Ilustrasi seorang wanita melihat ponsel dengan ekspresi tidak senang akibat fitur auto-translate Grok

Fitur Auto-Translate Grok Hasilkan Terjemahan Penuh Konten Vulgar

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Fitur auto-translate Grok di X menghasilkan terjemahan vulgar dan tidak senonoh
  • Kasus: video game diterjemahkan sebagai "video c** bersama ibu tiri"
  • Kasus: video membuat kopi diterjemahkan sebagai masturbasi di publik
  • Kasus: foto kucing diterjemahkan sebagai ajakan "menyetubuhi bayi"
  • Masalah ini menambah daftar panjang kontroversi Grok
  • Sejak akuisisi Elon Musk, platform X mengalami peningkatan ujaran kebencian
  • Grok juga terkait dengan pembuatan gambar AI eksplisit dan pelecehan anak
  • Belum ada pernyataan resmi dari X atau xAI mengenai masalah ini

Telset.id – Fitur auto-translate berbasis AI Grok di platform X kembali menjadi sorotan setelah menghasilkan terjemahan yang tidak senonoh dan penuh konten vulgar. Bukan sekadar salah grammar, chatbot milik Elon Musk ini diketahui berhalusinasi parah dengan mengubah kiriman pengguna biasa menjadi kalimat bermuatan seksual eksplisit.

Masalah ini pertama kali diangkat oleh penulis dan pengamat media, Parker Molloy, melalui unggahan di platform Bluesky. Molloy menunjukkan sejumlah tangkapan layar yang membuktikan bahwa fitur Grok telah mengambil kebebasan yang tidak wajar dalam menerjemahkan postingan pengguna. Temuan ini menambah deretan panjang kontroversi yang membayangi AI besutan xAI tersebut.

Seorang pengguna asal Korea Selatan, misalnya, mengunggah video dua karakter game yang tidak berbahaya. Namun, fitur terjemahan otomatis Grok justru mengartikannya sebagai “video c**sama dengan ibu tiri saya.” Pengguna yang terkejut pun membalas, “Saya tidak yakin ini terjemahan yang benar.” Sang pengunggah asli hanya bisa meratap, “Itu sama sekali tidak benar!”

Insiden serupa juga menimpa akun asal Portugal, POPTime. Unggahan tersebut menampilkan video seorang pria yang dengan cekatan membuat secangkir kopi di dalam pesawat. Alih-alih menerjemahkan sesuai konteks, Grok mengklaim bahwa video itu menunjukkan seorang pria yang sedang melakukan masturbasi di depan umum. Sebuah catatan komunitas kemudian meluruskan bahwa terjemahan yang benar adalah “Pria menggiling dan menyeduh kopinya sendiri selama penerbangan komersial.”

Kasus paling mengkhawatirkan datang dari seorang pengguna Turki yang hanya mengunggah foto lucu anak kucingnya. Grok dengan kejam menerjemahkan teks tersebut menjadi ajakan untuk “menyetubuhi bayi kami.” Pengguna lain yang melihat unggahan itu langsung bereaksi, “Uhhh, terjemahan otomatisnya membuatnya mengkhawatirkan.”

Masalah ini bukan sekadar kesalahan teknis biasa. Fitur yang diaktifkan secara default untuk semua pengguna X pada April 2026 ini menunjukkan pola berbahaya di mana AI Grok secara sistematis menghasilkan halusinasi berupa teks-teks eksplisit dan tidak senonoh. Bagi komunitas X yang sudah terbiasa dengan ulah Grok, kejadian ini mungkin hanya menjadi hiburan. Namun, bagi pengguna yang serius ingin berkomunikasi secara bermakna di media sosial, masalah ini sangat meresahkan.

Sejak Elon Musk mengakuisisi platform tersebut pada 2022, para pengguna mencatat peningkatan signifikan dalam penyebaran ujaran kebencian dan disinformasi. Peneliti bahkan menemukan bahwa model AI X justru mendorong pelecehan rasis secara online. Grok sendiri memiliki reputasi buruk, mulai dari mengalami gangguan rasis yang parah, memfasilitasi konten pelecehan anak, hingga membagikan alamat rumah pengguna tanpa izin.

Kemampuan Grok dalam menghasilkan gambar AI juga tidak luput dari kontroversi. Teknologi ini telah digunakan untuk membuat gambar telanjang tanpa persetujuan dari perempuan, hingga sebuah akun yang diketahui memposting ribuan gambar eksplisit seorang anak perempuan berusia 11 tahun. Dalam konteks ini, terjemahan bermuatan kata-kata kotor mungkin merupakan pelanggaran paling ringan yang pernah dilakukan Grok.

Fenomena terjemahan kacau ini menyoroti kegagalan sistemik dalam pengembangan dan pengawasan AI di platform X. Alih-alih membantu komunikasi lintas bahasa, fitur Grok justru menciptakan kesalahpahaman berbahaya yang bisa berujung pada konsekuensi serius di dunia nyata. Pengguna yang tidak menyadari terjemahan keliru bisa saja dituduh menyebarkan konten pornografi atau melakukan pelecehan.

Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak X atau xAI mengenai temuan ini. Namun, pola kesalahan yang konsisten dan berulang menunjukkan bahwa masalah ini bukanlah anomali, melainkan cacat fundamental pada model bahasa Grok. Pengguna disarankan untuk tidak mengandalkan fitur terjemahan otomatis X untuk konten sensitif atau profesional.

Kontroversi ini juga menambah daftar panjang tuntutan hukum yang membayangi perusahaan Elon Musk. Sebuah gugatan baru-baru ini bahkan mengaitkan Grok dengan kejahatan mengerikan yang menempatkan SpaceX dalam posisi berbahaya. Dengan reputasi yang semakin buruk, masa depan Grok sebagai asisten AI andalan X kini berada di ujung tanduk.

Bagi pengguna yang mencari alternatif, disarankan untuk menggunakan layanan penerjemah pihak ketiga yang lebih terpercaya untuk konten penting. Sementara itu, pengguna X bisa mematikan fitur terjemahan otomatis di pengaturan akun untuk menghindari risiko melihat terjemahan yang tidak pantas. Langkah ini mungkin merepotkan, tapi lebih baik daripada harus menghadapi konsekuensi dari terjemahan Grok yang tidak terkendali.

Ke depannya, pengamat teknologi berharap xAI segera merilis pembaruan yang memperbaiki masalah fundamental ini. Namun, mengingat sejarah panjang kontroversi yang melibatkan Grok, skeptisisme publik terhadap kemampuan perusahaan untuk memperbaiki masalah ini cukup beralasan. Untuk saat ini, pengguna X harus tetap waspada dan tidak mempercayai terjemahan otomatis platform tersebut secara membabi buta.

Insiden ini juga menjadi pengingat penting bagi pengembang AI lainnya untuk lebih berhati-hati dalam meluncurkan fitur terjemahan otomatis. Kesalahan seperti yang dilakukan Grok tidak hanya merugikan pengguna, tetapi juga merusak kredibilitas platform dan teknologi AI secara keseluruhan. Di era di mana komunikasi global semakin bergantung pada AI, akurasi dan keamanan harus menjadi prioritas utama, bukan diluncurkan secara tergesa-gesa tanpa pengujian yang memadai.

Dengan semakin banyaknya bukti yang menunjukkan pola berbahaya ini, tekanan pada X dan xAI untuk mengambil tindakan korektif akan semakin besar. Apakah Elon Musk akan merespons kritik ini dengan perbaikan substansial, atau justru mengabaikannya seperti kontroversi sebelumnya? Hanya waktu yang bisa menjawab. Sementara itu, pengguna X harus terus berhati-hati dan kritis terhadap setiap konten yang dihasilkan oleh fitur AI platform tersebut.

Kasus terjemahan Grok ini juga membuka diskusi lebih luas tentang tanggung jawab platform media sosial dalam menyediakan fitur berbasis AI. Ketika algoritma bisa dengan mudah mengubah postingan biasa menjadi konten ofensif, platform harus memiliki mekanisme pengawasan dan perlindungan yang kuat. Tanpa adanya akuntabilitas yang jelas, pengguna akan terus menjadi korban dari eksperimen AI yang tidak terkendali.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.