Telset.id – Danijar Hafner, peneliti AI berusia 31 tahun, kini tengah membangun startup baru di San Francisco yang berfokus pada pengembangan robot humanoid. Startup yang masih dalam mode stealth ini merupakan kelanjutan dari pekerjaan jangka panjangnya untuk memungkinkan AI bernavigasi di lingkungan yang belum pernah ditemui sebelumnya. Kehadiran robot-robot humanoid yang diimpor dari China tersebut menjadi langkah fisik dari visi besarnya dalam mengembangkan kecerdasan buatan.
Riset Hafner berfokus pada teknik yang disebut model-based reinforcement learning. Ia mengembangkan world models—model AI yang dirancang untuk meniru realitas fisik—dan melatih agen di dalamnya. Agen tersebut memperlakukan model sebagai simulasi dunia nyata dan belajar bagaimana bertindak di dalamnya, kemudian menggunakan pengalaman itu untuk membuat prediksi tentang hasil di masa depan. Hal ini memungkinkan agen atau robot yang tertanam di dalamnya untuk bernavigasi dalam situasi asing di dunia nyata.
Kemampuan robot untuk bereaksi dalam skenario yang belum pernah diuji sebelumnya menjadi kunci untuk membawa robot ke ruang manusia. Jika ingin mengirim robot ke rumah seseorang, robot tersebut harus mampu menangani denah lantai dan furnitur yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Karier Cemerlang di Google DeepMind
Hafner tumbuh di kota pedesaan di Jerman timur laut, di mana kedua orang tuanya adalah musisi klasik. Ia belajar pemrograman dari seorang tetangga, dan di sekolah menengah ia mulai mengambil kursus online tentang AI, yang dengan cepat berkembang menjadi passion. “Saya selalu terpesona dengan cara kerja berpikir,” ujarnya. AI menawarkan cara untuk meniru hal tersebut di komputer.
Pada 2015, sebagai mahasiswa tahun kedua di Hasso Plattner Institute di Potsdam, ia memenangkan peran sebagai peneliti mahasiswa di Google Brain. Dari sana, ia menjalani belasan magang dan posisi lain di perusahaan tersebut, termasuk di Google Brain dan Google DeepMind (keduanya kini bergabung di bawah DeepMind) di Inggris, Kanada, dan AS. Ia bekerja dengan legenda industri seperti Geoffrey Hinton dan Ashish Vaswani, rekan penulis makalah penelitian inovatif “Attention Is All You Need” yang menggambarkan teknologi transformer yang digunakan oleh model bahasa besar saat ini.
Salah satu mantan manajer dan rekan penulis Hafner di Google, Timothy Lillicrap, menggambarkannya sebagai sosok yang menonjol di antara yang terbaik. “Saya berinteraksi dengan banyak orang yang sangat pintar dalam riset di Google, dan dia dengan mudah berada di 1% teratas,” kata Lillicrap. “Dalam banyak kasus, dia bisa membangun sendiri hal-hal yang biasanya membutuhkan seluruh tim insinyur untuk membangunnya.”
Baca Juga:
Selama bertahun-tahun, Hafner mengasah dan membuktikan pendekatannya dengan mempertemukan agen yang dilatih dalam world models melawan video game populer. Terobosan pertamanya adalah PlaNet, model yang memungkinkan agen mengeksekusi tindakan dengan perencanaan ke depan. Dreamer 2 miliknya menjadi agen pertama yang mencapai performa level manusia bermain game Atari 2600 menggunakan world model. Dreamer 3 menjadi yang pertama memecahkan tantangan Minecraft Diamond—berhasil menambang permata dalam game secara mandiri. Dreamer 4 melangkah lebih jauh dengan belajar menambang berlian dari kumpulan data offline berisi rekaman video gameplay, tanpa pernah berinteraksi langsung dengan game tersebut.
Transisi dari Dunia Virtual ke Realitas Fisik
Baru-baru ini, Hafner mulai memindahkan agennya dari dunia virtual ke realitas fisik. Proyek DayDreamer miliknya menggunakan algoritma Dreamer untuk memungkinkan robot beroperasi sendiri di lingkungan baru dan bereaksi terhadap pengalaman baru (seperti didorong) tanpa pelatihan khusus apa pun.
Kantor Hafner di distrik SoMa San Francisco sebagian besar kosong. Startup barunya yang masih dalam mode stealth bahkan belum menuliskan nama di pintu. Pada hari kunjungan, hanya ada satu orang lain di sana dengan sedikit perabotan. Namun yang kurang dalam dekorasi, diimbangi dengan robot. Humanoid dari berbagai bentuk dan ukuran tergantung seperti marionette dari rak yang membentang di tengah ruangan yang luas.
Saat ini, Hafner mengerjakan startup barunya yang ia bentuk setelah meninggalkan Google DeepMind pada musim gugur 2025. Meskipun ia enggan berbicara banyak tentang langkah berikutnya, jelas ia bermimpi besar: “Saya tertarik untuk memecahkan masalah,” ujarnya memberi isyarat, “yang akan mengubah dunia.”
Berbeda dari upaya lain, teknik Hafner memungkinkan agen dan robot yang mereka kendalikan untuk mengeksekusi tugas yang sangat rumit tanpa pelatihan trial-and-error di dunia nyata yang secara tradisional digunakan dalam robotika. Pendekatan ini menjadi pembeda utama dari metode konvensional yang selama ini dipakai industri.
Pengembangan robot humanoid yang mampu bereaksi di lingkungan tak terduga ini berpotensi menjadi fondasi bagi adopsi robot di ruang domestik dan komersial. Dengan kemampuan beradaptasi terhadap situasi baru tanpa pelatihan khusus, teknologi Hafner dapat mengatasi salah satu hambatan terbesar dalam penerapan robot di kehidupan sehari-hari.
Kombinasi antara pengalaman riset panjangnya di Google DeepMind, pencapaian dalam dunia game, serta transisi ke robotika fisik menjadikan startup Hafner salah satu yang patut diperhatikan dalam perkembangan AI dan robotika ke depan. Meski detail produk masih dirahasiakan, arah pengembangan yang jelas menuju robot humanoid adaptif menandakan ambisinya untuk membawa AI keluar dari layar dan masuk ke dunia nyata.
Kiprah Hafner di dunia AI juga menjadi inspirasi bagaimana riset akademis dapat bertransisi menjadi produk komersial. Dari PlaNet hingga DayDreamer, setiap pencapaiannya membangun fondasi bagi startup yang kini ia rintis. Para pengamat industri akan mencermati langkah berikutnya dari peneliti yang oleh koleganya disebut berada di 1% teratas peneliti Google ini.





Komentar
Belum ada komentar.