Ilustrasi survei pekerja Gen Z yang melakukan sabotase terhadap penerapan AI di perusahaan

Gen Z Paling Aktif Sabotase AI di Tempat Kerja, Survei Ungkap

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Survei terbaru mengungkap hampir sepertiga pekerja sengaja menyabotase inisiatif AI perusahaan mereka, dengan Gen Z menjadi kelompok paling aktif. Tindakan sabotase termasuk memasukkan informasi rahasia ke chatbot publik dan menggunakan output AI berkualitas rendah tanpa perbaikan.

Laporan dari perusahaan AI Writer dan firma riset Workplace Intelligence menemukan 29% dari 1.200 pekerja pengetahuan (knowledge workers) di AS, Inggris, dan Eropa mengakui perilaku sabotase. Survei ini juga melibatkan 1.200 eksekutif bisnis.

Di antara pekerja Gen Z, angka sabotase bahkan lebih mencolok, mencapai 44%. Dari mereka yang melaporkan merusak inisiatif AI, 30% menyebut otomatisasi AI sebagai kekhawatiran utama. Sebanyak 28% mengklaim AI internal memiliki “terlalu banyak masalah keamanan,” sementara 20% menyatakan kejengkelan karena AI justru menambah beban kerja harian.

Survei ungkap Gen Z paling aktif sabotase AI perusahaan

Di sisi lain, para eksekutif menghadapi tekanan tinggi dalam menerapkan strategi AI. Sebanyak 72% eksekutif yang disurvei mengakui strategi AI perusahaan menyebabkan mereka stres atau kecemasan, dengan 32% di antaranya menggambarkan stresnya sebagai “tinggi” atau melumpuhkan.

Terdapat kesenjangan signifikan dalam penggunaan AI antara kedua kelompok. Hanya 28% karyawan yang mengatakan mereka menggunakan AI lebih dari dua jam sehari. Sebaliknya, 64% eksekutif melaporkan hal yang sama. Hampir satu dari lima eksekutif mengaku menggunakan model AI selama empat atau lima jam sehari, dan satu dari 25 bahkan melebihi enam jam.

Laporan korporat tersebut menyarankan perusahaan dapat mengatasi beberapa kekhawatiran ini dengan berinvestasi pada platform dan mitra AI berkualitas lebih tinggi. Namun, banyak tantangan mengarah pada masalah mendalam dalam manajemen perubahan.

Termasuk melibatkan karyawan dalam upaya adopsi dan transparan tentang kasus penggunaan AI yang dituju dapat membantu meredakan ketakutan akan penggantian pekerjaan dan mengurangi risiko resistensi internal. Keefektifan pendekatan ini masih harus dibuktikan, mengingat tekanan otomatisasi dan dampak finansial potensial bagi pekerja.