📑 Daftar Isi

Logo Manus di layar ponsel

Beijing Paksa Meta Batal Akuisisi Manus, Tencent Ambil Alih

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Beijing memerintahkan Meta membatalkan akuisisi Manus senilai USD 2 miliar
  • Tencent dan investor China lainnya mengambil alih pembelian kembali startup AI
  • Keputusan ini menunjukkan sikap protektif China terhadap aset AI strategis
  • Meta tidak bisa menggunakan kekayaan intelektual atau mempekerjakan karyawan Manus
  • Tencent percaya Manus akan menjadi aset berharga dengan pendapatan tahunan USD 500 juta
  • Persaingan AI antara AS dan China semakin memanas dengan kebijakan protektif

Telset.id – Pemerintah Beijing secara mengejutkan memerintahkan Meta untuk membatalkan akuisisi terhadap startup AI China, Manus, senilai USD 2 miliar. Langkah tegas ini diambil karena kekhawatiran Beijing terhadap perlindungan aset strategis kecerdasan buatan di tengah persaingan sengit dengan Amerika Serikat.

Alih-alih menguasai Manus, Meta kini harus melepas startup tersebut. Tencent, raksasa teknologi China yang merupakan salah satu investor awal Manus, mengambil peran utama untuk membeli kembali startup itu dengan harga yang sama. Keputusan ini menandai sikap protektif Beijing yang semakin kuat terhadap perusahaan AI dalam negeri yang dianggap sebagai aset strategis.

Menurut laporan Financial Times, investor awal lainnya seperti ZhenFund dan HongShan Capital Group, perusahaan modal ventura berbasis di China, juga akan bergabung dalam konsorsium pembelian kembali. Sementara itu, investor AS seperti Benchmark dipastikan tidak akan berpartisipasi.

Alasan di Balik Pembatalan Akuisisi

Keputusan Beijing ini mencerminkan meningkatnya proteksionisme terhadap teknologi AI. Dalam rencana lima tahun pemerintah China, fokus utama adalah pada kemandirian teknologi. Kekhawatiran semakin memuncak setelah para pejabat China menyebut akuisisi Meta terhadap Manus sebagai “upaya konspiratif untuk menggerogoti basis teknologi China.”

Langkah ini juga dipicu oleh agresivitas raksasa teknologi AS yang menginvestasikan miliaran dolar untuk mengembangkan model AI mereka. Bahkan, salah satu pendiri AI mengklaim bahwa Meta sempat menawarkan bonus sebesar USD 1,25 miliar untuk merekrut para ahli AI. China berusaha keras mencegah para ahlinya tergiur bekerja untuk perusahaan AI Amerika.

Perintah pembatalan ini berarti Meta tidak dapat menggunakan kekayaan intelektual Manus, serta tidak bisa mempekerjakan pendiri dan karyawan startup tersebut. Meski demikian, Meta telah memiliki waktu beberapa bulan untuk mempelajari model dan keahlian teknik Manus.

Dampak pada Meta dan Manus

Meta telah setuju untuk membatalkan kesepakatan tersebut. Sebagian besar operasional Manus dilaporkan masih berjalan independen dari perusahaan induknya. Namun, startup China itu tetap harus memutuskan hubungan finansial dengan Meta dengan cara membayar kembali USD 2 miliar yang telah dikeluarkan.

Meskipun perusahaan China juga gencar berinvestasi di teknologi AI, mengumpulkan modal sebesar itu dalam waktu singkat bukanlah perkara mudah. Di sinilah peran Tencent menjadi krusial. Tencent, yang memiliki platform WeChat yang digunakan oleh 1,4 miliar penduduk China untuk berbagai layanan, percaya bahwa Manus akan menjadi aset berharga bagi perusahaan.

Pendapatan tahunan Manus yang mencapai USD 500 juta dan agen AI-nya dinilai akan selaras dengan fokus AI Tencent yang semakin meningkat. Presiden Tencent, Martin Lau, dalam panggilan pendapatan bulan Mei menyatakan, “Di luar model dasar, semakin jelas bahwa AI agen mewakili kasus penggunaan terobosan. Platform kami secara inheren memiliki banyak manfaat untuk menjadi tuan rumah agen AI.”

Tencent sebelumnya juga telah aktif mengembangkan berbagai inisiatif AI, termasuk Lab AI untuk Film bersama Beijing Film Academy. Langkah ini menunjukkan komitmen serius Tencent dalam menguasai teknologi AI, tidak hanya untuk aplikasi bisnis tetapi juga untuk industri kreatif.

Keputusan Beijing ini menjadi sinyal kuat bahwa China tidak akan tinggal diam dalam persaingan teknologi global. Perlindungan terhadap aset AI dalam negeri menjadi prioritas utama, bahkan jika harus berbenturan dengan kepentingan bisnis perusahaan multinasional. Bagi Meta, ini adalah pengingat bahwa ekspansi di pasar teknologi China kini menghadapi hambatan regulasi yang semakin ketat.

Bagi industri teknologi secara global, kasus ini menunjukkan bahwa persaingan AI antara AS dan China telah memasuki babak baru. Negara-negara kini semakin protektif terhadap perusahaan dan talenta AI mereka, yang berpotensi mengubah lanskap investasi dan akuisisi di masa depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.