📑 Daftar Isi

Fotografer mengambil gambar lanskap Islandia dengan kamera mirrorless

Fotografer Peringatkan Dampak AI pada Integritas Foto Alam Liar

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Tiga fotografer konservasi - Aleksander Nordahl, Christine Sonvilla, dan Marc Graf - memperingatkan dampak negatif AI pada fotografi alam liar
  • AI-generated images mengancam kredibilitas penelitian dan konservasi, terutama di platform pengamatan burung
  • Christine dan Marc menolak manipulasi AI berlebihan karena mendistorsi pemahaman alam dan menciptakan ekspektasi tidak realistis
  • Aleksander menegaskan prinsip "apa yang saya lihat adalah apa yang Anda dapatkan" dalam karya dokumenternya
  • Ketiganya mengakui AI berguna untuk tugas teknis seperti noise reduction dan arsip, tetapi menolak untuk keputusan kreatif
  • Uni Eropa mulai mewajibkan label transparansi untuk konten buatan AI
  • Saran untuk fotografer baru: jual keaslian, jangan andalkan jalan pintas AI, dan bidik dampak jangka panjang

Telset.id – Para fotografer profesional wildlife dan lanskap kini menyuarakan kekhawatiran serius tentang dampak AI-generated images terhadap penelitian dan konservasi alam. Aleksander Nordahl, Christine Sonvilla, dan Marc Graf, tiga fotografer konservasi terkemuka, sepakat bahwa penggunaan AI dalam fotografi alam liar dapat mendistorsi pemahaman publik tentang alam dan mengancam kredibilitas data ilmiah.

Kekhawatiran ini muncul di tengah meningkatnya jumlah gambar yang dihasilkan AI di platform pengamatan burung, yang menurut para ahli dapat mengancam kredibilitas alat yang digunakan para ilmuwan. Christine Sonvilla menegaskan bahwa memanipulasi gambar alam liar dengan AI menciptakan ekspektasi yang tidak realistis dan menjauhkan manusia dari alam.

Menurut Christine, setiap fotografer harus bertanya pada diri sendiri mengapa mereka memotret dan apa yang ingin dicapai. “Jika ada topik alam dan satwa liar yang menarik, saya ingin menyampaikan gambar yang autentik,” ujarnya. Ia mengaku hanya melakukan pengeditan dasar dan menolak mengubah gambar secara masif menggunakan AI.

A person taking a photo of the Icelandic landscape

Marc Graf, yang telah berkarier lebih dari 15 tahun di industri foto dan film satwa liar, menegaskan bahwa fotografi murni adalah keterampilan manusia. “Menjadi tidak sempurna adalah hal paling manusiawi, jadi mengapa kita tidak membiarkan gambar kita mencerminkan ketidaksempurnaan kita?” katanya.

Fotografer dan Komitmen Mereka pada Autentisitas

Aleksander Nordahl adalah jurnalis visual dan Managing Editor Sunstone Institute, sebuah lembaga sains data global. Karyanya berfokus pada dampak aktivitas manusia terhadap perairan dan garis pantai Norwegia melalui fotografi bawah air. Sementara itu, Christine Sonvilla dan Marc Graf adalah sineas dan konservasionis di balik Bear Me in Mind Productions, yang mendokumentasikan berbagai spesies seperti burung hering Eurasia dan beruang coklat di Eropa Tengah.

Ketiganya telah menerima berbagai penghargaan, termasuk Wildlife Photographer of the Year. Bagi mereka, fotografi adalah alat komunikasi paling kuat yang bisa dikonsumsi berulang kali tanpa kehilangan kekuatannya.

Marc mengungkapkan bahwa fotografi menjadi pelarian pribadi dari dunia manusia. “Saya menganggap fotografi sebagai pendekatan paling individual, personal, dan intim terhadap suatu subjek,” jelasnya. Christine menambahkan bahwa foto adalah buku memori yang membawanya kembali ke momen tertentu, bukan hanya secara visual tetapi juga dengan semua indra lainnya.

Aleksander, yang telah memotret sejak usia 14 tahun, menyebut fotografi sebagai alat profesional terpentingnya sebagai pendongeng, jurnalis, seniman, editor, penyelidik, dan bahkan freediver. “Fotografi juga membentuk cara saya melihat dunia di sekitar saya,” tambahnya.

Sikap Tegas terhadap AI dan Masa Depan Fotografi

Aleksander menceritakan pengalamannya melihat seorang influencer fotografi mempromosikan alat AI untuk memperbaiki foto konser dengan menghapus peralatan panggung. “Jika Anda melakukan itu, apakah Anda masih bisa menyebutnya foto konser yang nyata? Tentu tidak,” tegasnya.

Pernyataan Aleksander yang paling mencolok adalah: “Untuk menangkap foto asli hari ini adalah menunjukkan dunia seperti apa adanya, dalam segala kesempurnaan dan ketidaksempurnaannya.” Ia menegaskan prinsipnya sejak masih menggunakan film: “Apa yang saya lihat dan dokumentasikan adalah apa yang Anda dapatkan. Tidak lebih, tidak kurang.”

Headshots of photographers Christine Sonvilla and Marc Graf

Meskipun demikian, ketiganya mengakui AI memiliki beberapa kegunaan dalam alur kerja. Aleksander bekerja di lingkungan yang mengadopsi AI untuk tugas-tugas membosankan seperti memberi nama dan mengarsipkan visual. Christine menggunakan AI untuk noise reduction, meskipun mengaku prosesnya sangat memakan waktu. Namun, ia menegaskan prinsipnya: “Lebih sedikit AI lebih baik ketika berbicara tentang fotografi alam dan satwa liar.”

Marc berharap label “100% human made” menjadi standar dalam industri fotografi. “Saya bosan dengan semua gambar super sempurna di luar sana, baik yang sepenuhnya dihasilkan AI maupun yang terlalu dioptimalkan,” katanya.

Uni Eropa baru-baru ini mulai memberlakukan kewajiban transparansi bagi perusahaan teknologi untuk melabeli foto, video, atau audio yang dibuat menggunakan AI. Marc menyambut baik langkah ini dan berharap kebijakan serupa meluas ke komunitas fotografi.

Aleksander menyarankan fotografer baru untuk menggunakan peralatan yang menjaga keaslian karya. “Jual keaslian dan jangan mengandalkan jalan pintas berbasis AI. Jadilah produser dan dokumentator kehidupan nyata,” pesannya. Ia juga mengutip kolega almarhumnya, jurnalis perang Harald Henden: “Aset terpenting seorang fotografer adalah kredibilitas.”

Christine menekankan pentingnya etos yang jelas dalam fotografi alam. “Jangan hanya mengejar like dan perhatian; bidiklah makna, rasa hormat, dan dampak yang bertahan lama. AI dapat membantu alur kerja, tetapi tidak boleh digunakan untuk mendistorsi integritas alam,” tutupnya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.