Telset.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi meminta maaf setelah mengunggah gambar lambang negara Garuda Pancasila hasil buatan AI yang tidak sesuai pakem. Kesalahan fatal terjadi pada detail jumlah helai bulu yang memiliki makna mendalam bagi kemerdekaan Indonesia.
Dalam unggahan di akun media sosial X @brin_indonesia, BRIN menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya atas kesalahan dalam tayangan konten peringatan Hari Lahir Pancasila. Insiden ini menjadi sorotan netizen karena ketidakpresisian detail kecil yang sarat filosofi.
“Hal ini menjadi pelajaran bagi kami untuk lebih teliti, cermat, dan berhati-hati dalam proses pembuatan serta penyebaran konten di masa mendatang,” tulis BRIN dalam pernyataannya. Sebagai bentuk tanggung jawab, konten tersebut telah diperbaiki dan menjadi bahan evaluasi internal.
Pakem Jumlah Helai Bulu Garuda Pancasila
Menurut data dari Badan Pengembangan Ideologi Pancasila (BPIP), jumlah helai bulu pada Garuda Pancasila telah diatur secara spesifik untuk merangkai makna waktu kemerdekaan Indonesia. Berikut rinciannya:
- Bulu pada sayap kiri dan kanan masing-masing berjumlah 17 helai, melambangkan tanggal 17
- Bulu pada ekor berjumlah delapan helai, menunjukkan bulan ke-8 atau Agustus
- Bulu kecil pada ekor berjumlah 19 helai
- Bulu kecil pada leher berjumlah 45 helai, melambangkan tahun 1945
Rangkaian bulu ini secara keseluruhan bermakna 17 Agustus 1945, hari kemerdekaan bangsa Indonesia dari kolonialisme. Kesalahan pada detail ini menjadi sorotan utama dalam konten AI yang diunggah BRIN.
Baca Juga:
Makna Perisai dan Warna Garuda Pancasila
Selain jumlah bulu, perisai di dada burung garuda juga memiliki makna penting. Perisai ini terbagi menjadi lima bagian yang melambangkan sila-sila Pancasila:
- Sila pertama (Ketuhanan yang Maha Esa): dilambangkan sebagai bintang
- Sila kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): dilambangkan sebagai rantai emas
- Sila ketiga (Persatuan Indonesia): dilambangkan dengan pohon beringin
- Sila keempat (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Pemusyawaratan Perwakilan): dilambangkan Kepala Banteng
- Sila kelima (Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia): dilambangkan dengan padi dan kapas
BPIP juga menjelaskan detail kecil lainnya seperti cengkeraman kaki burung garuda. Kaki ini mencengkeram pita putih bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Warna burung garuda yang emas memiliki makna tersendiri, yakni melambangkan keagungan bangsa Indonesia yang senantiasa menjunjung tinggi martabat bangsa yang bersifat agung dan luhur.
Kesalahan dalam penggambaran ulang menggunakan AI ini menjadi pengingat bagi semua pihak untuk lebih teliti dalam memproduksi konten yang berkaitan dengan simbol negara. BRIN pun berkomitmen untuk meningkatkan ketelitian di masa mendatang.





Komentar
Belum ada komentar.