Ilustrasi AI Coinbase yang mengalami halusinasi dengan notifikasi skor sepak bola palsu

AI Coinbase Halusinasi Skor Piala Dunia Sebelum Laga Dimulai

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • AI Coinbase mengirim notifikasi breaking news palsu yang mengklaim Norwegia mengalahkan Brasil 3-2 di Piala Dunia, padahal pertandingan belum dimulai
  • CEO Coinbase Brian Armstrong mengakui kesalahan dan berterima kasih kepada pengguna yang melaporkan
  • Kepala produk konsumen Max Branzburg mengklaim telah memperbaiki masalah, namun pernyataannya menuai kritik
  • Insiden ini memicu kekhawatiran tentang bahaya halusinasi AI di sektor keuangan dan pasar prediksi
  • Apple sebelumnya juga mengalami masalah serupa dengan fitur AI yang memberikan notifikasi berita palsu

Telset.id – Platform kripto Coinbase menjadi sorotan tajam setelah sistem AI miliknya mengirimkan notifikasi palsu yang mengklaim tim nasional sepak bola Norwegia berhasil mengalahkan Brasil 3-2 di Piala Dunia, padahal pertandingan tersebut belum dimulai. Insiden ini memicu kekhawatiran publik tentang bahaya halusinasi AI di sektor keuangan dan pasar prediksi.

Kejadian ini pertama kali terungkap ketika pengguna media sosial melihat notifikasi berita terkini (breaking news) dari Coinbase yang secara keliru menyatakan Norwegia telah lolos ke perempat final Piala Dunia FIFA setelah mengalahkan Brasil dengan skor 3-2. Faktanya, pertandingan antara Norwegia dan Brasil saat itu belum dimulai sama sekali. Meskipun Norwegia akhirnya benar-benar mengalahkan Brasil dengan skor akhir 2-1, skor yang dihalusinasikan oleh AI Coinbase tetap saja keliru total.

Kesalahan fatal ini dinilai sangat berbahaya, terutama mengingat Coinbase baru saja menjalin kemitraan dengan aplikasi pasar prediksi (prediction markets) bernama Kalshi. Sebuah notifikasi berita palsu hasil halusinasi AI berpotensi menyebabkan para petaruh mengalami kerugian finansial akibat kepanikan yang dipicu oleh hasil pertandingan Piala Dunia yang sepenuhnya dibuat-buat.

Coinbase bukan satu-satunya perusahaan yang menghadapi masalah ini. Sejak kemunculan alat berbasis model bahasa besar seperti ChatGPT, masalah halusinasi AI—di mana sistem dengan percaya diri menyajikan informasi palsu—sudah menjadi momok yang terus menghantui industri teknologi. Ironisnya, ratusan miliar dolar telah diinvestasikan untuk pengembangan teknologi ini, namun masalah fundamental tersebut belum juga terselesaikan secara tuntas.

Kombinasi antara teknologi AI yang rawan halusinasi dengan semakin populernya pasar prediksi seperti Kalshi dan Polymarket dinilai sebagai campuran berbahaya yang bisa memicu kekacauan di masa depan. Para ahli juga memperingatkan tentang potensi lonjakan kecanduan judi yang bisa diperparah oleh informasi menyesatkan dari AI.

CEO Coinbase, Brian Armstrong, merespons kegaduhan ini melalui media sosial. Dalam cuitannya, ia mengakui adanya masalah tersebut dan berterima kasih kepada pengguna yang melaporkan kesalahan itu. “Sedang ditinjau bersama tim. Terima kasih sudah melaporkannya,” tulis Armstrong menanggapi keluhan yang viral di media sosial.

Beberapa jam kemudian, kepala produk konsumen Coinbase, Max Branzburg, mengklaim bahwa perusahaannya telah memperbaiki masalah tersebut. “Kami telah memperbaiki cerita yang salah dan melakukan beberapa pembaruan untuk menghindari ketidakakuratan semacam ini di masa depan,” ujar Branzburg.

Namun, pernyataan Branzburg justru menuai kritik lebih lanjut. Alih-alih menunjukkan penyesalan yang mendalam, ia justru membanggakan “kekuatan wawasan 24/7 yang didukung AI untuk trading” sambil mengakui bahwa Coinbase “jelas-jelas” masih perlu “menyempurnakannya untuk mengatasi masalah seperti ini.”

Yang lebih mengejutkan, eksekutif tersebut bahkan sempat mengklaim bahwa AI mereka telah melakukan beberapa hal dengan benar. Ia berargumen, “Norwegia memang menang dan [bintang Norwegia Erling] Haaland memang mencetak 2 gol, jadi mungkin AI tahu sesuatu yang tidak kita ketahui!” Argumen ini tentu saja sangat aneh mengingat AI tersebut sepenuhnya salah mengenai hasil pertandingan yang bahkan belum dimulai.

Insiden halusinasi AI Coinbase ini bukanlah kasus pertama dan kemungkinan bukan yang terakhir. Sebelumnya, Apple juga terpaksa menarik fitur AI-nya setelah secara konsisten mengirimkan pemberitahuan berita palsu kepada pengguna iPhone pada Januari tahun lalu. BBC bahkan mengajukan keluhan resmi setelah AI Apple secara keliru memberi tahu pengguna bahwa Luigi Mangione, yang dituduh membunuh CEO UnitedHealthcare Brian Thompson, telah menembak dirinya sendiri. Faktanya, Mangione masih hidup hingga saat ini dan sedang menunggu persidangan federalnya yang baru saja ditunda hingga Januari 2027.

Kasus Coinbase ini menjadi pengingat keras bahwa meskipun teknologi AI telah berkembang pesat, masalah fundamental seperti halusinasi masih menjadi risiko serius, terutama ketika diterapkan di sektor-sektor sensitif seperti keuangan dan pasar prediksi. Perusahaan teknologi besar seperti AS yang gencar membatasi penggunaan AI China oleh perusahaan AS juga menunjukkan betapa seriusnya isu keamanan dan keandalan AI saat ini.

Tim nasional sepak bola Norwegia dijadwalkan akan bertanding melawan Inggris pada Sabtu, 11 Juli, di Miami. Sementara itu, Coinbase harus menghadapi konsekuensi dari kesalahan AI yang memalukan ini, yang tidak hanya merusak kredibilitas perusahaan tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian bagi para penggunanya.

Fenomena PHK massal 2026 yang menimpa 120.000 pekerja teknologi akibat AI menunjukkan bahwa dampak teknologi ini terhadap pasar tenaga kerja dan industri sangatlah nyata dan kompleks.

Ke depannya, industri teknologi dan regulator perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa sistem AI yang digunakan di sektor-sektor kritis memiliki tingkat akurasi dan keandalan yang memadai. Jika tidak, insiden seperti yang dialami Coinbase ini bisa menjadi awal dari rangkaian masalah yang lebih besar, terutama di era di mana informasi dan kecepatan menjadi segalanya.

Kesalahan AI Coinbase dalam memprediksi skor pertandingan yang belum terjadi ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh industri tentang pentingnya pengawasan manusia (human-in-the-loop) dalam setiap sistem AI yang berhubungan dengan data real-time dan keputusan finansial.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.