Telset.id – Bayangkan seorang ibu tunggal berusia 58 tahun yang menjadi pengemudi ojek online di Hanoi. Atau penjual bubur ayam di Semarang. Di tengah deru revolusi kecerdasan buatan yang mengubah segalanya, apakah mereka akan tertinggal? Pertanyaan retoris itu menjadi jantung dari pidato Anthony Tan, Group CEO dan Co-founder Grab, dalam acara puncak GrabX 2026 di Jakarta. Jawabannya, menurut Tan, tidak boleh. Dan Grab hadir dengan senjata baru: asisten AI untuk pengemudi bernama “Coach” dan robot fisik bernama Carri, sebagai jembatan agar gelombang AI benar-benar inklusif.
Dalam sambutannya yang dibacakan di hadapan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri UMKM Maman Abdurrahman, Anthony Tan tidak sekadar memamerkan teknologi mutakhir. Ia menyampaikan sebuah manifesto tentang demokratisasi AI. Filosofi “AI-First with Heart” yang diperkenalkan tahun lalu kini menemukan bentuknya yang lebih nyata dan ambisius. Jika tahun lalu Grab memperkenalkan “MAI” (Merchant AI Assistant) untuk pedagang, tahun ini giliran mitra pengemudi yang mendapat pendamping digital. “Saya menyebutnya ‘Coach’, karena memang itulah perannya,” ujar Tan. Asisten ini, dikembangkan bersama OpenAI, sudah digunakan lebih dari 500.000 pengemudi dan dirancang untuk membantu meningkatkan penghasilan serta menyelesaikan tugas administratif, sehingga pengemudi bisa fokus pada jalanan.
Namun, pengenalan “Coach” hanyalah permulaan. Anthony Tan dengan lugas menyoroti kegelisahan yang melanda banyak pihak: dunia di mana manusia yang tidak memanfaatkan AI sangat mungkin akan tertinggal. Ini bukan lagi skenario distopia, melainkan realitas yang harus dihadapi hari ini. Di sinilah Grab memposisikan diri bukan sekadar perusahaan teknologi, tetapi sebagai penyedia solusi yang memangkas kesenjangan. “Kami percaya bahwa setiap orang — terlepas dari kemampuan teknis yang dimilikinya — harus memiliki kesempatan untuk ikut dalam gelombang AI ini, bukan justru tersingkir karenanya,” tegasnya. Komitmen ini diwujudkan dengan menanggung seluruh biaya penggunaan AI untuk mitra. Teknologi canggih, bagi Grab, tidak seharusnya menjadi kemewahan.
Intelligence Layer: Otak di Balik Layar yang Keluar ke Dunia Nyata
Fondasi dari semua inovasi ini adalah apa yang disebut Grab sebagai “Intelligence Layer”. Ini adalah infrastruktur AI canggih yang diumpankan oleh data real-time dari jutaan transaksi harian di Asia Tenggara. Layer inilah yang memungkinkan Grab memantau perjalanan, mendeteksi potensi insiden keselamatan, memberikan fasilitas kredit yang bertanggung jawab, dan mengoptimalkan penggabungan pesanan. Kecerdasan ini kemudian dihadirkan dengan antarmuka yang sederhana, sehingga tidak terasa seperti menggunakan teknologi rumit. “Bukan sekadar ‘kecerdasan buatan’, melainkan ‘pendamping cerdas’,” jelas Tan.
Langkah berikutnya, yang mungkin paling visioner, adalah membawa Intelligence Layer ini keluar dari cloud dan masuk ke dunia fisik. Anthony Tan mengumumkan pergerakan Grab ke ranah perangkat keras, mulai dari kendaraan otonom, kamera CCTV cerdas, hingga robot. “Kami menjawab kendala tersebut dengan menghadirkan ‘tangan dan mata’ bagi perangkat lunak kami sebagai solusi,” ujarnya. Robot yang bernama Carri didesain bukan untuk menggantikan pengemudi, melainkan sebagai pelengkap. Misalnya, untuk mengambil pesanan dari restoran di dalam mal yang besar dan menyerahkannya ke pengemudi yang menunggu di luar, sehingga menghemat hingga 10% waktu produktif pengemudi yang biasa hilang untuk mencari lokasi. Pendekatan ini menunjukkan pemahaman bahwa masalah di dunia nyata seringkali membutuhkan solusi fisik, bukan hanya digital.
Baca Juga:
Transformasi ini juga mengubah wajah Grab sebagai superapp. Anthony Tan menyatakan bahwa Grab tidak lagi sekadar memfasilitasi transaksi dari titik A ke B, tetapi sedang berevolusi menjadi “Intelligent, Everyday Guide” bagi pengguna. Fitur-fitur baru yang dibangun di atas Intelligence Layer, seperti Group Ride yang lebih cerdas atau peta konsumen yang dipersonalisasi, bertujuan membuat keseharian lebih praktis. Ini adalah sinyal kuat bahwa persaingan di ekosistem digital Asia Tenggara akan semakin berfokus pada kedalaman insight dan personalisasi, bukan hanya jangkauan layanan.
Dalam perjalanannya, Grab juga berkolaborasi dengan laboratorium AI terkemuka global. Anthony Tan berharap kontribusi mereka dapat membantu model-model AI seperti GPT, Claude, Gemini, dan Kimi bekerja lebih optimal untuk konteks dan kebutuhan unik Asia Tenggara. Ini adalah strategi cerdas: alih-alih hanya memanfaatkan teknologi impor, Grab berusaha membentuknya agar relevan dengan pasar lokal. Komitmen pada inklusivitas juga berarti memastikan terobosan teknologi menjawab kebutuhan “mayoritas yang sering tidak terlihat”, di mana dampaknya bisa paling besar.
Pidato Anthony Tan menutup dengan pesan yang menggugah: “Jangan hanya menyaksikan dunia berubah. Mari kita bersama-sama mendorong perubahan itu ke arah yang lebih baik.” Pernyataan ini bukan sekadar penutup retoris, tetapi ringkasan dari visi yang diusung. Dalam era di mana keamanan data menjadi harga mati dan etika teknologi terus dipertanyakan, pendekatan Grab yang berpusat pada manusia dan inklusi patut dicermati. Mereka tidak hanya membangun teknologi, tetapi juga berusaha membingkai narasi tentang untuk siapa teknologi itu hadir. Seperti halnya dalam kasus pembatasan spoiler yang melindungi pengalaman pengguna atau kompleksitas hukum dalam kasus pengakuan terdakwa, Grab tampaknya menyadari bahwa keberhasilan teknologi ditentukan oleh bagaimana ia berinteraksi dengan realitas manusia yang berlapis. Revolusi AI masih panjang ceritanya, dan dengan langkah di GrabX 2026, Anthony Tan menegaskan bahwa Grab ingin menuliskan salah satu bab pentingnya dengan tinta yang inklusif.




