📑 Daftar Isi

Ilustrasi AI menciptakan AI yang lebih canggih dengan latar belakang futuristik

AI Mulai Ciptakan AI Lebih Canggih, Tanda Superintelligence?

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • CEO SoftBank Masayoshi Son ungkap model AI OpenAI saat ini dirancang oleh AI lain
  • Fenomena ini disebut sebagai tanda awal menuju kecerdasan super (superintelligence)
  • OpenAI mengakui GPT-5.3-Codex adalah model pertama yang berperan dalam menciptakan dirinya sendiri
  • Son merevisi prediksi ASI dari 10 tahun menjadi hanya 2 tahun ke depan
  • Anthropic peringatkan risiko hilangnya kendali manusia atas sistem AI yang mampu mengembangkan diri sendiri

Telset.id – Model AI milik OpenAI selanjutnya tidak lagi dirancang oleh insinyur manusia, melainkan oleh model AI lainnya. CEO SoftBank, Masayoshi Son, mengungkapkan fakta ini dan menyebutnya sebagai pertanda bahwa kecerdasan buatan mulai mencapai kecerdasan super (superintelligence).

Son memimpin SoftBank, salah satu investor teknologi terbesar dan pemegang saham utama OpenAI. Dalam wawancara dengan CNBC yang dikutip detikINET, Son mengaku telah berdiskusi dengan CEO OpenAI, Sam Altman, serta para insinyur perusahaan. Mereka menyampaikan bahwa sebuah model AI saat ini sedang merancang model untuk masa depan.

“Hal itu juga akan terjadi pada semua model besar lainnya,” ujar Son. Ia menambahkan bahwa ke depannya, insinyur manusia tidak akan lagi cukup cerdas untuk merancang model generasi berikutnya.

“Begitu hal tersebut terjadi, model AI akan menciptakan model AI berikutnya dan model tersebut akan menjadi jauh lebih cerdas secara eksponensial dibandingkan kita semua. Itulah yang disebut kecerdasan super,” jelas Son.

GPT-5.3-Codex: Model yang Menciptakan Dirinya Sendiri

Juru bicara OpenAI menolak berkomentar soal model yang belum dirilis, namun menekankan beberapa area di mana perusahaan memanfaatkan AI dalam proses pengembangan modelnya. Pada Februari lalu, OpenAI menyatakan bahwa GPT-5.3-Codex merupakan model pertamanya yang berperan penting dalam menciptakan dirinya sendiri.

Fenomena ini semakin memperkuat kekhawatiran tentang risiko hilangnya kendali manusia. Seperti yang pernah dibahas dalam artikel Alien Seram, perkembangan teknologi seringkali membawa dampak yang tak terduga.

Pernyataan Son ini merupakan bagian dari diskursus mengenai “kecerdasan super buatan” (Artificial Superintelligence / ASI). Pada tahun 2024, ia mendeskripsikan ASI sebagai AI yang 10.000 kali lipat lebih cerdas daripada manusia. Saat itu, Son memprediksi bahwa ASI akan hadir dalam 10 tahun ke depan.

Namun kini ia mengaku bahwa saat menetapkan rentang waktu tersebut, ia hanya berusaha bersikap konservatif agar orang tidak terkejut. “Di benak saya, saya sebenarnya berpikir itu akan terjadi dalam empat tahun, bukan 10 tahun. Kini, saya berani mengatakan era tersebut akan tiba dalam dua tahun ke depan,” ungkap Son.

ChatGPT Sudah Lebih Pintar dari Manusia

Sang CEO SoftBank juga menyebutkan bahwa saat ini ia menggunakan ChatGPT dari OpenAI selama dua hingga tiga jam setiap harinya. Menurutnya, AI tersebut sudah lebih pintar darinya dalam hampir semua topik bahasan.

Dalam beberapa tahun ke depan, AI akan menjadi lebih cerdas daripada manusia di sekitar 70% hingga 80% bidang ilmu. Di bidang-bidang di mana AI melampaui kecerdasan manusia, AI mungkin akan 10 kali lebih pintar daripada manusia rata-rata.

Di sisi lain, bahaya mengenai sistem AI yang semakin canggih menjadi sorotan usai Anthropic merilis artikel blog. Artikel tersebut membahas tentang sistem AI yang mampu merancang dan mengembangkan penerusnya sendiri secara sepenuhnya otonom.

Meskipun Anthropic menyatakan bahwa tren ini akan membawa dampak positif, mereka juga memperingatkan bahwa peningkatan diri yang seutuhnya dapat meningkatkan risiko hilangnya kendali manusia atas sistem AI. Perusahaan pengembang chatbot AI Claude tersebut berpendapat bahwa upaya terkoordinasi di antara laboratorium-laboratorium AI untuk memperlambat laju pengembangan teknologi ini kemungkinan besar akan menjadi suatu langkah yang baik.

Fenomena ini mengingatkan kita pada kisah-kisah COD Mobile Season 9 yang mengangkat tema horor, di mana teknologi yang tak terkendali menjadi ancaman. Namun, dalam konteks ini, ancamannya nyata dan bukan sekadar fiksi.

Pernyataan Son dan temuan Anthropic menunjukkan bahwa transisi menuju ASI mungkin terjadi lebih cepat dari perkiraan banyak pihak. Jika model AI benar-benar bisa menciptakan model yang lebih canggih secara mandiri, maka percepatan perkembangan teknologi akan bersifat eksponensial.

Pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah ASI akan terwujud, melainkan seberapa cepat hal itu akan terjadi dan bagaimana manusia bisa mempertahankan kendali. Para ahli dan pengembang AI di seluruh dunia kini tengah berdebat mengenai langkah-langkah pengamanan yang perlu diambil sebelum teknologi ini lepas kendali sepenuhnya.

Fakta bahwa model AI sudah mulai merancang model AI lainnya menandai titik balik dalam sejarah teknologi. Ini bukan lagi sekadar prediksi futuristik, melainkan realitas yang sedang berlangsung di laboratorium-laboratorium AI terkemuka dunia.

Seperti halnya karakter Lady Dimitrescu yang menyeramkan namun tetap memikat, perkembangan AI ini juga memiliki dua sisi: potensi manfaat luar biasa dan risiko yang tak kalah besarnya.

Keputusan mengenai bagaimana mengelola transisi menuju era ASI akan menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia dalam waktu dekat. Apakah kita akan mampu mengendalikan apa yang telah kita ciptakan, atau justru akan menjadi saksi bisu lahirnya entitas yang melampaui kecerdasan kita?

Waktu akan menjawabnya, namun satu hal yang pasti: era di mana AI mulai menciptakan AI yang lebih canggih telah tiba, dan dampaknya akan terasa di seluruh aspek kehidupan manusia.

Komentar

Belum ada komentar.