Ilustrasi otak AI keluar dari layar laptop sebagai simbol pemangkasan program studi di universitas China

AI Pangkas 12.200 Prodi di Universitas China, Seni hingga Bahasa Kena

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Universitas China menutup atau menghentikan 12.200 program sarjana dan membuka sekitar 10.200 program baru pada 2021-2025
  • Restrukturisasi memengaruhi lebih dari 30% program sarjana, dengan jurusan seni, humaniora, dan bahasa paling terdampak
  • Central Academy of Fine Arts menghentikan jurusan ilustrasi, fotografi, dan penerjemahan karena dinilai tidak lagi memberi nilai uang sepadan
  • Survei 70 universitas menemukan pemangkasan lima jurusan penerjemahan, delapan jurusan bahasa Jepang, dan lima jurusan bahasa Jerman
  • Peran baru seperti prompt engineer dan AI animator muncul di bidang film dan animasi

Telset.id – Universitas-universitas di China memangkas sejumlah program studi tradisional karena menilai kehadiran AI membuat kompetensi lulusan bidang tersebut kehilangan nilai jual di pasar kerja. Central Academy of Fine Arts (CAFA) menjadi salah satu kampus yang menghentikan program studi ilustrasi, fotografi, dan penerjemahan dengan alasan AI membuat jurusan-jurusan itu tidak lagi memberi nilai uang yang sepadan. Pemangkasan juga menyasar gelar desain fesyen, seiring penilaian kampus bahwa masa depan bidang kreatif kini bertumpu pada kerja sama erat antara manusia dan mesin.

Langkah ini menyusul kampanye negara yang mengarahkan pembelajar ke bidang chip, robotika, dan AI, industri yang dianggap otoritas sebagai sektor vital bagi prospek nasional China. Data restrukturisasi memperlihatkan skala perubahan yang besar: dari 2021 hingga 2025, universitas di China menutup atau menghentikan 12.200 program sarjana dan membuka sekitar 10.200 program baru. Restrukturisasi tersebut memengaruhi lebih dari 30% program sarjana di seluruh negeri, dengan jurusan seni, humaniora, dan bahasa menyerap pemangkasan paling berat.

Survei terhadap 70 universitas menemukan pemangkasan pada lima jurusan penerjemahan, delapan jurusan bahasa Jepang, dan lima jurusan bahasa Jerman di antara program-program bahasa. Communication University of China dilaporkan menutup lima program, di antaranya desain komunikasi visual, komik, dan fotografi. Pejabat tertinggi Communication University of China, Liao Xiangzhong, menyatakan jurusan fotografi tradisional tidak bisa lagi berdiri sebagai disiplin independen karena kini semua orang dapat menjadi kreator dan perekam media mandiri.

Liao kemudian menjelaskan bahwa jurusan-jurusan tersebut digabungkan ke disiplin lain, bukan dihapus sepenuhnya, dengan fotografi diserap oleh film dan televisi. Alex Shi, yang memulai karier kreatifnya lewat gelar yang melatihnya menerjemahkan dan menafsirkan bahasa Inggris, menilai jurusan semacam itu bisa segera hilang. Menurutnya, pemangkasan mengabaikan keterampilan yang mendasari penerjemahan, termasuk komunikasi dan berpikir kritis, yang melampaui kemampuan menghasilkan teks yang akurat.

Shi mengakui AI dapat membawa akurasi penerjemahan hampir mencapai kesempurnaan, namun ia menegaskan bahwa penafsiran menuntut jauh lebih banyak daripada sekadar mengonversi kata antar bahasa. Ia menyebut masih ada gaya personal yang selalu esensial dalam penerjemahan. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pemangkasan tidak hanya soal akurasi teknis, tetapi juga soal keterampilan yang sulit diukur mesin.

Classroom with students at a desk looking at a teacher

Di sisi lain, AI justru membuka peran baru di bidang film dan animasi. Peran seperti prompt engineer dan AI animator mulai muncul, dan AI disebut menciptakan peluang baru di tengah penutupan program. Seorang pekerja industri menyebut mendesain karakter atau adegan dahulu membutuhkan waktu satu bulan, tetapi dengan AI sebuah proyek lengkap kini dapat diselesaikan dalam waktu yang sama. Sejumlah sekolah juga meluncurkan program gelar di bidang intelligent imaging art, intelligent audiovisual engineering, serta intelligent engineering and creative design.

Universitas turut membuka kursus hibrida yang menempatkan pengajaran seni berdampingan dengan pelatihan AI, sementara sejumlah gelar mandiri dihapus di seluruh sektor. Pergeseran itu mengubah ekspektasi pemberi kerja terhadap lulusan yang masuk ke bidang penerjemahan, desain, fotografi, dan produksi film. Bagi mahasiswa, kualifikasi tradisional dinilai semakin membutuhkan keterampilan teknis agar dapat bekerja bersama sistem kreatif otomatis. Hasilnya adalah sistem universitas di mana sebagian gelar yang akrab menghilang dan program berbasis AI menggantikannya.

Perubahan ini juga memberi gambaran tentang arah industri kreatif China yang menempatkan AI sebagai bagian dari proses produksi, bukan sekadar alat bantu. Ketika kampus menutup jurusan dan membuka program baru dalam periode yang sama, lulusan menghadapi pasar kerja yang menuntut kombinasi kemampuan artistik dan teknis. Bagi siapa pun yang mengikuti perkembangan teknologi, pergeseran di meja kampus ini menjadi penanda bahwa adopsi AI di sektor kreatif berjalan lebih cepat dari yang mungkin diperkirakan.

Sebagai perbandingan, perubahan kebijakan produk teknologi juga berlangsung dinamis, seperti terlihat pada fitur khusus perempuan yang tengah diuji Tinder. Di sisi perangkat, pembaruan juga terus bergulir, misalnya fitur baru Tinder yang meniru Boomerang Instagram. Sementara di pasar gadget, Tecno Spark Go 3 hadir dengan layar 120Hz dan kamera 13MP.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.