Dua peneliti utama model Gemini hengkang dari Google menuju Anthropic

Dua Peneliti Utama Gemini Tinggalkan Google Menuju Anthropic

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Dua peneliti utama model Gemini, Jonas Adler dan Alexander Pritzel, hengkang dari Google.
  • Mereka bergabung dengan Anthropic, perusahaan AI yang fokus pada keamanan.
  • Ini merupakan tren kepergian talenta AI top dari Google dalam waktu berdekatan.
  • Sebelumnya, Noam Shazeer dan John Jumper juga meninggalkan Google.
  • Perpindahan ini terjadi saat OpenAI dan Anthropic bersiap go public.
  • Tawaran ekuitas dari perusahaan yang akan IPO menjadi daya tarik utama.
  • Kepergian ini bisa berdampak signifikan pada proyek AI Google ke depan.

Telset.id – Dua peneliti kunci di balik model kecerdasan buatan Gemini, Jonas Adler dan Alexander Pritzel, memutuskan untuk meninggalkan Google dan bergabung dengan Anthropic. Keputusan ini menambah daftar panjang kepergian talenta AI terkemuka dari raksasa teknologi tersebut dalam beberapa pekan terakhir.

Menurut laporan Bloomberg, Adler dan Pritzel memainkan peran penting dalam pengembangan model Gemini. Mereka berdua adalah peneliti AI kelas atas yang kontribusinya sangat vital bagi Google. Kepergian mereka tentu menjadi pukulan tersendiri, terutama di saat persaingan di industri AI semakin memanas.

TechCrunch telah menghubungi Google untuk meminta komentar terkait kepergian dua peneliti utamanya ini. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi yang dirilis oleh perusahaan. Fenomena ini menjadi sorotan karena menunjukkan tren perpindahan talenta yang mengkhawatirkan bagi Google.

Sebelumnya, minggu lalu, peneliti AI legendaris Noam Shazeer juga mengumumkan kepergiannya dari Google. Shazeer memilih untuk bergabung dengan OpenAI. Ia telah bekerja di Google sejak tahun 2000, dengan jeda tiga tahun untuk membangun startup chatbot kontroversialnya, Character.AI.

Google sendiri sempat mengakuisisi Character.AI dengan nilai mencapai USD 2,7 miliar. Akuisisi ini dilakukan sebagian untuk membawa Shazeer kembali ke Google dan mengerjakannya pada proyek Gemini. Namun, kepulangannya ternyata tidak bertahan lama.

Hanya beberapa hari setelah pengumuman Shazeer, giliran John Jumper yang hengkang. Direktur Google DeepMind ini memutuskan untuk bergabung dengan Anthropic. Bersama CEO DeepMind, Demis Hassabis, Jumper berhasil memenangkan Penghargaan Nobel Kimia tahun 2024.

Penghargaan bergengsi itu diraih Jumper berkat karyanya pada AlphaFold. Teknologi ini mampu memprediksi struktur protein 3D dari urutan asam amino. Kontribusinya dianggap revolusioner dalam dunia biologi dan kedokteran, namun hal itu tak membuatnya bertahan di Google.

Tren kepergian ini terjadi di saat yang krusial. OpenAI dan Anthropic tengah bersiap untuk melantai di bursa saham atau go public. Kondisi ini menjadi momentum yang tepat bagi kedua perusahaan untuk merekrut talenta AI top dengan iming-iming ekuitas.

Bagi para peneliti, tawaran ekuitas dari perusahaan AI yang akan go public tentu sangat menggiurkan. Hal ini bisa menjadi faktor utama yang mendorong mereka untuk pindah. Nilai saham yang berpotensi melonjak tinggi setelah IPO menjadi daya tarik yang sulit ditolak.

Google kini menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan talenta terbaiknya. Perusahaan harus bersaing tidak hanya dari segi gaji, tetapi juga prospek jangka panjang yang ditawarkan oleh para pesaing. Kehilangan peneliti kunci seperti Adler, Pritzel, Shazeer, dan Jumper bisa berdampak signifikan pada proyek-proyek AI Google ke depannya.

Anthropic sendiri dikenal sebagai perusahaan AI yang fokus pada keamanan dan etika. Dengan bergabungnya para peneliti top dari Google, Anthropic diprediksi akan semakin memperkuat posisinya sebagai pemain utama di industri AI. Persaingan antara Google, OpenAI, dan Anthropic dipastikan akan semakin sengit.

Kepergian para peneliti ini juga menjadi indikasi bahwa perang bakat di industri AI belum mereda. Perusahaan-perusahaan AI berlomba-lomba mendapatkan otak terbaik untuk memenangkan persaingan teknologi. Hal ini menunjukkan betapa berharganya sumber daya manusia di bidang ini.

Bagi para pengamat industri, fenomena ini adalah siklus yang wajar terjadi. Namun, intensitas dan frekuensi kepergian talenta dari Google dalam waktu berdekatan patut dicermati. Ini bisa menjadi sinyal adanya masalah internal yang lebih dalam di perusahaan.

Google perlu segera mengambil langkah strategis untuk menghentikan arus kepergian ini. Jika tidak, perusahaan berisiko kehilangan posisinya sebagai pemimpin dalam inovasi AI. Sementara itu, para pesaing akan terus menguat dengan tambahan amunisi baru.

Ke depannya, publik akan terus memantau perkembangan selanjutnya. Apakah akan ada lagi peneliti Google yang hengkang? Atau justru sebaliknya, Google akan melakukan gebrakan untuk mempertahankan talentanya? Waktu yang akan menjawab.

Yang jelas, persaingan di industri AI semakin menarik untuk diikuti. Setiap pergerakan talenta bisa mengubah peta persaingan secara signifikan. Bagi para pengguna, persaingan ini pada akhirnya akan menghasilkan inovasi yang lebih baik.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.