Telset.id – Google menggunakan teknologi Gemini AI untuk menghidupkan kembali gol legendaris Pele yang tidak pernah terekam kamera. Proyek ini menjadi contoh penggunaan AI yang positif dan penuh makna di industri kreatif, berbeda dengan kontroversi yang kerap melingkupi teknologi serupa.
Pada tahun 1959, legenda sepak bola Brasil, Pele, mencetak gol yang ia anggap sebagai yang terbaik sepanjang kariernya. Dalam pertandingan tersebut, ia melewati tiga bek lawan dengan sombrero berturut-turut, melakukan knee flick melewati kiper, dan menyundul bola ke gawang. Sayangnya, momen epik yang dikenal sebagai “Gol da Rua Javari” itu tidak pernah diabadikan dalam rekaman video. Hanya seribu penonton dan pemain lain di lapangan yang menyaksikannya secara langsung.
Google memanfaatkan Gemini AI dan teknologi video generatif untuk merekonstruksi gol tersebut. Tim Google mewawancarai saksi mata yang masih hidup, mempelajari foto-foto lama, dan menciptakan ulang adegan di stadion yang sama. Proses ini melibatkan aktor sungguhan yang memerankan pemain, lengkap dengan seragam, sepatu hitam khas era tersebut, dan bola kulit berat.
Data dari reka ulang tersebut kemudian diproses menggunakan Gemini Omni, Nano Banana Pro image generator, dan Google Veo video engine. Hasilnya, visual direka ulang dengan gaya vintage yang sesuai dengan foto-foto tahun 1950-an. Pemeran pengganti yang mengenakan jersey nomor 10 digantikan dengan kemiripan digital Pele, dan seluruh stadion direkonstruksi secara digital.
Untuk memastikan akurasi periodik, Google menjalankan output digital melalui mesin filmout, menangkap tampilan khas sinema tahun 1950-an. Hasil akhirnya adalah video yang memperlihatkan gol legendaris Pele dengan detail yang memukau, mulai dari kontrol bola hingga penyelesaian akhir.
Yang membedakan proyek ini dari penggunaan AI kontroversial adalah adanya persetujuan dari keluarga Pele. Putri Pele menyatakan, “Dia akan sangat bangga melihat semua ini terjadi. Dia selalu mengatakan sayang gol itu tidak pernah direkam. Jadi bisa menghidupkannya kembali, dengan semua teknologi ini, sungguh luar biasa.” Proyek ini juga didukung oleh pesepakbola, penggemar, dan sejarawan sungguhan.
Baca Juga:
Penggunaan AI untuk menghidupkan kembali tokoh atau momen sejarah sering menuai kontroversi. Industri film dan televisi mendapat kritik karena menggunakan AI untuk menghidupkan aktor yang sudah meninggal, merekam lagu vintage yang belum selesai, atau menangani proses kreatif lainnya. Namun, proyek Pele ini menunjukkan bahwa AI bisa digunakan dengan cara yang penuh hormat dan beretika.
Google juga merilis foto-foto arsip yang digunakan dalam proses rekonstruksi. Foto-foto ini menunjukkan momen sundulan Pele dan kliping koran dari era tersebut. Arsip visual ini menjadi fondasi penting bagi tim Google untuk menciptakan ulang adegan dengan akurat.

Proyek ini menjadi contoh bagaimana AI dapat digunakan untuk melestarikan sejarah dan budaya. Tidak seperti banyak penggunaan AI yang dianggap sebagai “cash-grab” atau eksploitasi, proyek ini melibatkan kolaborasi dengan keluarga, sejarawan, dan komunitas sepak bola. Pendekatan ini memastikan bahwa hasil akhirnya menghormati warisan Pele dan memberikan nilai edukatif bagi generasi mendatang.

Keberhasilan proyek ini juga menunjukkan potensi besar dari teknologi AI generatif. Dengan menggabungkan data visual, wawancara saksi, dan reka ulang fisik, Google mampu menciptakan konten yang sebelumnya mustahil dihasilkan. Ini membuka peluang baru untuk dokumentasi sejarah dan pelestarian momen-momen penting yang tidak terekam.
Bagi penggemar sepak bola dan teknologi, proyek ini memberikan pengalaman unik untuk menyaksikan momen yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan. Gol Pele yang legendaris kini bisa dinikmati dalam bentuk video, berkat kombinasi kecerdasan buatan dan dedikasi tim Google.
Proyek ini juga menjadi bukti bahwa AI dapat digunakan untuk tujuan positif. Di tengah kekhawatiran tentang dampak AI terhadap industri kreatif, inisiatif seperti ini menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi alat untuk menghormati dan melestarikan warisan budaya.





Komentar
Belum ada komentar.