📑 Daftar Isi

Ilustrasi Apple Watch dengan peringatan AFib, layar pemulihan Whoop, dan radar gejala Oura

AI dan Smartwatch Bisa Deteksi Dini Penyakit, Ini Faktanya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Smartwatch dan AI dapat mendeteksi tanda awal penyakit seperti AFib dengan akurasi 84 persen
  • Fitur yang andal secara klinis terbatas pada detak jantung, pola tidur dasar, dan langkah
  • Metrik seperti tekanan darah, kalori, dan tahapan tidur belum cukup akurat untuk keputusan medis
  • Kombinasi data sensor bisa mendeteksi infeksi pernapasan dalam hitungan jam
  • AI membantu analisis data tetapi tidak bisa menggantikan konsultasi dokter

Telset.id – Smartwatch dan perangkat wearable kini tidak hanya sekadar pelacak langkah atau detak jantung. Dengan dukungan kecerdasan buatan (AI), perangkat ini mulai mampu mendeteksi tanda-tanda awal penyakit, seperti infeksi saluran pernapasan, bahkan sebelum gejala muncul. Namun, seberapa andal teknologi ini?

Kemampuan smartwatch untuk memantau berbagai metrik tubuh seperti suhu kulit, laju pernapasan, oksigen darah, dan variabilitas detak jantung telah membuka peluang baru dalam deteksi dini penyakit. Berdasarkan laporan dari Engadget pada 4 Juli 2026, perangkat seperti Apple Watch, Oura Ring, dan Whoop band kini dapat mendeteksi perubahan fisiologis yang menandakan tubuh sedang melawan infeksi.

Yang paling penting untuk dipahami adalah bahwa smartwatch tidak bisa mendiagnosis penyakit secara mandiri. Fungsinya lebih sebagai pemberi peringatan awal yang mendorong pengguna untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Salah satu fitur yang sudah terbukti secara klinis adalah deteksi atrial fibrilasi (AFib), yaitu gangguan irama jantung yang meningkatkan risiko stroke. Dalam sebuah studi, Apple Watch mampu mengonfirmasi AFib dengan akurasi 84 persen.

“Fitur-fitur yang berguna secara klinis adalah pengecualian, bukan aturan,” tulis laporan tersebut. Artinya, tidak semua metrik dari smartwatch bisa diandalkan untuk pengambilan keputusan medis.

Fitur yang Bekerja dan yang Tidak

Para dokter yang diwawancarai oleh The New York Times menyebutkan bahwa pola tidur dasar (bukan tahapan tidur) dan jumlah langkah adalah metrik yang cukup andal. Namun, peringatan tekanan darah, estimasi kalori, dan pelacakan tahapan tidur dianggap belum cukup akurat untuk ditindaklanjuti secara medis.

Skor kebugaran harian dari Oura (Readiness) dan Whoop (Recovery) juga menggunakan algoritma kepemilikan yang sulit diinterpretasikan oleh klinisi. Sementara itu, VO2 max dan variabilitas detak jantung hanya memberikan perkiraan kasar tentang kebugaran dan pemulihan.

“Perangkat saat ini cukup baik dalam melihat masalah. Mereka tidak begitu hebat dalam memberi tahu Anda secara pasti apa masalah itu atau apa yang menyebabkannya,” jelas laporan tersebut.

Meskipun begitu, kombinasi data dari berbagai sensor bisa memberikan gambaran yang lebih jelas. Misalnya, perubahan suhu kulit, detak jantung istirahat, dan pola pernapasan yang menyimpang dari baseline bisa menjadi indikasi awal infeksi.

Peran AI dalam Analisis Kesehatan Wearable

Perkembangan AI generatif, seperti Google Gemini yang digunakan dalam fitur Health Coach, memungkinkan perangkat wearable untuk tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga menganalisisnya dan memberikan saran yang dapat ditindaklanjuti. Perusahaan seperti Google, Oura, dan Whoop telah memperkenalkan asisten AI dalam aplikasi mereka.

Fitur seperti Oura Symptom Radar dan Apple Vitals menggabungkan informasi dari berbagai sensor dan membandingkannya dengan data baseline pengguna. Ini memungkinkan deteksi dini infeksi saluran pernapasan, seperti COVID-19 dan influenza, dalam hitungan jam setelah infeksi terjadi.

Sebuah studi dari Texas A&M dan Stanford menemukan bahwa smartwatch dapat mendeteksi perubahan fisiologis akibat infeksi pernapasan sebelum gejala muncul. Para peneliti memperkirakan bahwa mendorong orang untuk isolasi mandiri dan mencari pengobatan lebih awal dapat mengurangi penularan pandemi hingga 50 persen.

Namun, ada risiko yang perlu diwaspadai. AI yang memberikan saran kesehatan bisa mendorong pengguna untuk menggantikan konsultasi dokter dengan saran dari chatbot. Meskipun sistem AI saat ini menyertakan peringatan untuk tetap berkonsultasi dengan dokter, risiko tersebut tetap ada.

“Tidak ada yang bisa menggantikan pemeriksaan kesehatan fisik secara teratur dengan dokter dan profesional medis,” tegas laporan Engadget.

Masa depan kesehatan wearable kemungkinan bukanlah smartwatch yang bisa mendiagnosis penyakit seperti Tricorder di Star Trek. Sebaliknya, perangkat ini akan terus memantau pola, memberikan peringatan saat ada yang tidak beres, dan memberikan informasi berguna untuk didiskusikan dengan dokter.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.