Ilustrasi chip Nvidia H200 Hopper yang menjadi pusat perhatian dalam perang chip AS-China

ZTE dan Maginfra Dapat Izin AS Beli Chip Nvidia H200 untuk AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • ZTE dan Maginfra mendapat izin AS untuk beli chip Nvidia H200
  • Bergabung dengan Alibaba, Tencent, ByteDance, dan JD.com yang sudah dapat izin serupa
  • Anak perusahaan Kingsoft Cloud juga dapat izin beli akselerator AMD setara H200
  • Otoritas China masih bisa memblokir impor karena sikap proteksionis
  • China dorong penggunaan chip lokal, Huawei jadi contoh sukses
  • Kebutuhan chip AI China sangat besar, lebih dari 2 juta unit H200 dipesan enam bulan lalu
  • AS terapkan tarif ekspor 25% untuk chip keluarga Hopper
  • Keputusan impor akhir tetap tergantung otoritas China

Telset.id – Perusahaan telekomunikasi asal China, ZTE, bersama dengan perusahaan server Maginfra, baru saja mendapatkan persetujuan dari Amerika Serikat untuk membeli chip Nvidia H200 “Hopper”. Keputusan ini menandai babak baru dalam perang chip antara AS dan China yang terus memanas.

Menurut laporan Reuters yang dikutip oleh Tom’s Hardware, ZTE kini bergabung dengan kelompok eksklusif yang beranggotakan sekitar sepuluh perusahaan China, termasuk Alibaba, Tencent, ByteDance, dan JD.com, yang telah mendapatkan izin serupa dari otoritas AS. Selain itu, sebuah anak perusahaan dari Kingsoft Cloud juga dikabarkan mendapat persetujuan untuk membeli akselerator AMD yang setara dengan Nvidia H200, yang kemungkinan besar adalah chip kelas Instinct MI300X.

Keputusan ini memberikan angin segar bagi ZTE yang selama ini dikenal sebagai salah satu konglomerat telekomunikasi terbesar di China. Perusahaan tersebut tidak hanya memproduksi peralatan jaringan operator yang terpasang di seluruh dunia, tetapi juga menjual berbagai perangkat klien seperti ponsel dan perangkat IoT. Seperti kebanyakan perusahaan teknologi besar lainnya, ZTE kini tengah gencar mendorong ambisinya di bidang komputasi awan dan kecerdasan buatan (AI), yang tentu saja membutuhkan akselerator canggih semacam H200 untuk mewujudkannya.

Nvidia event - servers

Namun, ada satu hambatan besar yang masih menghadang. Reuters mencatat bahwa belum ada kepastian apakah otoritas China akan memberikan lampu hijau bagi ZTE untuk melakukan impor chip tersebut. China sendiri saat ini mengambil sikap proteksionis dalam upaya mengembangkan industri chip dalam negerinya. Pemerintah China telah mendorong perusahaan-perusahaan lokal untuk membeli akselerator buatan dalam negeri, dengan Huawei sebagai salah satu contoh yang telah membuat kemajuan signifikan, baik secara teknologi maupun finansial.

Meskipun ada inisiatif produksi dalam negeri tersebut, kebutuhan China akan silikon AI tetap sangat besar. Enam bulan lalu, Reuters melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan teknologi China telah memesan lebih dari dua juta chip H200, jumlah yang jauh melebihi stok yang dimiliki Nvidia pada saat itu. Kebutuhan ini diperkirakan belum banyak berkurang hingga saat ini.

Status terkini dari situasi perdagangan chip AI adalah bahwa AS mengizinkan perusahaan China untuk membeli chip AI hingga dan termasuk keluarga Hopper (artinya chip Blackwell tidak termasuk), dengan tarif ekspor sebesar 25%. Namun, keputusan akhir tetap dibuat secara kasus per kasus. Di sisi lain, otoritas China sangat tertutup dalam memberikan persetujuan impor, tanpa aturan yang jelas dan pasti.

Meskipun ada pembatasan, China sebagai kekuatan global dengan koneksi perdagangan ke hampir semua negara, perusahaan-perusahaan yang berminat tetap bisa mendapatkan chip Blackwell melalui berbagai cara kreatif, termasuk yang berpotensi melanggar hukum. Apakah perubahan ini benar-benar akan membuka jalan bagi volume besar akselerator H200 untuk masuk ke pusat data ZTE masih harus dilihat.

CNBC mengutip seorang pejabat perdagangan AS yang menyatakan dalam sidang kongres bahwa “sangat sedikit pengiriman yang dilakukan berdasarkan lisensi untuk H200 dan yang setara. Jumlahnya sangat kecil.” Jika pengiriman H200 menjadi material bagi pendapatan Nvidia, kita hampir pasti akan mendengarnya dalam komentar atau laporan keuangan di masa mendatang.

Keputusan AS untuk memberikan izin kepada ZTE ini menunjukkan bahwa meskipun perang chip terus berlangsung, masih ada ruang untuk negosiasi dan pengecualian. Hal ini sejalan dengan upaya kedua negara untuk mencapai keseimbangan antara akses teknologi dan kepentingan perdagangan. Saat ini, kedua belah pihak telah menetapkan kontrol impor dan ekspor masing-masing, dengan memberikan izin kepada perusahaan tertentu secara kasus per kasus.

Bagi ZTE, izin ini merupakan langkah penting untuk memperkuat posisinya di pasar komputasi awan dan AI. Dengan akses ke chip Nvidia H200, perusahaan dapat meningkatkan kemampuan pusat datanya untuk menangani beban kerja AI yang semakin kompleks. Ini juga menjadi sinyal positif bagi perusahaan China lainnya yang mungkin sedang menunggu izin serupa.

Namun, tantangan terbesar tetap ada di tangan otoritas China. Meskipun AS telah memberikan izin ekspor, pemerintah China masih memiliki kewenangan untuk memblokir impor chip tersebut. Sikap proteksionis China yang mendorong penggunaan chip lokal bisa menjadi batu sandungan bagi rencana ZTE untuk mengimpor H200.

Perkembangan ini juga menarik untuk dicermati dari sisi persaingan global. Huawei, sebagai pesaing utama ZTE di pasar telekomunikasi China, telah membuat kemajuan pesat dalam mengembangkan akselerator AI sendiri. Jika ZTE berhasil mengimpor H200, ini bisa memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan tersebut dalam jangka pendek.

Namun, dalam jangka panjang, kebijakan China yang mendorong kemandirian teknologi semikonduktor bisa mengubah lanskap persaingan. Perusahaan-perusahaan China mungkin akan semakin bergantung pada chip buatan dalam negeri, yang meskipun saat ini belum setara dengan produk Nvidia, terus mengalami peningkatan kualitas dari waktu ke waktu.

Di sisi lain, Nvidia juga berada dalam posisi yang rumit. Perusahaan chip asal AS ini harus menyeimbangkan antara kepentingan bisnisnya di pasar China yang besar dengan kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah AS. Penjualan chip H200 ke China, meskipun dengan tarif 25%, tetap memberikan pendapatan yang signifikan bagi Nvidia.

Keputusan AS untuk memberikan izin kepada ZTE dan Maginfra juga menunjukkan bahwa pemerintah AS tidak sepenuhnya menutup pintu bagi perusahaan China. Pendekatan kasus per kasus ini memungkinkan AS untuk tetap mengontrol aliran teknologi sensitif sambil tetap memberikan ruang bagi perusahaan China tertentu yang dianggap tidak menimbulkan ancaman keamanan nasional.

Bagi industri teknologi global, perkembangan ini menjadi indikator penting tentang bagaimana perang chip antara AS dan China akan berlangsung ke depannya. Apakah akan ada lebih banyak perusahaan China yang mendapatkan izin serupa? Atau justru sebaliknya, AS akan semakin memperketat kontrol ekspornya?

Satu hal yang pasti, permintaan China akan chip AI tidak akan surut dalam waktu dekat. Dengan investasi besar-besaran yang dilakukan perusahaan-perusahaan China di bidang AI, kebutuhan akan akselerator canggih akan terus meningkat. Ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi produsen chip global seperti Nvidia dan AMD.

Bagi ZTE, langkah selanjutnya adalah menunggu keputusan dari otoritas China. Jika impor chip H200 disetujui, perusahaan tersebut bisa langsung meningkatkan kapasitas AI-nya. Namun jika tidak, ZTE harus mengandalkan chip buatan dalam negeri atau mencari cara lain untuk mendapatkan akselerator yang dibutuhkan.

Situasi ini juga menjadi pengingat bahwa dalam era perang teknologi, keputusan politik seringkali memiliki dampak yang lebih besar daripada keputusan bisnis. Perusahaan seperti ZTE dan Nvidia harus pandai membaca situasi dan menyesuaikan strategi mereka dengan kebijakan yang berlaku.

Ke depannya, kita mungkin akan melihat lebih banyak manuver dan negosiasi antara AS dan China terkait perdagangan chip. Kedua negara sama-sama memiliki kepentingan yang kuat: AS ingin mempertahankan dominasi teknologinya, sementara China berusaha mengejar ketertinggalan dan mencapai kemandirian di bidang semikonduktor.

Bagi para pengamat industri, perkembangan ini memberikan gambaran yang jelas tentang kompleksitas hubungan teknologi antara dua negara adidaya tersebut. Keputusan AS untuk memberikan izin kepada ZTE membeli chip Nvidia H200 mungkin hanyalah salah satu babak dalam drama panjang perang chip yang masih akan terus berlanjut.

Dengan segala dinamika yang ada, satu hal yang jelas: persaingan di bidang kecerdasan buatan dan semikonduktor akan terus menjadi salah satu isu paling penting dalam hubungan AS-China di tahun-tahun mendatang. Perusahaan-perusahaan yang bisa beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan kebijakan akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan.

Bagi Anda yang tertarik dengan perkembangan teknologi terkini, jangan lewatkan artikel menarik lainnya seperti OpenAI Hapus Fitur ChatGPT yang membahas perubahan fitur penting, atau Fitur Keamanan TikTok yang baru untuk melindungi pengguna di bawah umur.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.