Telset.id – Rencana perusahaan teknologi besar menjadikan AI agent sebagai asisten belanja ternyata tidak berjalan mulus. Amazon memblokir Meta Muse agar tidak bisa berbelanja di platformnya, sementara JPMorgan Chase menolak akses AI agent pihak ketiga ke rekening nasabah. Kondisi ini membuat janji AI agent yang bisa mencari produk dan memesan layanan secara otomatis jauh dari kenyataan.
Meta, Google, OpenAI, dan sejumlah perusahaan lain sudah memperkenalkan versi alat belanja berbasis AI agent. Demo yang ditampilkan memperlihatkan agen AI mampu memesan penerbangan dan hotel, menelusuri miliaran produk untuk menemukan yang tepat, hingga mengamankan tiket acara olahraga atas nama pengguna. Namun dalam praktiknya, membeli barang menuntut satu syarat yang tidak bisa diabaikan: pihak penjual harus bersedia menerima kehadiran agen tersebut.
Amazon hingga JPMorgan Pasang Blokade
Contoh paling menonjol datang dari Amazon. Raksasa ritel itu menggugat Perplexity karena menilai perusahaan AI tersebut mengabaikan permintaan agar agennya berhenti berbelanja di situs Amazon. Belakangan, Amazon memblokir agen Muse milik Meta dari aktivitas belanja di platformnya. Amazon menegaskan pihaknya telah meminta Meta menghapus Amazon dari Muse. Juru bicara Amazon, Maxine Tagay, menyatakan bahwa aplikasi pihak ketiga yang menawarkan pembelian atas nama pelanggan dari bisnis lain seharusnya beroperasi secara terbuka dan menghormati keputusan penyedia layanan soal keterlibatan mereka.
Blokade tidak hanya terjadi di sektor e-commerce. CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, menyebut banknya tidak akan mengizinkan agen eksternal mengakses rekening karena dinilai “terlalu berisiko” bagi nasabah maupun perusahaan. Sejumlah pengguna juga melaporkan tidak bisa memakai agen untuk memesan perjalanan dari penyedia seperti Delta dan Amtrak. Persoalan ini menjadi sorotan ketika industri mulai membahas Gemini Agents sebagai agen otonom yang diklaim mampu menangani pekerjaan digital.
Selain blokade resmi, AI agent juga kerap tersangkut sistem penangkal bot umum. Artinya, meski sebuah situs tidak menerapkan larangan menyeluruh, firewall yang sudah ada bisa membuat kinerja agen tidak konsisten dan pada akhirnya kurang berguna untuk tugas-tugas yang dipromosikan sebagai masa depan. Juru bicara Target, Loni Monroe, menjelaskan bahwa keberhasilan agen mengakses situs bergantung pada cara agen menjalankan tugas dan perlindungan yang tersedia. Target memiliki kemitraan belanja AI dengan OpenAI, Google, dan Microsoft. Menurut Monroe, agen bisa mengakses satu bagian situs tetapi tidak bagian lain sebagai upaya melindungi data pelanggan dan pengalaman berbelanja. Target juga memiliki perlindungan yang mencegah agen dan bot tidak sah mengakses akun pelanggan serta memulai transaksi atas nama manusia.
Baca Juga:
Ketiadaan opsi Amazon di dalam agen pun sulit diabaikan. Saat diminta mencari harga granola bar per buah terbaik, Muse menawarkan pilihan dari Sam’s Club, Walmart, dan Costco, tetapi mengakui satu catatan besar: Amazon mungkin menyimpan opsi termurah, namun aksesnya diblokir sehingga Muse tidak bisa memastikannya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa agen belanja bisa berjalan dengan informasi yang tidak lengkap.
Amazon sendiri tidak menolak konsep robot yang berbelanja menggantikan manusia. Perusahaan memiliki fitur belanja agentic di platformnya yang memantau harga, memesan ulang barang secara otomatis, dan membeli produk berdasarkan aturan yang ditetapkan pengguna. Fitur lain yang memakai agen untuk membeli produk dari situs lain tanpa meninggalkan Amazon justru memicu kemarahan pelaku usaha kecil. Mereka menilai tidak memberikan persetujuan atas etalase mereka yang di-scrape dan ditampilkan di Amazon.
Di sisi lain, Meta memilih menonjolkan kemitraan dengan peritel dan kendali pengguna atas tindakan agen. Juru bicara Meta, Tracy Clayton, menegaskan bahwa pengguna dapat mengambil alih kapan saja, Muse dirancang selalu meminta izin sebelum membeli, dan menerapkan prinsip penjelajahan etis ketika diminta melakukan hal yang tidak bisa dilakukan manusia, seperti membeli seluruh tiket sebuah acara. Clayton menyebut respons peritel sangat positif dan Meta berharap dapat terus bekerja sama seiring pertumbuhan Muse.
Masalah Baru Saat Agen Benar-Benar Berfungsi
Persoalan menjadi berbeda ketika agen benar-benar bekerja, karena implikasinya bagi manusia. Untuk menguji tugas belanja yang memang ingin diotomatiskan, Muse diarahkan ke The RealReal, peritel fesyen mewah bekas. Seiring popularitas belanja barang bekas yang melonjak, persaingan di The RealReal semakin ketat hingga perusahaan menjual langganan 12 dolar AS per bulan agar pembeli mendapat akses awal ke barang baru. Di The RealReal, sebagian proses belanja bersifat zero-sum: menempatkan barang di keranjang berarti mengunci barang itu selama 20 menit sehingga pembeli lain tidak bisa mengambilnya.
Muse kemudian diinstruksikan menambahkan 10 listing terbaru dari merek favorit ke keranjang sekaligus, efektif menghalangi pembeli lain mendapatkan barang tersebut sebelum sempat ditinjau. Meski tidak ada niat membeli, Muse diminta terus menambahkan ulang barang ke tas belanja setiap kali masa tahan 20 menit berakhir. Proses itu berlangsung sepanjang hari hingga akhirnya dihentikan. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa agen bisa dipakai untuk sistem reservasi personal yang secara teknis diizinkan, sekaligus memunculkan kekhawatiran soal pembeli lain yang mungkin bersaing dengan agen serupa di masa depan.
The RealReal sendiri melihat AI agent sebagai peluang. Chief Technology Officer Luke Friang menyatakan perusahaan tetap terbuka terhadap agen AI pihak ketiga, mengizinkan mereka menjelajah, masuk, dan berinteraksi dengan marketplace, sambil menjaga perlindungan terhadap aktivitas otomatis yang bisa mengganggu pengalaman pelanggan. Sikap ini menegaskan bahwa persoalan bot dan agen bukan sekadar soal akses, tetapi juga soal tata kelola. Isu serupa muncul ketika AI agents bobol situs pemerintah demi data privat, dan ketika Apple memperketat akses macOS buntut risiko agen AI.
Belanja online biasa memang melelahkan karena pilihan yang tak berujung membuat pencarian barang yang tepat terasa seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Agen belanja justru sebaliknya, seperti melihat dunia melalui lubang kecil. Jika lima opsi yang dikurasi Muse tidak sesuai, pengguna harus meminta lima opsi lain, lalu menambahkan parameter dan aturan spesifik sedikit demi sedikit. Tugas yang lebih rutin, seperti mencari harga terendah mutlak untuk produk yang sudah pasti diinginkan, adalah area di mana agen bisa benar-benar berguna. Tanpa Amazon, tugas itu tetap terasa dijalankan dengan informasi yang tidak lengkap.
Jika pengguna punya preferensi atas apa pun yang dibelanjakan, mulai dari harga, kebijakan pengembalian, tarif pengiriman, standar etika perusahaan, hingga komposisi bahan, agen hanyalah entitas lain tempat menyampaikan preferensi tersebut. Dengan waktu dan kesabaran untuk mengarahkan, Muse bisa membantu memperdalam pencarian barang spesifik. Saat diunggah foto gaun vintage yang sedang diburu beserta tahun spesifik, daftar kata kunci, catatan soal barang serupa, dan platform barang bekas sebagai titik awal pencarian, Muse tidak menemukan gaun itu dijual di mana pun. Namun agen tersebut memberi tahu adanya lelang mendatang untuk barang dari merek yang sama.
Di balik semua itu, ada hal yang mengganggu: kegembiraan dan sensasi menemukan sebagian besar hilang. Membeli barang adalah kebiasaan yang dilakukan secara langsung, online, dari orang asing di Facebook, dan dari penjual profesional di livestream. Orang membeli barang yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan, barang yang sudah diketahui diinginkan, serta barang yang belum pernah dilihat sampai tiba-tiba terasa penting. Bagi banyak orang, belanja adalah hobi yang telah menyatu dengan kebiasaan modern menggulir layar ponsel. Perusahaan AI melihat kebiasaan ini sebagai sesuatu yang bisa dioptimalkan, meski banyak orang mungkin lebih memilih agar hal itu tidak terjadi.





Komentar
Belum ada komentar.