📑 Daftar Isi

Guru menggunakan laptop dengan platform AI MagicSchool untuk menyiapkan materi kelas di Cheshire Academy

Cheshire Academy Gunakan AI untuk Bantu Guru Siapkan Materi Kelas

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Cheshire Academy di Connecticut gunakan AI generatif untuk bantu guru siapkan materi kelas
  • Sekolah tidak mewajibkan penggunaan AI, namun mayoritas instruktur telah mengadopsinya
  • Guru menggunakan ChatGPT, Perplexity, dan MagicSchool untuk rencana pelajaran dan rubrik penilaian
  • Sistem label lampu lalu lintas (hijau, kuning, merah) mengatur penggunaan AI dalam tugas siswa
  • Program Student AI Council mendorong siswa merefleksikan penggunaan AI yang sehat
  • MagicSchool tawarkan versi gratis dan berbayar dengan biaya individual di bawah $100 per tahun
  • Guru diminta memeriksa ulang setiap kutipan dan pernyataan LLM karena risiko halusinasi

Telset.id – Kehadiran chatbot AI generatif telah mengubah lanskap pendidikan secara signifikan, memberikan tantangan baru bagi para guru di seluruh dunia. Namun, Cheshire Academy, sebuah sekolah swasta di Connecticut, Amerika Serikat, justru memanfaatkan teknologi ini untuk meringankan beban kerja para pendidik dalam menyiapkan materi kelas.

Sekolah dengan sekitar 400 siswa kelas 9 hingga 12 ini tidak mewajibkan para instrukturnya untuk menggunakan AI. Meski demikian, koordinator teknologi dan pustakawan sekolah, George Aiello, mengklaim bahwa sebagian besar instruktur telah menggunakan AI dalam berbagai bentuk. Pendekatan ini menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana institusi pendidikan dapat beradaptasi dengan teknologi baru tanpa kehilangan kontrol.

Para pendidik di Cheshire Academy menggunakan berbagai program, mulai dari chatbot umum seperti ChatGPT dan Perplexity hingga alat khusus seperti MagicSchool, platform bertenaga AI yang dirancang khusus untuk pendidik. Pendekatan yang beragam ini muncul karena sekolah memilih untuk melatih stafnya pada teknik umum penggunaan AI daripada menentukan teknologi tertentu, berdasarkan saran dari konsultan.

Pelatihan staf mencakup topik seperti cara menyusun prompt yang berguna, namun juga menekankan keterbatasan teknologi, termasuk potensi menghasilkan respons yang salah dan bias. Hal ini penting mengingat kekhawatiran banyak guru tentang akurasi konten yang dihasilkan AI.

Kini, para guru di Cheshire Academy sering menggunakan AI generatif untuk mempersiapkan materi kelas. Mereka meminta bantuan AI untuk merencanakan pelajaran atau membuat rubrik penilaian. Beberapa guru bahkan ingin menggunakan AI untuk membantu memberikan umpan balik kepada siswa, meskipun kekhawatiran tentang kualitas, personalisasi, dan privasi mencegah mereka melakukannya untuk saat ini.

Baca Juga:

Refleksi Siswa terhadap Penggunaan AI

Tidak semua guru menggunakan AI secara langsung. Miriam Przybyla-Baum, guru bahasa Prancis dengan pengalaman hampir 30 tahun mengajar, tidak memerlukan bantuan AI karena telah memiliki banyak materi kelas. Namun, ia mulai melihat siswa mencoba menggunakan alat bertenaga AI seperti Google Translate untuk mengambil jalan pintas dalam tugas mereka, bahkan sebelum peluncuran ChatGPT.

Przybyla-Baum kemudian mengembangkan sistem untuk membuat siswa merefleksikan bagaimana AI dapat dan tidak dapat mengajarkan keterampilan bahasa. Dalam satu tugas, siswa membiarkan model bahasa besar (LLM) mengedit pekerjaan rumah mereka. Setelah itu, mereka memeriksa hasil edit tersebut dan memutuskan mana yang benar dan mana yang menghilangkan suara mereka. Tugas lain mengharuskan siswa untuk menilai tugas berbantuan AI milik teman sekelasnya secara anonim, dengan memberikan anotasi pada bagian yang mereka yakini dibuat oleh AI.

Cheshire Academy terus bereksperimen dengan pemanfaatan AI secara produktif di ruang kelas. Sekolah sedang menguji program di mana siswa membuat media dan memimpin diskusi tentang penggunaan AI yang sehat. Program yang disebut “Student AI Council” ini bertujuan mendorong siswa untuk merefleksikan bagaimana AI seharusnya dan tidak seharusnya digunakan untuk memberi manfaat bagi komunitas di sekitar mereka.

Akademi secara keseluruhan telah mengadopsi teknik serupa dengan yang diperkenalkan Przybyla-Baum untuk membuat siswa merefleksikan penggunaan AI mereka sendiri. Tugas kini diberi label seperti lampu lalu lintas, dengan warna hijau berarti AI sepenuhnya diizinkan dan merah melarang penggunaan AI. Warna kuning memungkinkan guru mengizinkan beberapa alat sementara melarang yang lain, seperti mengizinkan siswa menggunakan pemeriksa ejaan tetapi tidak mengizinkan mengirim pesan ke chatbot.

Peran MagicSchool dalam Pembelajaran

Saat AI generatif menjadi arus utama, Cheshire Academy memperkenalkan MagicSchool kepada stafnya. Keunggulan utama MagicSchool terletak pada banyaknya penawaran dalam satu paket. Platform ini dapat menghasilkan pertanyaan dan tugas dari berbagai jenis, mulai dari kuis hingga lembar kerja, di banyak mata pelajaran dan tingkat kelas.

MagicSchool memiliki generator rubrik penilaian khusus yang menghasilkan tabel siap pakai untuk menilai tugas. Platform ini juga dapat membuat presentasi, rencana pelajaran, dan laporan administratif. Semua dilakukan melalui satu platform di mana pendidik memasukkan prompt spesifik yang disesuaikan untuk setiap tugas.

Misalnya, untuk membuat tugas, guru dapat menentukan tingkat kelas siswa, jumlah pertanyaan, jenis pertanyaan seperti pilihan ganda atau jawaban singkat, dan lainnya, serta menyertakan dokumen untuk menyelaraskan pertanyaan. MagicSchool memiliki versi gratis dan berbayar, dengan biaya individual kurang dari $100 per tahun untuk akses tak terbatas dan catatan lengkap dalam sistem.

Namun, tidak semua guru merasa nyaman menggunakan LLM untuk menghasilkan teks yang berhadapan dengan siswa, baik karena mereka tidak yakin AI dapat menghasilkan materi pengajaran yang efektif atau umpan balik yang membantu, atau karena khawatir tentang akurasi. Banyak alat AI tujuan umum dari Anthropic, Google, OpenAI, dan lainnya tampaknya cocok untuk tugas administratif, sebagaimana dibuktikan oleh banyak guru di Cheshire Academy yang menggunakan alat tersebut. Beberapa perusahaan bahkan meluncurkan fitur yang disesuaikan untuk sekolah dengan hasil yang beragam.

Penerapan AI di lingkungan pendidikan membutuhkan pendekatan yang seimbang. Siswa akan tergoda untuk mencoba AI, dan tidak ada cara untuk sepenuhnya mengawasi pekerjaan rumah. Internet dan media sosial dapat menyebarkan banyak informasi yang salah tentang apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan AI, sehingga penting untuk melawan narasi ini dan mengajarkan strategi serta hubungan yang sehat dengan teknologi.

AI sangat baik dalam mengotomatiskan tugas, tetapi kesulitan dengan presisi dan suara. Hal ini perlu diingat terutama saat menghasilkan teks yang mungkin dilihat orang lain. Siswa yang mudah terpengaruh yang melihat otoritas menggunakan AI secara malas dapat menginternalisasi ini sebagai alasan untuk memotong sudut dalam pekerjaan mereka sendiri.

AI juga bagus untuk bertukar pikiran tentang rencana pelajaran dan kumpulan soal tambahan, terutama bagi guru yang baru memulai karier dan belum memiliki bank soal yang besar. Namun, karena AI dapat membuat kesalahan yang disebut halusinasi, menggunakannya untuk draf akhir dapat menghasilkan tugas yang membingungkan siswa dan mengganggu pembelajaran. Setiap kutipan, persamaan, dan pernyataan yang dibuat LLM perlu diperiksa ulang.

Pendekatan Cheshire Academy menunjukkan bahwa kunci pemanfaatan AI di pendidikan bukanlah adopsi penuh atau penolakan total, melainkan integrasi yang bijaksana dengan tetap mempertimbangkan keterbatasan teknologi dan kebutuhan pedagogis. Sekolah ini menjadi contoh bagaimana institusi pendidikan dapat menjembatani kesenjangan antara tekanan teknologi baru dan realitas ruang kelas.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.