📑 Daftar Isi

Ilustrasi Gen Z yang menolak penggunaan AI di berbagai aspek kehidupan

Gen Z Makin Benci AI, Hanya 18 Persen yang Masih Punya Harapan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Gelombang penolakan terhadap kecerdasan buatan (AI) semakin nyata di kalangan Gen Z. Sebuah jajak pendapat Gallup terbaru mengungkapkan bahwa hanya 18 persen dari generasi ini yang merasa “hopeful” atau penuh harapan terhadap AI, turun sembilan persen dibandingkan tahun 2025. Data ini menjadi indikator kuat bahwa resistensi terhadap teknologi yang digadang-gadang akan merevolusi industri tersebut sedang mencapai titik puncak.

Fenomena ini terjadi di tengah peringatan para pemimpin teknologi yang selama bertahun-tahun mengatakan bahwa AI akan memicu revolusi teknologi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang berpotensi menghilangkan banyak lapangan pekerjaan. Gen Z, sebagai generasi yang berada di episentrum dorongan adopsi AI, justru menjadi pihak yang paling vokal menolaknya.

Menurut laporan The Verge, reaksi balik ini sangat terlihat di kalangan Gen Z. Generasi ini menghadapi pasar kerja yang suram pasca-kelulusan, setelah kehilangan banyak masa muda mereka akibat pandemi COVID-19. Biasanya, anak muda menyukai inovasi baru. Namun bagi Gen Z, teknologi yang secara inheren dirancang untuk menggantikan peran manusia justru sangat tidak diterima dan memicu pemberontakan yang semakin besar.

“Saya rasa semua orang di kelompok pertemanan dekat saya tidak menggunakan AI dan secara aktif menentangnya, selain teman-teman saya yang berkuliah di ilmu komputer dan pada dasarnya diwajibkan menggunakannya,” ujar Sharon Freystaetter, yang meninggalkan pekerjaan teknologinya di Silicon Valley karena masalah etika, kepada The Verge.

Kekhawatiran Akademik dan Dampak Sosial

Anak muda memiliki banyak kekhawatiran yang valid. Berbagai efek samping negatif dari obsesi masyarakat terhadap AI generatif semakin sulit untuk diabaikan. Pusat data raksasa disebut-sebut merusak lingkungan dalam skala yang mengkhawatirkan, sementara penggunaan chatbot AI secara luas disebut mengikis kemampuan berpikir kritis dan mendorong sebagian orang ke dalam spiral delusi yang berbahaya.

Serangan AI ke dunia akademik menjadi salah satu pemicu utama kemarahan mereka. “AI tidak bisa hidup berdampingan dengan pendidikan — AI hanya bisa merusaknya,” demikian bunyi tajuk rencana pedas berjudul “Penn has an AI problem” yang diterbitkan oleh surat kabar mahasiswa University of Pennsylvania bulan lalu. “Seiring kemajuan teknologi dan pekerja digantikan oleh mesin, sekolah adalah salah satu dari sedikit tempat yang tersisa untuk mengeksplorasi dan bergulat dengan pemikiran manusia.”

The AI backlash is particularly apparent among Gen Z, a demographic that's at the epicenter of the industry's push for AI adoption.

Salah satu alasan utama kekecewaan di kalangan anak muda adalah kemampuan mereka untuk mengidentifikasi banyak kekurangan teknologi ini, mulai dari halusinasi yang merajalela hingga bahaya “cognitive offloading”, istilah yang merujuk pada saat seseorang mulai mengalihkan tugas-tugas mental kepada AI.

Sabotase Terhadap Strategi AI Perusahaan

Situasi telah mencapai titik di mana sebagian besar Gen Z bahkan sengaja melemahkan inisiatif AI dari atasan mereka. Menurut laporan terbaru dari perusahaan AI Writer dan firma riset Workplace Intelligent, sebanyak 44 persen pekerja Gen Z yang disurvei mengatakan mereka “menyabotase strategi AI perusahaan mereka setidaknya dalam satu cara,” mulai dari memasukkan informasi kepemilikan perusahaan ke dalam chatbot hingga menolak menggunakan alat AI secara langsung.

Fakta ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap AI bukan lagi sekadar sentimen pribadi, melainkan telah menjadi gerakan bawah tanah di tempat kerja. Gen Z, yang sering dipandang sebagai generasi yang melek teknologi, justru menjadi garda terdepan dalam perlawanan terhadap penerapan AI yang dipaksakan.

Implikasinya jelas: industri teknologi yang terus mendorong adopsi AI harus menghadapi kenyataan pahit bahwa generasi yang akan menjadi tulang punggung tenaga kerja justru menolak mentah-mentah teknologi tersebut. Tanpa perubahan pendekatan yang signifikan, kesenjangan antara ambisi korporasi dan realitas di lapangan diprediksi akan semakin melebar.