📑 Daftar Isi

Ilustrasi pria memakai topeng robot sebagai representasi ChatTJB yang dijawab manusia

ChatTJB: Chatbot Palsu yang Dijawab Manusia di San Francisco

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • ChatTJB adalah layanan chatbot di San Francisco yang dijawab manual oleh Tucker Bryant, bukan AI
  • Proyek ini terinspirasi studi University of Pennsylvania tentang "cognitive surrender"
  • Bryant membayar USD 6.000 per bulan untuk billboard yang lokasinya tidak strategis
  • Setelah viral, ChatTJB menerima ribuan pertanyaan per hari
  • Bryant menerima lebih dari 1000 pesan dari calon relawan moderator
  • Rencana mengubah ChatTJB menjadi proyek komunitas dengan moderasi ketat
  • Tier "Pro" tersedia tanpa mempercepat respons

Telset.id – Sebuah billboard di San Francisco mempromosikan layanan AI bernama ChatTJB pada 27 Juli. Namun, layanan yang tampak seperti chatbot canggih itu ternyata dijawab secara manual oleh satu orang manusia bernama Tucker Bryant, bukan oleh kecerdasan buatan.

Bryant, lulusan Stanford dan mantan karyawan Google yang kini bekerja sebagai seniman dan pembicara, mengaku terinspirasi membuat ChatTJB setelah pasangannya memperkenalkan istilah “cognitive surrender” atau penyerahan kognitif. Istilah ini muncul dalam studi University of Pennsylvania yang menemukan bahwa pengguna AI cenderung mempercayai saran chatbot secara membabi buta, bahkan ketika respons yang diberikan salah.

A photo illustration of a man wearing a robot mask.

Proyek ini sengaja dirancang sebagai satire untuk mengembalikan ketidaknyamanan dan ketidakpastian ke dalam pengalaman seperti chatbot. Bryant menjelaskan bahwa banyak pengguna terlalu mudah mempercayai output dari large language model (LLM) sehingga berhenti menggunakan kreativitas dan pemikiran kritis mereka sendiri.

“Seiring waktu, hal itu melemahkan kemampuan kita untuk menjadi manusia yang berfungsi penuh dan berdaulat di dunia,” kata Bryant kepada Futurism. Ia ingin menciptakan pengalaman yang terlihat seperti LLM yang sangat dipercaya, tetapi justru memberikan pengalaman yang biasa-biasa saja atau bahkan buruk.

Respons Tak Terduga dan Biaya Billboard

Awalnya, ChatTJB hanya menarik “tetesan lambat” pertanyaan masuk. Lokasi billboard tersebut memang tidak strategis karena terhalang pepohonan dan hampir tidak ada lalu lintas yang bisa melihatnya. Bryant mengaku membayar sekitar USD 6.000 atau Rp 96 juta per bulan untuk billboard tersebut, belum termasuk biaya lainnya.

Namun, ketika foto billboard mulai menyebar di internet, Bryant kewalahan menerima permintaan. “Beberapa hari pertama, saya mungkin menerima beberapa lusin pertanyaan per hari. Beberapa hari kemudian, jumlahnya mulai melonjak menjadi ratusan hingga ribuan,” tuturnya. Setelah membuat video Instagram yang mempromosikan ChatTJB, ia menerima sekitar seribu pertanyaan per hari dan menjawab semuanya sendiri.

Meskipun banyak pengguna ChatTJB adalah troll, yang menurut Bryant “masuk akal” karena proyek ini memang semacam troll, banyak pertanyaan lain justru menyentuh. Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika seseorang bertanya tentang malam pertama bulan madunya yang tidak terasa rileks.

“Saya beralih dari mode santai menjadi mode teman yang mendukung,” kata Bryant. Ia mengakui bahwa momen tersebut membuatnya sadar bahwa proyek ini bukan sekadar lelucon bagi sebagian orang.

Rencana Komunitas dan Moderasi

Bryant kini menerima lebih dari seribu pesan dari “individu rata-rata” yang ingin membantu memoderasi platform dan menjawab pertanyaan pengguna. Ia sedang menguji ide untuk mengubah ChatTJB menjadi proyek komunitas, tetapi dengan sangat hati-hati.

“Saya akan bergerak perlahan. Ini awalnya hanya proyek seni. Saya tidak ingin orang terluka, jadi saya lebih memilih orang menunggu lama untuk pertanyaan mereka daripada membuka keran untuk semua orang,” jelasnya. Beberapa relawan yang disetujui kini mulai mencoba menjawab pertanyaan sambil menguji alat moderasi.

Terkait alasan membayar ribuan dolar untuk billboard, Bryant menjelaskan bahwa ia terinspirasi oleh banyaknya billboard AI yang membingungkan di San Francisco dan “kemahahadiran budaya” AI. Ia ingin menyindir fenomena tersebut sekaligus karena menurutnya itu akan lucu.

Proyek ChatTJB menyoroti fenomena “penyerahan kognitif” yang semakin umum terjadi di era AI. Studi University of Pennsylvania menemukan bahwa pengguna AI sangat mungkin mempercayai saran chatbot tanpa verifikasi, bahkan ketika jawaban yang diberikan salah. ChatTJB dirancang untuk mengingatkan pengguna bahwa tidak semua respons yang terdengar meyakinkan harus diterima begitu saja.

Bryant juga menawarkan tier “Pro” bagi mereka yang ingin membantu membayar billboard, meskipun membayar tidak akan mempercepat respons. Pengguna tetap harus menunggu jawaban yang dijawab secara manual oleh manusia. Pendekatan ini justru memperkuat pesan satire bahwa kenyamanan teknologi AI sering kali datang dengan biaya tersembunyi berupa hilangnya pemikiran kritis.

Sementara itu, perkembangan proyek seni ini menarik perhatian industri teknologi yang selama ini mempromosikan AI sebagai solusi serba bisa. ChatTJB menjadi pengingat bahwa di balik setiap teknologi canggih, masih ada pertanyaan mendasar tentang kepercayaan, verifikasi, dan peran manusia dalam era otomatisasi. Bryant berencana terus mengembangkan proyek ini secara perlahan sambil memastikan keselamatan semua pihak yang terlibat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.