📑 Daftar Isi

Ilustrasi peretas mengakses data penumpang pesawat melalui database yang salah konfigurasi

Database APIS di Vietnam Bocorkan 220 Juta Data Penumpang Pesawat

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Kinryū Labs menemukan kebocoran 220 juta catatan penumpang dan kru pesawat dari database APIS di Vietnam
  • Database Elasticsearch 107GB dapat diakses melalui jalur cloud alternatif dengan kredensial default
  • Data terekspos mencakup periode Januari 2017 hingga April 2026
  • Informasi bocor meliputi nama, tanggal lahir, kewarganegaraan, nomor paspor, detail penerbangan, hingga referensi bagasi
  • Arsip telah dikunci pada 8 Juni setelah dilaporkan ke otoritas Vietnam dan CERT pada 3 Juni
  • Singapore Airlines memimpin upaya remediasi
  • Belum ada bukti data dijual di dark web atau digunakan untuk penipuan
  • Kesalahan konfigurasi database menjadi penyebab utama kebocoran data

Telset.id – Keamanan data penerbangan kembali menjadi sorotan setelah peneliti keamanan dari Kinryū Labs menemukan kebocoran besar yang mengekspos 220 juta catatan penumpang dan kru pesawat. Data sensitif tersebut terekspos publik akibat serangkaian kesalahan konfigurasi pada database cloud yang berlokasi di Vietnam.

Temuan yang diumumkan pada awal Juni 2026 ini mengungkap bahwa database Elasticsearch yang menyimpan data dari sistem Advance Passenger Information System (APIS) dapat diakses melalui jalur cloud alternatif. Yang lebih memprihatinkan, cluster tersebut menerima kredensial default, sehingga memudahkan akses ke arsip berisi 29 indeks dengan total kapasitas sekitar 107GB.

Data yang terekspos mencakup periode perjalanan Januari 2017 hingga April 2026, memengaruhi siapa saja yang pernah bepergian ke, dari, atau melalui Vietnam dalam rentang waktu tersebut. Informasi yang bocor meliputi nama, tanggal lahir, kewarganegaraan, nomor paspor, hingga detail penerbangan lengkap.

Back View of Young Black Man Walking and Looking at Big Digital Screens Glitching While Displaying Code Lines. Professional Hacker Breaking Through Cybersecurity Protection System, Changing Code

Isi Database yang Bocor

Sistem APIS merupakan sistem yang digunakan maskapai penerbangan untuk mengumpulkan dan mengirim informasi penumpang serta kru kepada otoritas negara sebelum penerbangan tiba atau berangkat. Biasanya, sistem ini mengumpulkan nama, tanggal lahir, kewarganegaraan, nomor paspor dan dokumen perjalanan, serta detail penerbangan untuk keperluan kontrol perbatasan dan imigrasi.

Namun dalam kasus ini, database juga menyimpan informasi tambahan yang lebih sensitif. Data tersebut mencakup jenis kelamin, tanggal kedaluwarsa dokumen, negara penerbit, maskapai, bandara keberangkatan, tujuan, bandara transit, hingga penetapan kursi dan referensi bagasi.

Dari 29 indeks yang ditemukan, dua di antaranya berukuran sangat besar. Satu indeks berisi 210.318.069 catatan penumpang, sementara indeks lainnya memuat 10.465.631 catatan kru. Perlu dicatat bahwa catatan tersebut tidak mewakili individu yang berbeda—jika seseorang melakukan perjalanan beberapa kali, mereka akan muncul beberapa kali dalam arsip.

Warga negara Kanada, China, Korea, dan Selandia Baru termasuk di antara mereka yang informasinya terekspos. Database ini juga tidak terbatas pada satu maskapai tertentu, melainkan mencakup berbagai maskapai di kawasan Asia-Pasifik, Eropa, dan Timur Tengah.

Upaya Penanganan dan Remediasi

Identitas operator atau pemilik database masih belum diketahui. Yang berhasil ditemukan peneliti hanyalah bahwa database tersebut di-hosting di ruang IP yang ditetapkan Viettel di Hanoi, ibu kota Vietnam.

Karena tidak dapat mengaitkan database dengan entitas tertentu, para peneliti melaporkan temuan ini kepada otoritas Vietnam, berbagai maskapai yang disebutkan dalam arsip, serta CERT (Computer Emergency Response Team) negara tersebut pada 3 Juni. Arsip tersebut akhirnya dikunci seminggu kemudian, tepatnya pada 8 Juni.

Menurut laporan BleepingComputer, tim keamanan Singapore Airlines yang memimpin upaya remediasi. Mereka memberi tahu peneliti bahwa pihaknya telah “melibatkan pihak-pihak terkait” dan “mengambil langkah-langkah untuk menahan masalah ini.”

A composite image featuring a stylized digital military base schematic partially covered by a translucent Data Leak warning graphic in red and white.

Belum Ada Bukti Penyalahgunaan Data

Tanpa audit log yang memadai dan investigasi forensik menyeluruh, mustahil untuk mengetahui apakah aktor jahat telah mengakses database sebelum para peneliti menemukannya. Demikian pula, belum bisa dipastikan apakah data yang ditemukan telah digunakan dalam pencurian identitas, penipuan kawat, atau penipuan lainnya.

Kabar yang sedikit menenangkan adalah belum ada bukti aktivitas semacam itu di dark web. Tidak ada kelompok peretas yang mengklaim telah mengakses data tersebut, dan tidak ada yang menjual arsip ini di pasar gelap digital.

Penyebab Umum Kebocoran Data

Insiden ini kembali menyoroti bahwa database yang salah konfigurasi tetap menjadi salah satu penyebab utama kebocoran data. Banyak bisnis menghasilkan berbagai jenis data tentang karyawan, mitra, klien, atau pelanggan mereka, lalu menyimpannya di cloud untuk kemudahan akses dan wawasan yang dapat ditindaklanjuti.

Namun, sebagian bisnis tidak memahami model tanggung jawab bersama dalam keamanan cloud atau bertindak ceroboh dalam mengamankan data yang tersimpan di cloud. Cassius Edison, COO Closed Door Security, menyatakan bahwa banyak organisasi menghadapi masalah visibilitas terhadap aset TI mereka.

“Rentang teknologi yang kini digunakan dan dikelola oleh perusahaan secara global telah membuat kesalahan konfigurasi menjadi masalah yang semakin persisten,” jelas Edison. “Banyak organisasi gagal mempertahankan visibilitas penuh atas aset TI mereka dan gagal melakukan audit yang tepat terhadap sistem mereka, yang pada akhirnya menyebabkan kelalaian dalam keamanan dan pemantauan.”

Airport

Menurut Edison, mengatasi kesalahan konfigurasi secara internal bisa sulit, “terutama di perusahaan besar di mana tim bekerja secara independen di berbagai sistem.” Ia menyarankan organisasi untuk melibatkan pentester independen dan auditor keamanan.

Insiden ini juga mengingatkan bahwa sebagian kebocoran data terbesar di dunia tidak berasal dari peretas yang membobol sistem yang terkunci, melainkan dari bisnis yang secara tidak sengaja mengekspos data pelanggan mereka. Pada 2026 saja, lebih dari 670 juta catatan identitas terekspos oleh Infutor, perusahaan manajemen identitas konsumen berbasis data, serta lebih dari tiga miliar catatan terekspos melalui database MongoDB yang salah konfigurasi yang dikelola oleh layanan verifikasi identitas global, IDMerit.

Bagi para pelancong yang pernah menggunakan jasa penerbangan melalui Vietnam dalam periode 2017 hingga 2026, kebocoran ini menjadi pengingat penting tentang risiko keamanan data di industri penerbangan. Meskipun belum ada bukti penyalahgunaan, data pribadi yang terekspos tetap berpotensi disalahgunakan di masa mendatang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.