Telset.id – Kota Umatilla di Oregon, Amerika Serikat, resmi mendeklarasikan keadaan darurat setelah pembatasan data center tingkat negara bagian mengancam sekitar US$6 juta atau setara Rp97 miliar pendapatan kota yang telah masuk dalam proyeksi keuangan. Langkah ini menjadi respons langsung terhadap keputusan Gubernur Oregon Tina Kotek yang menangguhkan izin lingkungan baru untuk fasilitas data center hingga Juli 2027.
Deklarasi darurat tersebut disetujui dewan kota Umatilla dan mencakup permintaan peninjauan ulang dalam 90 hari, disertai permintaan resmi kepada Gubernur Kotek agar meninjau kembali pembatasan tersebut tanpa penundaan lebih lanjut. Resolusi ini juga mengizinkan dilakukannya kajian ekonomi terhadap potensi kerugian yang timbul.
Manajer Kota Umatilla Dave Stockdale menegaskan bahwa dampak dari pembatasan ini melampaui kepentingan bisnis individu. “Konsekuensi ini jauh melampaui kepentingan masing-masing perusahaan. Hal ini mengancam kesejahteraan ekonomi dan keuangan komunitas Umatilla secara lebih luas,” ujar Stockdale dalam pernyataannya.
Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa arahan gubernur menciptakan kondisi yang oleh hukum Oregon secara tegas diakui sebagai potensi keadaan darurat. “Saya percaya arahan Gubernur menciptakan tepat jenis keadaan yang diciptakan manusia yang melibatkan ancaman kerugian finansial luas yang oleh hukum Oregon secara tegas diakui sebagai potensi keadaan darurat,” kata Stockdale.
Proyek Infrastruktur dan Lapangan Kerja Terancam
Proyeksi keuangan kota Umatilla mencakup pendapatan dari pembangunan data center yang direncanakan, dengan sebagian hasilnya diharapkan dapat mendukung perbaikan infrastruktur publik berskala besar. Di antara proyek yang terancam adalah rencana pembangunan kantor polisi baru, serta sejumlah peningkatan infrastruktur air kota senilai beberapa juta dolar.
Stockdale memperingatkan bahwa gangguan terhadap pembayaran yang diharapkan akan memaksa pihaknya mempertimbangkan kembali jadwal perbaikan yang sudah dimasukkan ke dalam rencana keuangan. Ia menjelaskan bahwa deklarasi darurat tersebut bertujuan melindungi rencana investasi masa depan, bukan untuk mengatasi kekurangan dana operasional kota saat ini.
Hingga saat ini, Umatilla menampung empat data center yang telah beroperasi, satu fasilitas dalam tahap konstruksi, dan dua pengembangan tambahan yang menunggu penyelesaian. Industri lokal ini melibatkan Amazon Web Services dan Sabey Data Centers, yang operasinya berkontribusi terhadap sektor infrastruktur digital di kawasan tersebut.
Estimasi pemerintah kota menunjukkan bahwa pembatasan perizinan dapat membahayakan lebih dari US$5 miliar atau sekitar Rp81 triliun investasi swasta prospektif yang terkait dengan pengembangan lokal. Dewan kota juga mengidentifikasi risiko terhadap setidaknya 1.000 lapangan kerja konstruksi, bersama ratusan posisi permanen dan peluang kerja di industri pendukung.
Proyek-proyek yang menunggu persetujuan regulasi berpotensi mengalami penundaan lebih dari dua tahun, sementara beberapa pengembang mungkin akan meninggalkan investasi mereka atau memindahkannya ke tempat lain. Meski demikian, pejabat kota memastikan bahwa layanan kota yang ada dan kewajiban keuangan tetap tidak terpengaruh karena pendapatan yang diperselisihkan belum diterima.
Kronologi Pembatasan di Oregon
Gubernur Tina Kotek menginstruksikan otoritas lingkungan Oregon pada Oktober untuk menangguhkan izin polusi baru bagi data center, yang secara efektif membatasi pengembangan hingga Juli 2027. Sebelumnya, gubernur juga menghentikan transaksi yang melibatkan lahan milik negara yang diperuntukkan bagi fasilitas semacam itu, sehingga pejabat dapat memeriksa potensi konsekuensi jangka panjangnya.
Arahan tersebut menyusul keputusan pada Agustus yang mencegah penjualan lahan seluas 32 acre di Mill Creek Corporate Center Salem untuk pengembangan Verrus. Sejumlah kota juga memberlakukan pembatasan masing-masing, termasuk Hillsboro yang menerapkan penangguhan 120 hari terhadap pengembangan data center baru pada Juli 2026.
Langkah Umatilla ini menambah daftar panjang ketegangan antara pemerintah daerah dan kebijakan pembatasan data center tingkat negara bagian. Sebelumnya, dinamika serupa juga terlihat dalam penolakan data center yang menyoroti pajak senilai Rp7,3 triliun. Selain itu, protes warga di Salem sempat memicu moratorium satu tahun di Oregon.
Kajian yang akan dilakukan Umatilla akan memeriksa potensi konsekuensi terhadap pembiayaan kota, jadwal ketenagakerjaan, dan infrastruktur, sementara para pejabat terus mendorong perubahan pada kebijakan perizinan negara bagian. Deklarasi darurat ini menegaskan bahwa pembatasan data center tidak hanya berdampak pada perusahaan teknologi, tetapi juga pada kemampuan pemerintah daerah merencanakan pembangunan publik.

Bagi Umatilla, keputusan Gubernur Kotek menjadi ujian langsung antara kebijakan lingkungan tingkat negara bagian dan kebutuhan fiskal kota kecil yang telah memasukkan pendapatan data center ke dalam rencana jangka panjangnya. Resolusi darurat yang disetujui dewan kota menjadi dasar hukum bagi kota untuk menuntut peninjauan ulang, sekaligus menandai bahwa dampak kebijakan data center di Oregon kini merambat ke anggaran layanan publik.
[ META_DESCRIPTION ]
Kota Umatilla di Oregon deklarasikan darurat setelah pembatasan data center mengancam pendapatan Rp97 miliar dan investasi Rp81 triliun.





Komentar
Belum ada komentar.