaringan listrik akan ditanggung oleh data center yang mengajukan permohonan. Ada pula persyaratan tambahan agar data center baru menambahkan energi bersih baru untuk menutupi konsumsi energi ekstra mereka.
Transparansi penggunaan air juga diperketat. Proyek yang diusulkan kini wajib menginformasikan penggunaan air, pasokan, efisiensi, dan rencana menghadapi kekeringan kepada pemerintah lokal, dengan kewajiban serupa untuk membayar peningkatan infrastruktur. Persyaratan penggunaan lahan juga masuk dalam regulasi, di mana data center tidak lagi dikecualikan dari aturan lingkungan. Proyek yang diusulkan harus memenuhi standar negara bagian soal energi, air, dan konsumsi bahan bakar, sekaligus memitigasi biaya yang dibebankan ke pelanggan listrik.

Regulasi di tingkat federal juga menunjukkan kemajuan. Ratepayer Protection Act bertujuan membuat pengembang kampus data center skala menengah dan besar menanggung biaya peningkatan infrastruktur serta koneksi grid untuk data center dengan daya puncak di atas 100MW. Undang-undang ini baru saja disahkan oleh anggota DPR dengan dukungan bipartisan dan kini menuju Kongres untuk persetujuan. Namun karena pemilu tengah periode, undang-undang ini mungkin baru ditandatangani menjadi hukum pada akhir tahun.
Oposisi terhadap data center dan regulasi tingkat negara bagian menuai kritik signifikan dari Gedung Putih. Presiden Trump menyatakan mereka yang menentang AI data center “melakukan kesalahan”, seraya menambahkan bahwa komunitas akan kehilangan “lapangan kerja dan uang dalam jumlah besar” yang bisa diberikan data center lokal. Kritik ini muncul di tengah gelombang penolakan yang terus menguat di berbagai wilayah.
Tekanan terhadap industri tidak hanya datang dari regulasi. Pada kuartal kedua 2026, lebih dari $68 miliar proyek data center berhasil diblokir oleh oposisi lokal, dengan total 45 proyek yang diusulkan mendapat penolakan. Angka ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap data center AI kini berdampak nyata pada nilai proyek yang gagal berjalan.

Dinamika di Texas juga tercermin dalam berbagai perkembangan lain di negara bagian tersebut. Otoritas zonasi disebut bisa menjadi jawaban atas persoalan data center, seiring San Marcos menjadi kota pertama di Texas yang melarang data center. Di sisi lain, kebutuhan energi besar mendorong proyek penyimpanan seperti baterai raksasa Equinor yang beroperasi di Texas, menunjukkan tekanan infrastruktur energi yang terus meningkat seiring pertumbuhan fasilitas AI.
Perubahan lanskap regulasi ini juga bersinggungan dengan isu ketenagakerjaan dan teknologi di wilayah tersebut. Riset terbaru bahkan menyoroti bagaimana lulusan baru terdampak PHK akibat AI di Texas, menambah dimensi sosial dari ekspansi data center yang selama ini digadang membawa lapangan kerja.
Sementara itu, kebijakan di level negara bagian terus bergerak. New York menjadi negara bagian pertama di AS yang melarang hyperscaler data center, dan langkah serupa dibahas di berbagai wilayah lain. Bahkan di sektor lain, Texas dan Florida sempat menghentikan penggunaan kamera Flock, memperlihatkan bagaimana isu teknologi dan pengawasan publik semakin sering berbenturan di level negara bagian.
Dengan moratorium Texas yang berpotensi berlangsung hingga Desember dan regulasi California yang mulai berlaku, operator data center AI di AS menghadapi lanskap kepatuhan yang jauh lebih ketat. Kombinasi audit grid, kewajiban energi bersih, transparansi air, dan aturan lahan menempatkan biaya serta izin sebagai faktor penentu utama dalam setiap proyek baru ke depan.
[ META_DESCRIPTION]
Texas moratorium data center AI berlaku hingga audit ERCOT selesai Desember, sementara California perketat aturan air, listrik, dan lahan fasilitas AI.





Komentar
Belum ada komentar.