📑 Daftar Isi

Ilustrasi persaingan AI Amerika Serikat dan China terkait seruan Dario Amodei untuk memperlambat pengembangan kecerdasan buatan

China Tolak Seruan Dario Amodei Pacing AI, Sebut Cuma Takut Kalah

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan perlambatan laju AI global lewat blog "We Must Pace the Frontier"
  • Amodei mendorong AS menjaga keunggulan AI atas China, termasuk menindak penyelundupan chip dan distilasi model
  • China dan industri AI-nya menilai proposal itu tidak adil dan tidak tulus
  • China Daily menyebut langkah itu respons terhadap kompetisi China dan tekanan regulasi Washington
  • Beijing lebih khawatir AI mengganggu stabilitas domestik daripada risiko eksistensial
  • Model murah seperti DeepSeek dan Kimi K3 jadi alternatif dibanding model frontier mahal

Telset.id – Pemerintah China dan sejumlah perusahaan AI di negara itu menolak seruan CEO Anthropic Dario Amodei untuk memperlambat laju pengembangan kecerdasan buatan atau “pace the frontier”. Penolakan ini bukan karena mereka ingin terus berlomba tanpa mempertimbangkan risiko, melainkan karena menilai proposal tersebut sebagai kesepakatan yang tidak adil bagi China.

Amodei menulis dalam sebuah unggahan blog berjudul “We Must Pace the Frontier” yang diterbitkan Sabtu bahwa pengaturan laju AI global memerlukan kerja sama dengan China, negara otokratis dengan kemampuan AI paling maju saat ini. Ia menegaskan bahwa bagian kunci dari strategi perlambatan itu adalah memastikan Amerika Serikat dan negara demokrasi lain mempertahankan keunggulan sebesar mungkin dalam pengembangan AI atas otokrasi seperti China.

Untuk mewujudkannya, Amodei mendorong Amerika Serikat mengambil sejumlah langkah, termasuk menindak penyelundupan chip dan mencegah distilasi model tanpa izin oleh perusahaan-perusahaan China. Menurutnya, melemahkan industri AI China justru akan memberi Amerika Serikat lebih banyak daya tawar dan membuat “kesepakatan lebih mungkin terjadi di masa depan”.

China Nilai Proposal Amodei Tidak Tulus

Founder teknologi hedge fund Interconnected Capital sekaligus mantan staf Gedung Putih di era Presiden Barack Obama, Kevin Xu, menilai ada jurang pemisah antara visi yang dipimpin Anthropic dan posisi China. Menurutnya, visi tersebut hanya akan menundukkan dan membatasi China terlebih dahulu untuk memaksimalkan daya tawar sebelum berbicara, sementara China hanya mau berbicara jika diperlakukan sebagai pihak yang setara.

Senior fellow Asia Society Policy Institute’s Center for China Analysis dan digital fellow di Stanford Institute for Human-Centered AI, Alvin Wang Graylin, menyoroti bahwa esai Amodei secara spesifik menyebut pengaturan laju AI bergantung pada peningkatan keunggulan atas China. Hal itu, katanya, membuat proposal tersebut terasa tidak autentik bagi pembaca China.

Sikap serupa datang dari media resmi China. China Daily, corong resmi berbahasa Inggris Partai Komunis China, mempertanyakan apakah langkah yang didukung CEO OpenAI Sam Altman dan Elon Musk dari SpaceXAI itu dilakukan karena kepedulian terhadap kemanusiaan atau karena takut bersaing dengan China. Media itu menyebut laporan tersebut dan “aliansi” korporasi yang mengikutinya pada dasarnya merupakan langkah terkoordinasi sebagai respons terhadap kompetisi China dan tekanan regulasi dari Washington.

China Daily menilai langkah tersebut memiliki tiga tujuan: memangkas kemajuan AI China, memenangkan lingkungan kebijakan yang menguntungkan di dalam negeri, serta menjaga antusiasme investor terhadap AI Amerika Serikat. Media itu juga mengkritik koordinasi yang diusulkan tiga perusahaan tersebut, yang dinilai seperti klub yang aturan keanggotaannya disusun sebelum daftar tamu diumumkan. Menurut mereka, kerangka keamanan AI global yang mengecualikan China tidak bisa disebut global.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam konferensi pers hari Senin menggambarkan proposal Amodei sebagai “fear-mongering, confrontation, and vicious competition” yang hanya akan menghambat upaya kerja sama AI global. Sehari setelahnya, kementerian itu juga menegaskan bahwa China menempatkan pengembangan dan keamanan secara setara dalam hal AI.

Kekhawatiran Beijing Bukan Risiko Eksistensial

Perbedaan cara pandang menjadi alasan lain mengapa Beijing kurang menerima peringatan CEO Anthropic itu dibanding audiens lain. Berbeda dari banyak suara paling lantang di Silicon Valley, para pemimpin China tidak terlalu mengkhawatirkan apa yang disebut risiko eksistensial dari AI, seperti kemungkinan agen nakal yang bisa membunuh semua orang di Bumi. Seperti di banyak area kebijakan lain, kegelisahan utama Beijing adalah AI dapat mengganggu stabilitas sosial domestik atau mengancam cengkeraman Partai Komunis China terhadap kekuasaan.

Visiting fellow di Center for a New American Security yang fokus pada keamanan nasional dan AI, Michelle Nie, mengatakan Beijing sulit menerima seruan semacam itu secara apa adanya, sebagian karena skeptis terhadap kemungkinan tercapainya AGI dan meragukan narasi bahwa AI menimbulkan risiko ekstrem bagi kemanusiaan. Meski Beijing mulai mengakui risiko hilangnya kendali, risiko yang paling mereka khawatirkan adalah ancaman AI terhadap kekuasaan Partai Komunis China.

Dalam esai terbaru, Menteri Keamanan Negara China Chen Yixin memperingatkan bahwa AI dapat memicu disinformasi politik, serangan siber, spionase, kerusuhan sosial, dan ancaman militer baru. Ia jauh lebih sedikit membahas skenario kiamat yang sering menjadi perhatian orang-orang di laboratorium AI terdepan Amerika Serikat.

Menurut Nie, pembuat kebijakan China cenderung membaca seruan keamanan AI dari perusahaan Amerika Serikat sebagai instrumen. Mereka percaya perusahaan-perusahaan AS berupaya menggelembungkan nilai mereka sendiri menjelang potensi IPO atau memperlambat kompetitor yang saat ini utamanya adalah perusahaan China. Skeptisisme itu juga dibagi banyak orang yang bekerja di industri AI China, yang secara luas berfokus merilis model open-weight berbiaya lebih rendah.

Dalam esai yang tersebar luas dan diterbitkan hari Minggu, seorang peneliti di DeepSeek menyatakan keyakinannya bahwa AI dapat membawa masyarakat manusia ke salah satu dari dua ekstrem. Pada skenario pertama, AI yang kuat tersedia secara luas dan menaikkan standar hidup. Pada skenario kedua, segelintir perusahaan teknologi mengendalikan sistem paling maju beserta sumber daya yang menyertainya, sehingga semakin sulit bagi pihak lain untuk mengejar. Ia menegaskan bahwa kecerdasan paling maju seharusnya tersedia bagi semua orang secara terbuka dan murah, dan ia tidak mempercayai Anthropic atau OpenAI untuk melakukannya, terutama tidak ingin Anthropic mengendalikan AI atau AGI paling maju.

Media China juga menyoroti upaya Amerika Serikat menghambat kemajuan AI China, baik lewat perangkat keras dengan memblokir akses Beijing ke chip Nvidia terbaru, maupun lewat perangkat lunak melalui tuduhan Amodei soal distilasi ilegal Claude oleh laboratorium AI China. Menurut China Daily, upaya-upaya itu tampaknya gagal, dan media itu menyebut keberhasilan model DeepSeek dan Kimi K3 yang performanya cukup baik namun dengan biaya jauh lebih rendah.

Ketersediaan model-model tersebut membuat banyak pengguna AI mengalihkan permintaan ke token yang lebih murah, seperti Kimi K3 (low) dan DeepSeek V4 Pro, dibanding model frontier mahal seperti Fable 5.1, GPT 5.6 Sol, Grok 4.6, dan Kimi K3 (max). China Daily juga menyoroti fokus Amodei yang mengecualikan China dari proposalnya, dan menilai langkah itu dimaksudkan melebarkan jarak teknologi antara kedua rival serta memberi ruang bernapas bagi laboratorium AI Amerika Serikat untuk “pace the frontier”.

Meski demikian, kebijakan China mengakui sebagian risiko yang diangkat Amodei. Standardization Administration of China bekerja sama dengan Cyberspace Administration of China menyatakan bahwa pengembangan teknologi AI harus dipantau karena dapat melampaui kendali manusia. Media resmi itu menilai memperlakukan balapan AI sebagai zero-sum game membuat kerja sama yang dibutuhkan untuk mengelola risiko tersebut menjadi lebih sulit, dan menegaskan China serta Amerika Serikat harus bekerja sama pada hal-hal yang tidak bisa dikelola sendiri oleh salah satu pihak.

Negosiasi awal antara kedua negara dilaporkan sudah berlangsung menjelang rencana kunjungan pemimpin China Xi Jinping ke Washington bulan ini untuk bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kedua pemerintah menyatakan kekhawatiran atas beberapa hal yang sama, termasuk ancaman keamanan siber, penyalahgunaan model kuat, dan kemungkinan sistem AI yang semakin canggih berperilaku tak terduga. Menurut Nie, yang paling bisa menggerakkan situasi adalah merancang cara kredibel bagi masing-masing negara untuk memverifikasi bahwa pihak lain mematuhi komitmennya. Namun, research fellow di organisasi nirlaba keamanan AI MATS Research, Kristy Loke, khawatir retorika Amodei dan pemimpin teknologi AS lainnya soal melemahkan China bisa menggerus kepercayaan rapuh yang menjadi dasar perundingan diplomatik. Ia menilai Amodei justru merusak salah satu dari sedikit tuas yang tersedia untuk mengurangi risiko yang ia sendiri akui serius.

Bagi pengguna AI di Indonesia, perdebatan ini menentukan arah ketersediaan model. Selama ketegangan AS-China berlanjut, pilihan model murah berbasis open-weight seperti DeepSeek dan Kimi K3 akan tetap menjadi alternatif yang menarik dibanding model frontier berbiaya tinggi. Perkembangan kebijakan kedua negara juga bakal memengaruhi harga dan akses teknologi AI yang dipakai sehari-hari.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.