📑 Daftar Isi

Ilustrasi pekerja menggunakan AI untuk upskilling dan pengembangan keterampilan karier

AI untuk Upskilling: 53% Pekerja Manfaatkan untuk Kembangkan Skill

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • 53% pekerja menggunakan AI untuk membangun keterampilan baru menurut University of Phoenix
  • 81% pekerja memakai AI untuk mengidentifikasi cara baru menerapkan keterampilan yang sudah dimiliki
  • 50% pekerja merasa lebih percaya diri beralih ke peran baru dengan bantuan AI
  • Bantuan menulis jadi penggunaan AI paling umum (57%), disusul analisis data (50%), pelatihan (38%), dan pembuatan konten (37%)
  • AI fluency bukan keterampilan terpisah, melainkan lapisan yang melekat pada setiap profesi
  • Ahli menyarankan AI untuk eksplorasi karier, tetapi keterampilan manusia seperti berpikir kritis tetap harus dilatih secara langsung
  • 73% pekerja mengatakan AI menutup kesenjangan pengetahuan dan mengurangi kebutuhan pelatihan tambahan

Telset.id – Sebanyak 53% pekerja kini memanfaatkan AI untuk membangun keterampilan baru, menurut data terbaru dari University of Phoenix. Temuan ini menunjukkan peran kecerdasan buatan yang semakin signifikan dalam proses pengembangan karier, terutama bagi mereka yang ingin beradaptasi dengan tuntutan pasar kerja yang terus berubah.

Survei yang dirilis University of Phoenix melalui Career Optimism Index® mengungkapkan bahwa 81% pekerja menggunakan AI untuk mengidentifikasi cara baru menerapkan keterampilan yang sudah mereka miliki untuk pertumbuhan karier di masa depan. Selain itu, 50% responden menyatakan AI membuat mereka lebih percaya diri untuk beralih ke peran baru ketika waktunya tepat.

John Woods, Ph.D., Provost dan Chief Academic Officer di University of Phoenix, menjelaskan bahwa AI dapat membantu seseorang menutup kesenjangan pengetahuan, melatih hal baru, atau menyadari bahwa keterampilan yang sudah digunakan dalam satu konteks dapat dialihkan ke konteks lain. Menurutnya, kesiapan karier secara luas mencakup tiga area utama: keterampilan teknis yang dibutuhkan di bidang masing-masing, keterampilan manusia yang tahan lama seperti berpikir kritis, penilaian, dan kolaborasi, serta semakin pentingnya kecakapan AI untuk menggabungkan semuanya.

john woods university of phoenix

Data menunjukkan bahwa dari 58% pekerja yang menggunakan atau berencana menggunakan AI di tempat kerja, bantuan menulis menjadi alasan paling umum dengan persentase 57%. Disusul analisis data dan riset sebesar 50%, pelatihan dan pengembangan di posisi ketiga dengan 38%, serta pembuatan gambar dan konten yang mencapai 37%.

AI sebagai Keterampilan Karier yang Melekat

Woods menegaskan bahwa kecakapan AI tidak boleh diperlakukan sebagai keterampilan yang berdiri sendiri. Ia mencontohkan bahwa cara menggunakan AI di bidang akuntansi berbeda dengan penggunaannya di bidang kesehatan, pendidikan, atau teknologi. Nilai sebenarnya terletak pada pemahaman pekerja terhadap pekerjaannya sehingga mereka tahu apa yang harus diminta dari AI, bagaimana mengevaluasi hasilnya, dan kapan penilaian manusia harus mengambil alih.

Urgensi ini juga tercermin dalam indeks tersebut: setengah dari pekerja belajar AI secara mandiri, sementara 60% lainnya menginginkan lebih banyak panduan dalam mempelajari alat AI. Woods menyarankan agar AI dipelajari dalam konteks pekerjaan yang relevan, bukan sebagai keterampilan terpisah.

Meski AI menawarkan banyak manfaat, Woods memperingatkan adanya bahaya rasa percaya diri yang keliru. “Kepercayaan diri itu berharga, tetapi kepercayaan diri saja bukan bukti kesiapan,” ujarnya. Ia merekomendasikan tes sederhana: dapatkah Anda mendemonstrasikan keterampilan tanpa sekadar meminta AI mengerjakan tugas untuk Anda? Dapatkah Anda menjelaskan alasan Anda? Dapatkah Anda mengevaluasi apakah jawaban yang dihasilkan AI sudah benar?

Pekerja sebaiknya membandingkan apa yang mereka yakini mampu mereka lakukan dengan persyaratan pekerjaan nyata dan mencari bukti berupa hasil kerja, penilaian, kredensial, umpan balik dari orang berpengalaman, serta kinerja yang telah didemonstrasikan. AI dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan dan mempersiapkan diri, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya penentu kesiapan seseorang.

Keterampilan yang Tidak Boleh Diserahkan ke AI

Woods mengingatkan agar pekerja tidak menyerahkan keterampilan manusia yang tahan lama kepada AI. Berpikir kritis, penilaian, kerja tim, komunikasi, dan pengambilan keputusan etis berkembang melalui latihan, umpan balik, dan pengalaman bersama orang lain. AI memang dapat membantu melatih percakapan sulit atau memperkenalkan cara berpikir berbeda, tetapi itu berbeda dengan memimpin tim melalui situasi sulit atau membuat keputusan konsekuensial.

upskilling

Hal yang sama berlaku untuk keterampilan khusus di mana praktik, penilaian, atau standar profesional sangat penting. AI bisa menjadi mitra belajar yang berguna, tetapi tidak menghilangkan nilai dari dosen berpengalaman, mentor, rekan kerja, atau penerapan langsung. Dalam banyak kasus, elemen-elemen inilah yang mengubah pengetahuan menjadi kemampuan nyata.

AI unggul dalam membantu orang mengeksplorasi dengan cepat. Pekerja dapat mendeskripsikan pengalaman mereka, menanyakan peran apa saja yang berdekatan yang mungkin menggunakan keterampilan tersebut, mengidentifikasi kesenjangan antara posisi saat ini dan tujuan yang diinginkan, berlatih wawancara, atau mendapatkan penjelasan lain tentang hal yang belum dipahami.

Namun, AI tidak pandai mengenal seseorang dalam konteks penuh kehidupannya atau membuat keputusan karier konsekuensial. AI tidak menggantikan penilaian, pengalaman hidup, bimbingan, atau akuntabilitas. Peran terbaiknya adalah memperluas kemungkinan yang dapat dilihat seseorang dan membantu mempersiapkan diri, lalu membiarkan penilaian manusia menentukan apa yang dilakukan dengan kemungkinan tersebut.

upskilling

Temuan menarik lainnya dari riset ini: 73% pekerja mengatakan penggunaan AI di tempat kerja membantu menutup kesenjangan pengetahuan dan mengurangi kebutuhan pendidikan atau pelatihan tambahan. Sementara itu, 79% menyatakan AI meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam mengambil tugas atau tanggung jawab di luar peran mereka saat ini.

Proses penemuan jalur karier baru biasanya dimulai dengan pertanyaan sederhana seperti, “Inilah hal-hal yang saya lakukan dengan baik hari ini. Di mana lagi keterampilan ini bernilai?” AI dapat membantu menerjemahkan pengalaman menjadi kosakata keterampilan, memunculkan pekerjaan yang berdekatan, dan mengidentifikasi keterampilan tambahan yang mungkin dibutuhkan. Namun, penemuan ini hanyalah awal proses, bukan akhir. Pekerja harus memvalidasi kemungkinan tersebut terhadap deskripsi pekerjaan nyata, berbicara dengan orang-orang di bidang terkait, dan menentukan pendidikan, pengalaman, atau kredensial yang benar-benar mereka butuhkan.

Woods memberikan satu nasihat utama: gunakan AI untuk memperluas kemampuan, bukan menggantikannya. Orang yang akan berada di posisi terbaik menghadapi perubahan bukanlah mereka yang paling banyak mengenal alat AI, melainkan mereka yang memahami bidangnya, terus membangun keterampilan relevan, dan tahu cara menggunakan AI secara bijaksana untuk melakukan lebih banyak hal dengan pengetahuan yang mereka miliki.

Ia juga mendorong pekerja untuk tidak menunggu orang lain menciptakan jalan tersebut. Setengah dari pekerja dalam indeks mereka sudah belajar AI secara mandiri. Mulailah bereksperimen dengan AI dalam konteks pekerjaan yang benar-benar dilakukan setiap hari, tanyakan di mana AI dapat membuat Anda lebih baik, di mana Anda perlu membangun pengetahuan tambahan, dan di mana penilaian manusia Anda memberikan nilai paling besar.

Kombinasi antara pembelajaran berkelanjutan, kecakapan AI, dan keterampilan manusia yang kuat adalah fondasi terbaik bagi pekerja untuk menghadapi perubahan apa pun yang akan datang. Temuan ini relevan bagi siapa saja yang ingin memanfaatkan teknologi untuk pengembangan karier, termasuk tren AI yang terus berkembang di berbagai sektor industri.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.