Ilustrasi chip AI dengan latar bendera China dan AS melambangkan persaingan teknologi

AS Gencar Batasi Penggunaan AI China oleh Perusahaan AS

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pemerintah AS meningkatkan tekanan terhadap penggunaan AI China oleh perusahaan domestik karena kekhawatiran keamanan dan ideologi.
  • Coinbase, Lindy, AirBnB, dan Uber adalah contoh perusahaan AS yang mengadopsi AI China untuk menekan biaya.
  • Faktor pemicu lain adalah ketidakstabilan hubungan dengan penyedia AI domestik AS dan penangguhan model Anthropic.
  • AS menghadapi kesulitan untuk melarang model open source dan mengatur operasi perusahaan di luar negeri.
  • China juga membatasi penggunaan AI buatan dalam negeri di luar negeri dan menuduh Anthropic memiliki backdoor.

Telset.id – Pemerintah Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan terhadap adopsi model kecerdasan buatan (AI) buatan China di kalangan perusahaan domestik. Langkah ini dipicu oleh kekhawatiran serius terkait keamanan dan kepatuhan terhadap nilai-nilai ideologis yang dinilai bertentangan dengan kebijakan Washington.

Laporan terbaru dari CNBC mengutip pernyataan seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS yang tidak disebutkan namanya. Sang juru bicara menegaskan bahwa penggunaan model AI China oleh perusahaan AS menimbulkan “kekhawatiran serius.” Ia menambahkan, AI buatan China dirancang untuk “memajukan narasi Beijing, menyensor perbedaan pendapat, dan mencerminkan ideologi serta nilai-nilai Partai Komunis China (PKC).”

Meskipun ada peringatan keras dari pemerintah, sejumlah perusahaan teknologi AS justru semakin masif mengadopsi AI dari China. Faktor utama yang mendorong keputusan ini adalah biaya yang lebih rendah dengan kualitas yang sebanding. Fenomena ini menimbulkan dilema antara efisiensi operasional dan risiko regulasi di masa depan.

Salah satu contoh paling menonjol adalah Coinbase. CEO Brian Armstrong secara terbuka mengungkapkan bahwa perusahaannya menggunakan dua model AI buatan China: GLM 5.2 buatan Z.Ai dan Kimi 2.7 buatan Moonshot. Langkah ini menunjukkan bahwa bahkan perusahaan publik besar pun tidak segan beralih ke penyedia AI alternatif untuk menekan biaya.

Tak hanya Coinbase, startup Lindy juga dikabarkan telah beralih ke DeepSeek untuk membantu menekan biaya operasional yang membengkak. Laporan CNBC edisi Juni lalu menyoroti keputusan Lindy sebagai bagian dari tren penghematan yang lebih luas di industri teknologi.

Faktor lain yang mempercepat adopsi AI China adalah ketidakstabilan hubungan antara perusahaan AS dengan pemerintah dan penyedia AI domestik. Beberapa hari lalu, Nikkei Asia melaporkan lonjakan perusahaan AS, termasuk AirBnB dan Uber, yang bergegas mengadopsi model AI China. Lonjakan ini berkorelasi dengan penangguhan penggunaan dua model AI buatan Anthropic, yaitu Mythos 5 dan Claude Fable 5, atas permintaan pemerintah AS.

Ketidakjelasan mengenai apakah AS dapat secara langsung memberlakukan larangan menyeluruh terhadap pilihan model AI di pasar menjadi isu krusial. Pemerintah AS mungkin hanya bisa mengubah aturan pengadaan internalnya sendiri. Lebih rumit lagi, pembatasan terhadap model open source berpotensi menimbulkan masalah Amandemen Pertama yang signifikan.

Selain itu, akan sangat sulit bagi AS untuk memaksa perusahaan mengubah operasi mereka di wilayah luar negeri. Contoh nyata adalah Apple yang menggunakan platform AI generatif milik Alibaba untuk iPhone yang dijual di China. Hal ini menunjukkan kompleksitas rantai pasok teknologi global yang tidak bisa diatur secara sepihak.

Ketegangan antara AS dan China dalam hal penggunaan model AI masing-masing semakin nyata. Reuters melaporkan bahwa otoritas China telah melakukan pembicaraan serupa dengan perusahaan domestik untuk mencegah penggunaan AI buatan China di luar negeri. Langkah ini menunjukkan bahwa persaingan teknologi bukan hanya soal inovasi, tetapi juga kontrol dan pengaruh geopolitik.

Dalam perkembangan terbaru, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China mengumumkan bahwa Claude Code milik Anthropic mengandung backdoor yang diklaim sebagai “ancaman serius.” Tuduhan ini semakin memperkeruh hubungan dan membuka babak baru dalam perang teknologi antara dua negara adidaya.

Bagi perusahaan yang bergantung pada Chip Buatan Sendiri atau infrastruktur AI lainnya, ketidakpastian ini bisa berdampak besar pada strategi pengembangan produk. Ketegangan regulasi juga berpotensi memicu PHK Massal TikTok di berbagai lini jika kebijakan proteksionisme semakin diperketat.

Kesimpulannya, pemerintah AS menghadapi tantangan besar dalam membatasi penggunaan AI China oleh perusahaan domestik. Di satu sisi, ada kekhawatiran keamanan dan ideologi. Di sisi lain, pasar menuntut solusi yang terjangkau dan berkualitas. Keputusan akhir akan sangat mempengaruhi peta persaingan AI global dalam beberapa tahun ke depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.