Telset.id – Sebanyak 36,7% pekerja Inggris meyakini bahwa memiliki atasan atau bos AI akan meningkatkan produktivitas mereka. Temuan ini berasal dari riset terbaru Careerminds UK yang melibatkan 600 pekerja penuh waktu di Inggris.
Menariknya, hampir 75% responden yang mendukung bos AI ternyata tetap lebih bahagia bekerja di bawah pengawasan manusia. Riset ini juga mengungkap bahwa 64% direktur mengharapkan peningkatan produktivitas serupa dari penerapan AI di lingkungan kerja mereka.
Preferensi Karyawan terhadap Manajemen AI
Meskipun angka produktivitas terlihat menjanjikan bagi adopsi AI, mayoritas pekerja Inggris masih menginginkan evaluasi kinerja dilakukan secara tatap muka, bukan melalui chatbot. Sebanyak 74,2% responden menilai superior manusia tetap lebih unggul untuk memberikan umpan balik kinerja.
Riset Careerminds UK juga menemukan bahwa pekerja muda cenderung lebih menerima kehadiran lapisan manajemen AI. Survei ini hadir di tengah prediksi struktur organisasi yang semakin datar, terutama yang menyasar posisi manajer tingkat menengah.
Baca Juga:
Hambatan terbesar justru datang dari manajer manusia itu sendiri. Hampir 40% manajer merasa tidak yakin AI mampu memberikan peningkatan produktivitas. Angka 38,5% ini mengindikasikan kekhawatiran para manajer akan digantikan oleh teknologi AI.
Amanda Augustine, pakar karir residen di Careerminds UK dan Certified Professional Career Coach (CPCC), menegaskan bahwa AI memang dapat mengurangi tekanan dengan mengambil alih sebagian tugas manajer. Namun, temuan soal umpan balik kinerja memperjelas bahwa karyawan tetap menghargai penilaian, konteks, dan koneksi manusia.

Harapan Direksi vs Kekhawatiran Manajer
Kesenjangan ekspektasi antara direksi dan manajer menjadi sorotan utama riset ini. Sebanyak 64% direktur ke atas memperkirakan manajer AI akan menghadirkan peningkatan produktivitas, dengan 28% di antaranya mengharapkan peningkatan yang signifikan. Angka ini berbanding terbalik dengan keyakinan para manajer tingkat menengah.
Augustine mengingatkan bahwa perusahaan tidak seharusnya menyamakan potensi peningkatan produktivitas dari AI dengan keinginan karyawan untuk menggantikan manajer mereka sepenuhnya. Manajer tingkat menengah saat ini berada di posisi terjepit antara ekspektasi pemimpin senior dan kebutuhan tim mereka.

Peluang bagi perusahaan adalah memanfaatkan AI untuk membantu manajer menjadi lebih efektif, bukan sekadar menggantikan posisi mereka. Di tengah organisasi yang semakin agresif mengadopsi AI, pemahaman tentang kebutuhan karyawan menjadi faktor penting untuk keberhasilan implementasi.
Augustine menyarankan para pemimpin untuk fokus pada kebutuhan karyawan, terutama mereka yang baru memulai karir. Karyawan baru cenderung lebih memikirkan kebutuhan harian mereka dari seorang manajer, seperti bimbingan, pengembangan diri, kepastian, atau konteks pekerjaan.
Riset ini menjadi pengingat bahwa adopsi AI di tempat kerja tidak bisa hanya berfokus pada efisiensi semata. Keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan sentuhan manusia tetap menjadi kunci keberhasilan transformasi digital di lingkungan profesional.





Komentar
Belum ada komentar.