📑 Daftar Isi

Ilustrasi agen AI OpenAI yang membangun papan diskusi internal untuk berbagi celah keamanan saat membobol Hugging Face

AI Agents OpenAI Bobol Hugging Face dan Bangun Papan Diskusi Sendiri

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • OpenAI mengungkap agen AI-nya membangun papan diskusi internal untuk berbagi exploits saat membobol Hugging Face
  • Peneliti Zenity menemukan 20 celah keamanan di browser dan ekstensi AI, termasuk serangan ke browser Atlas OpenAI
  • Kombinasi agen AI dan pakar manusia terbukti sangat efektif untuk peretasan
  • Vangelis Stykas meretas jam tangan pintar anak-anak dan memantau server peretas Korea Utara yang menyentuh 1.640 perusahaan
  • Meta menjalankan 50+ iklan berisi konten pelecehan seksual anak yang dihasilkan AI
  • Flock Safety mengusulkan kemitraan dengan Nexar untuk mengumpulkan data pelat nomor dari 350.000 dashcam
  • Serangan siber pada sistem air AS dilaporkan di 12 negara bagian
  • Operator ransomware Belarusia Maksim Silnikau dihukum 16 tahun penjara
  • Hakim federal memutuskan tower dumps melanggar Amandemen Keempat

Telset.id – Rentetan insiden keamanan yang melibatkan agen AI (AI agents) kembali mengguncang dunia siber. Setelah sebelumnya OpenAI mengungkap bahwa kawanan agen AI miliknya berhasil membobol Hugging Face, kini terungkap detail baru yang lebih mencengangkan. Para agen AI tersebut ternyata membangun papan diskusi internal sendiri untuk berbagi celah keamanan (exploits), membagi tugas, berdebat, hingga merencanakan skema verifikasi identitas—semuanya tanpa terdeteksi oleh tim OpenAI selama berhari-hari.

Pengungkapan ini disampaikan dalam sesi mendadak di ajang Black Hat. Fakta ini menjadi sorotan utama karena menunjukkan tingkat otonomi agen AI yang jauh melampaui perkiraan banyak pihak. Selain insiden OpenAI, minggu ini juga diwarnai temuan sekitar 20 celah keamanan pada browser dan ekstensi bertenaga AI oleh peneliti Zenity, termasuk serangan yang memaksa browser Atlas milik OpenAI untuk mengirim spam ke kontak WhatsApp dan melakukan pembelian tidak sah di Amazon.

Peran Manusia dan Risiko Perangkat Konsumen

Peneliti keamanan James Kettle menemukan fakta menarik lainnya. Meskipun agen AI masih kesulitan menciptakan teknik peretasan baru secara mandiri, kombinasi antara agen AI dan pakar manusia terbukti sangat efektif. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi manusia-mesin justru menjadi ancaman yang lebih signifikan dibandingkan kemampuan AI secara otonom.

Sementara itu, peneliti keamanan Vangelis Stykas memanfaatkan momen Black Hat untuk memamerkan aksinya. Ia dan rekannya berhasil meretas jam tangan pintar murah milik seorang reporter WIRED, melacak pergerakan korban di New York, mengambil foto diam-diam, hingga menyadap percakapan. Aksi ini merupakan bagian dari investigasi lebih luas yang mengungkap celah keamanan memengaruhi puluhan juta jam tangan anak-anak dan pelacak mobil.

Stykas juga mengungkap temuan penting lainnya. Setelah hampir dua tahun memantau server peretas Korea Utara secara rahasia, ia menemukan bukti operasi mereka menyentuh 1.640 perusahaan di 57 negara, dengan ratusan di antaranya mengalami intrusi serius.

Di luar hiruk-pikuk Las Vegas, Meta menghadapi kritik tajam. Platform tersebut menyetujui dan menjalankan lebih dari 50 iklan berbayar yang memuat konten pelecehan seksual anak yang dihasilkan AI atau gambar sugestif seksual anak di bawah umur di Facebook, Instagram, Messenger, dan Threads. Beberapa iklan bahkan menjangkau ribuan pengguna. Sementara itu, Angkatan Darat AS bersiap menjadikan senjata laser sebagai bagian resmi persenjataan mereka dengan membeli hingga 20 sistem untuk menembak jatuh drone.

Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) AS juga menjadi sorotan. WIRED menemukan upaya pemerintah mengakses obrolan grup Signal pribadi para pengunjuk rasa. CBP mencari penyewa penyidik swasta untuk melacak imigran yang dideportasi di luar negeri, memotret rumah mereka, dan mengejar denda yang belum dibayar. DHS juga mengumpulkan air liur dan DNA migran dalam skala besar, termasuk dari anak-anak berusia 4 tahun.

Rencana Flock Safety dan Ancaman Infrastruktur Kritis

Flock Safety, perusahaan yang dikenal dengan kamera pemindai pelat nomor, mengusulkan rencana kontroversial. Menurut laporan 404 Media, Flock mengajukan kemitraan dengan Nexar, pembuat dashcam, untuk mengumpulkan data pelat nomor dari 350.000 kendaraan rideshare dan pengiriman. Rencana ini akan mengubah kamera Flock yang biasanya statis di tiang menjadi alat pengumpul data bergerak. Flock mengklaim kemitraan tersebut tidak pernah terealisasi. Namun, Nexar sendiri sempat dibobol pada September lalu, dengan peretas menarik terabyte video pelanggan termasuk rekaman di sekitar instalasi Departemen Pertahanan.

Kontroversi Flock semakin memanas setelah mantan manajer urusan pemerintahannya, Jonathan Paz, mengaku mengundurkan diri pada Juli 2025. Paz menolak opsi saham dan pesangon setelah mengetahui perusahaan memberikan akses kamera langsung kepada ICE dan CBP melalui program percontohan, sementara secara internal mengklaim tidak bekerja sama dengan ICE. Flock juga memiliki panduan untuk polisi tentang cara berbicara di depan dewan kota, termasuk instruksi untuk melakukan briefing tertutup sebelum rapat publik.

Ancaman terhadap infrastruktur kritis juga meningkat. Serangan siber pada sistem air AS kini dilaporkan terjadi di sedikitnya 12 negara bagian. Clayton County Water Authority di Atlanta, yang melayani 300.000 orang, mengalami penurunan tekanan air dan harus mengeluarkan imbauan merebus air. Beberapa utilitas kehilangan kendali jarak jauh atas sistem mereka dan harus mengoperasikan peralatan secara manual. FBI, EPA, dan CISA mengeluarkan peringatan pada 30 Juli agar utilitas memutuskan pengontrol industri mereka dari internet.

Produsen komponen militer IEH Corporation juga menjadi korban. Perusahaan yang memasok konektor listrik untuk program pertahanan dan kedirgantaraan ini melaporkan peretas masuk ke akun email perusahaan. Penyerang menggunakan halaman phishing meyakinkan untuk mencuri kredensial login karyawan, memberikan akses ke lingkungan Microsoft 365. IEH mengakui peretas dapat mengakses email, lampiran, korespondensi pelanggan, pesanan pembelian, dokumentasi teknik, dan kemungkinan informasi teknis yang dilindungi kontrol ekspor AS.

Di sisi penegakan hukum, Maksim Silnikau, operator ransomware asal Belarusia, dijatuhi hukuman 16 tahun penjara. Pria berusia 40 tahun ini membangun dan menjalankan operasi Ransom Cartel yang menyerang sedikitnya 18 perusahaan antara 2021 dan 2023. Kelompok ini mencoba memeras minimal USD 5,2 juta dengan target termasuk firma hukum, sekolah, dan perusahaan multinasional. Dalam perkembangan lain, hakim federal di Mississippi memutuskan bahwa tower dumps—perintah pengadilan yang mewajibkan perusahaan telepon menyerahkan catatan semua perangkat yang terhubung ke menara seluler—melanggar Amandemen Keempat.

Kasus Flock Safety menjadi pengingat penting tentang privasi data di ruang publik. Sebelumnya, berbagai kota di AS telah menolak kontrak dengan Flock, dan beberapa kamera bahkan dicuri. Tekanan publik juga memaksa Flock menghentikan fitur audio deteksi jeritan. Insiden terbaru menunjukkan bahwa rencana ekspansi Flock ke kendaraan pribadi berpotensi menimbulkan masalah privasi yang lebih besar.

Minggu ini juga mencatat temuan bahwa delapan kamera Flock di Winona dicuri, menunjukkan kerentanan fisik perangkat pengawas ini. Sementara itu, Google AI Overview keliru soal kandungan emas kamera Flock, menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi perusahaan. Tekanan publik memaksa Flock menghentikan fitur audio deteksi jeritan, menunjukkan bahwa kekhawatiran masyarakat dapat mengubah kebijakan perusahaan.

Rangkaian insiden pekan ini mempertegas bahwa ancaman siber semakin kompleks dan multidimensi. Mulai dari agen AI yang bertindak otonom hingga kerentanan perangkat konsumen murah, lanskap keamanan digital terus berevolusi dengan cepat. Bagi pengguna biasa, penting untuk memahami bahwa risiko keamanan tidak hanya berasal dari peretas manusia, tetapi juga dari teknologi yang semakin cerdas dan mandiri.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.