Telset.id – Valve akhirnya angkat bicara mengenai harga Steam Machine yang mencapai USD 1.049 atau sekitar Rp 16,8 juta untuk varian 512GB. Dalam wawancara eksklusif dengan Tom’s Hardware, para engineer Valve membeberkan alasan di balik banderol tersebut serta strategi mereka menghadapi pasar yang penuh tantangan.
Pierre-Loup Griffais, engineer Valve, mengakui bahwa harga ini jauh dari ekspektasi awal saat perangkat dirancang dua tahun lalu. “Desain asli kami tentu didasarkan pada harga memori dan penyimpanan dari dua tahun lalu. Jadi kami berada di segmen yang berbeda dari yang kami harapkan,” ujarnya. Namun, ia menegaskan bahwa harga tersebut mencerminkan kondisi pasar secara keseluruhan.
Griffais menambahkan, jika pengguna mencoba merakit PC dengan kekuatan setara, mereka akan menemukan harga yang kurang lebih sama. Keunggulan Steam Machine justru terletak pada faktor bentuk yang ringkas, tingkat kebisingan yang rendah, integrasi CEC, dan antena Bluetooth khusus untuk dukungan kontroler. “Semua itu tidak bisa Anda dapatkan di PC rakitan biasa,” tegasnya.
Yazan Aldehayyat, engineer Valve lainnya, menekankan bahwa nilai Steam Machine sangat terkait dengan nilai pustaka game Steam pengguna. “Semakin banyak game yang Anda miliki di Steam, semakin berharga Steam Machine bagi Anda,” jelasnya. Perangkat ini dirancang untuk pengguna yang sudah memiliki pustaka game Steam yang besar, bukan untuk konsol tradisional.
Valve juga mengonfirmasi bahwa mereka tidak mensubsidi hardware Steam Machine. “Hardware Valve adalah program yang mandiri; tidak disubsidi oleh penjualan software,” kata Aldehayyat. Meskipun demikian, Valve berusaha menetapkan harga sedekat mungkin dengan biaya produksi.
Baca Juga:
VRAM dan Performa Gaming
Salah satu kekhawatiran utama adalah penggunaan GPU dengan VRAM 8GB. Griffais menjelaskan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan perhitungan matang. “Untuk game yang ingin Anda mainkan dengan level detail tertentu, Anda tidak akan kehabisan VRAM,” klaimnya. Kasus kehabisan VRAM justru terjadi pada game yang terlalu berat untuk sistem seperti ini.
Aldehayyat menambahkan bahwa siklus upgrade PC telah melambat drastis. “Game-game baru saat ini mampu menskalakan generasi CPU dan GPU dengan lebih mulus dibanding dulu,” katanya. Menurutnya, Steam Machine mampu memainkan semua game di Steam saat ini dan memiliki umur pakai yang panjang.
Valve juga telah melakukan banyak pekerjaan pada SteamOS untuk menangani VRAM diskrit. “Kami terus merilis pembaruan untuk meningkatkan penanganan VRAM di bawah tekanan,” ujar Griffais. Hal ini memastikan pengalaman gaming tetap optimal.

Kemampuan 4K dan Resolusi Default
Valve menyebut Steam Machine sebagai perangkat yang mampu 4K, namun Aldehayyat menjelaskan bahwa ini lebih kepada kompatibilitas dengan TV 4K. “Bagi game-game modern, resolusi render 1080p atau 1440p adalah sweet spot,” katanya. Namun, untuk game-game lawas, perangkat ini bisa menjalankan 4K native dengan baik.
SteamOS pada Steam Machine secara default menggunakan resolusi 1080p. Griffais menjelaskan bahwa ini untuk memastikan pengalaman bermain yang aman bagi pengguna yang tidak ingin repot mengatur pengaturan. “Kami ingin membuatnya mudah,” katanya. Pengguna yang ingin bermain di resolusi lebih tinggi tetap bisa mengubahnya secara manual.
Desain Hardware dan Repairability
Steam Machine menggunakan satu heatsink besar dengan kipas 120mm untuk mendinginkan semua komponen utama. Aldehayyat menjelaskan bahwa desain ini memungkinkan alokasi thermal headroom antara CPU dan GPU secara dinamis. “Ini adalah desain paling ringkas yang bisa kami buat,” ujarnya.
Meskipun ringkas, Valve tetap memperhatikan aspek repairability. SSD dapat diakses dengan mudah melalui FPC yang dirancang khusus. Valve akan bekerja sama dengan iFixit untuk menyediakan komponen pengganti, termasuk daughter boards dan port-port.
Namun, akses ke SO-DIMM RAM memang lebih sulit. Aldehayyat mengakui bahwa mereka tidak berhasil menemukan solusi yang memadai karena keterbatasan engineering dan waktu. “Mungkin di masa depan kami bisa menemukan solusi,” katanya.
Dukungan Windows dan Dual Boot
Valve berencana merilis driver Windows untuk Steam Machine, mirip dengan yang dilakukan untuk Steam Deck. Griffais mengatakan bahwa mereka sedang bekerja sama dengan AMD untuk memastikan pengguna bisa mendapatkan driver grafis terbaru.
Untuk dual boot dengan Windows 11, Valve masih dalam tahap pengembangan. “Kami ingin membuat prosesnya lebih mudah di masa depan,” ujar Griffais. Saat ini, metode yang ada masih memerlukan langkah manual seperti mempartisi ulang disk.
Valve juga akan merilis USB install drive SteamOS yang bisa digunakan untuk menginstal sistem operasi pada PC rakitan. Ini memungkinkan pengguna membangun PC gaming SteamOS sendiri.
Sistem Reservasi dan Tantangan Pasokan
Valve memperkenalkan sistem reservasi baru untuk Steam Machine. Griffais menjelaskan bahwa sistem ini dirancang untuk menciptakan lapangan bermain yang adil bagi semua pengguna. “Kami ingin menghindari situasi di mana orang berebutan stok,” katanya.
Kekurangan komponen masih menjadi tantangan besar. Aldehayyat menyebut memori dan penyimpanan sebagai komponen paling sulit didapat. “Bahkan bahan baku PCB seperti FR4 juga mengalami kelangkaan,” ujarnya. Valve terus berusaha mengamankan pasokan tambahan.
https://cdn.mos.cms.futurecdn.net/DCa2UoRteUkXkmJXZFjBde.jpg





Komentar
Belum ada komentar.