Telset.id – Keputusan pemerintah Amerika Serikat memberlakukan kontrol ekspor pada model AI frontier milik Anthropic, Mythos 5 dan Fable 5, memicu kekhawatiran global dan dianggap sebagai “wake-up call” bagi negara-negara lain. Langkah ini dinilai sebagai bukti bahwa akses terhadap teknologi AI paling canggih kini menjadi “critical infrastructure” yang tidak bisa lagi dianggap remeh.
Para pemimpin dunia dari Inggris, Kanada, Prancis, dan Belanda menyuarakan keprihatinan mereka. Banyak yang tidak secara langsung menyalahkan Amerika, tetapi menegaskan bahwa jika pemerintah mana pun dapat memblokir akses ke teknologi AI terkini secara sewenang-wenang, maka keamanan nasional mereka mengharuskan pencarian solusi alternatif. Konsekuensinya, hal ini berarti membangun upaya AI nasional sendiri, memecah belah industri, dan mengurangi ketergantungan pada perusahaan AS seperti OpenAI, Google, dan Anthropic.
Meskipun Reuters melaporkan bahwa para pimpinan perusahaan teknologi AS seperti Nvidia dan Adobe telah berdiskusi dengan pemerintahan Trump dengan harapan memulihkan akses ke Fable 5 dan Mythos 5, kerusakan tampaknya sudah terjadi. Argumen mereka bahwa larangan tersebut menghambat upaya pertahanan keamanan siber tampaknya tidak cukup untuk mengembalikan kepercayaan yang telah hilang.
Kronologi Pemblokiran Model AI Anthropic
Anthropic memperkenalkan model AI yang berfokus pada keamanan siber, Mythos, pada bulan April. Perusahaan mengklaim model ini terlalu berbahaya untuk diberikan akses luas, namun tetap melibatkan beberapa perusahaan dan organisasi terpilih di bawah Project Glasswing untuk meningkatkan keamanan kode mereka. Mythos terbukti sangat baik dalam menemukan celah pada codebase lama.
Pada awal Juni, Anthropic memperluas akses Mythos ke 150 organisasi global. Beberapa hari kemudian, perusahaan merilis Fable 5, model AI setara Mythos tetapi dengan perlindungan tambahan untuk mencegah penyalahgunaan di bidang keamanan siber. Namun, pemerintah AS dengan cepat bertindak dan mematikannya, dengan klaim bahwa model tersebut telah di-jailbreak dan terlalu berbahaya. Pada 12 Juni, model tersebut resmi offline dan tidak dapat diakses.

Penutupan akses ke Fable dan Mythos tidak hanya mengganggu alur kerja programmer. Lebih dari itu, langkah ini menghentikan proyek-proyek pemerintah dan swasta di seluruh dunia. Banyak pihak yang sebelumnya menganggap akses model tersebut hampir terjamin, dengan asumsi pasar bebas akan selalu menyediakan akses ke teknologi terbaik. Kini, paradigma itu telah berubah total.
Anggota Parlemen Eropa dari Prancis, Christophe Grudler, dalam sebuah pernyataan menegaskan, “Amerika Serikat sekali lagi menunjukkan apa yang telah kami, kaum Liberal dan Demokrat, peringatkan sejak Trump menjabat; bahwa AS memiliki ‘kill-switch’ nyata atas teknologi esensial dan mereka lebih dari bersedia menggunakannya.”
Reaksi Pemimpin Global dan Dampak Fragmentasi
Kekhawatiran atas kendali AS yang terlalu besar terhadap akses model AI frontier juga memicu seruan bagi Eropa untuk mengembangkan alternatifnya sendiri. Anggota Parlemen Eropa dari Belanda, Bart Groothuis, menyatakan, “Pembatasan ini adalah contoh jelas dari mentalitas ‘tidak ada orang lain selain kami’ ala Amerika. Sekali lagi: ini menunjukkan bahwa Eropa perlu memiliki LLM dan model open weight sendiri atau menghadapi penjajahan digital.”
Tidak semua pemimpin mengkritik Amerika dengan tajam. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, melalui APNews menyatakan, “Tidak ada yang melakukan kesalahan dalam situasi ini. Namun, kita akan melakukan kesalahan jika hanya menerima ini, tidak mengambil pelajaran, tidak membangun dan melakukan diversifikasi.”
Sementara itu, mantan Menteri Angkatan Bersenjata Inggris dan anggota Parlemen dari Partai Buruh, Al Carns, menekankan pentingnya Inggris mengembangkan alat AI mutakhirnya sendiri. Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron justru mendorong upaya AI bersama antara Prancis dan India. Berbicara di sebuah acara di Nice, Macron mengatakan, “Kedua negara kita memiliki definisi yang sama tentang AI yang andal, terbuka, dan aman, yang dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan etis.”
Di sektor swasta, perusahaan-perusahaan AS pun bergegas mencari alternatif. Alex Stamos, CSO di Corridor, mengatakan kepada The Verge bahwa perusahaan-perusahaan bergegas menandatangani kontrak cadangan dengan perusahaan non-AS yang memiliki model open weight agar proyek mereka tetap berjalan tanpa hambatan.

Dampak Jangka Panjang: Dari AI hingga Pencarian
Keputusan pemerintah AS memutus akses ke model frontier Anthropic terjadi dengan cepat, dan konsekuensi dari hilangnya kepercayaan ini kemungkinan akan berlangsung selama bertahun-tahun, atau bahkan puluhan tahun. Dampaknya tidak hanya terbatas pada chip dan model AI.
Mengutip kasus pencabutan akses model Anthropic, Prancis telah mengumumkan peralihan dari penggunaan perusahaan analitik data AS, Palantir, ke alternatif domestik. Prancis juga mentransisikan departemen pemerintahnya untuk menjauh dari aplikasi pesan berbasis AS seperti WhatsApp, beralih ke alternatif nasional. Wired juga menyoroti sejumlah contoh pemerintah dan organisasi Uni Eropa yang beralih dari perusahaan teknologi AS, termasuk mengganti mesin pencari default dari Google ke Qwant, beralih ke perangkat lunak perkantoran open-source yang dikembangkan di UE, dan meninggalkan Amazon AWS serta layanan cloud AS lainnya.
Penutupan Fable 5 ini kemungkinan akan mempercepat upaya-upaya tersebut, karena keandalan akses kembali dipertanyakan. Namun, melepaskan diri dari ketergantungan pada Amerika bukanlah perkara mudah, bahkan mungkin tidak sepenuhnya dapat dicapai dalam jangka panjang. Ekonomi global masih terlalu terintegrasi untuk itu. Meski demikian, keinginan dan dorongan untuk melakukannya sudah ada.
Untuk industri-industri kunci yang berdampak pada keamanan nasional—dan AI bersama fabrikasi chip menjadi pilar yang jelas di bidang itu—alternatif nasional tampaknya menjadi suatu keharusan bagi negara-negara dengan militer dan ekonomi besar. Apakah ini akan menciptakan dunia AI multi-polar, atau justru memperkuat keunggulan yang dimiliki negara-negara seperti AS dan China, masih harus dilihat.
Krisis ini menunjukkan bahwa era di mana akses ke teknologi terbaru dianggap sebagai hak, bukan lagi sebuah kepastian. Kepercayaan global terhadap dominasi teknologi AS telah retak, dan dunia kini bergerak menuju lanskap yang lebih terfragmentasi.

Keputusan untuk memblokir akses model AI ini juga menjadi pengingat bahwa di era digital, ketergantungan pada satu negara atau satu perusahaan untuk critical infrastructure adalah sebuah risiko strategis. Negara-negara kini berlomba untuk membangun kedaulatan digital mereka sendiri, sebuah tren yang akan membentuk kembali industri teknologi global selama dekade mendatang.
Bagi perusahaan seperti Apple yang melakukan akuisisi terhadap startup potensial, situasi ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya memiliki kendali atas rantai pasokan teknologi inti. Fragmentasi pasar AI ini pada akhirnya akan menciptakan ekosistem yang lebih beragam, namun juga lebih kompleks dan mahal.





Komentar
Belum ada komentar.