Iklan Google Workspace menampilkan pendiri bangsa AS menggunakan AI Gemini

Google Iklan AI Kemerdekaan AS yang Kontroversial

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Google meluncurkan iklan kontroversial untuk Google Workspace yang menampilkan pendiri bangsa AS menggunakan AI Gemini
  • Iklan menggambarkan Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, dan John Adams menggunakan Google Docs, Google Meet, dan Gemini
  • Sejarawan CUNY Angus Johnston mengkritik keras iklan tersebut sebagai tidak berguna dan tidak peka
  • Iklan memicu perdebatan tentang peran AI dalam proses kreatif dan pengambilan keputusan
  • Kontroversi terjadi di tengah upaya Google mengembangkan dan memasarkan produk AI

Telset.id – Google baru saja meluncurkan iklan terbaru untuk Google Workspace yang langsung menuai kontroversi. Iklan tersebut menampilkan para pendiri bangsa Amerika Serikat pada tahun 1776 yang menggunakan berbagai alat kolaborasi modern dari Google, termasuk kecerdasan buatan Gemini, untuk membantu mereka menulis Deklarasi Kemerdekaan.

Iklan yang dipublikasikan di kanal YouTube Google ini langsung mendapat reaksi negatif dari berbagai kalangan. Banyak yang menilai pendekatan kreatif tersebut tidak hanya canggung, tetapi juga tidak peka terhadap sejarah. Dalam iklan berdurasi pendek tersebut, Benjamin Franklin mengirim pesan teks kepada Thomas Jefferson untuk mengecek status draf deklarasi.

Jefferson kemudian memotret dokumennya dan menggunakan AI untuk mentranskripsikannya ke dalam Google Doc. Franklin dan John Adams pun ikut mengedit menggunakan mode saran, sementara Gemini mencari waktu meeting yang cocok dan mencatat selama panggilan Google Meet. Adegan diakhiri dengan para pendiri bangsa yang meminta saran Gemini apakah akan memberikan akses edit kepada Raja George III.

Konsep iklan yang bertajuk “Group project, but make it 1776” ini langsung mendapat kecaman keras. Sejarawan CUNY, Angus Johnston, melalui akun Bluesky-nya dengan tegas mengkritik pendekatan Google. Ia menyatakan bahwa bahkan dalam lelucon yang konyol sekalipun, tidak mungkin untuk membuktikan bahwa AI adalah alat yang berguna untuk pengorganisasian politik, penulisan, atau kolaborasi manusia.

Kritik juga datang dari berbagai spektrum politik di Amerika Serikat. Banyak yang menilai iklan tersebut tidak hanya konyol, tetapi juga tidak peka terhadap isu-isu sejarah yang kompleks. Beberapa pihak bahkan mempertanyakan apa yang akan terjadi jika para pendiri bangsa bertanya kepada Gemini tentang hak pilih perempuan, perbudakan, atau Manifest Destiny.

Google sendiri tampaknya ingin menunjukkan bagaimana Fitur Terbaru dari Google Workspace dan Gemini bisa digunakan dalam berbagai situasi, termasuk situasi historis. Namun, pendekatan ini justru dianggap terlalu dipaksakan dan tidak relevan dengan konteks sejarah yang sebenarnya.

Iklan ini juga memunculkan pertanyaan lebih luas tentang bagaimana perusahaan teknologi seperti Google memasarkan produk AI mereka kepada publik. Di tengah meningkatnya skeptisisme terhadap kecerdasan buatan, pendekatan kreatif seperti ini justru bisa menjadi bumerang bagi citra perusahaan.

Sejumlah pengamat industri menilai bahwa Google seharusnya lebih berhati-hati dalam memilih narasi untuk kampanye pemasaran AI mereka. Mengingat pentingnya peristiwa bersejarah seperti Deklarasi Kemerdekaan AS, menggunakannya sebagai latar belakang lelucon tentang AI dianggap tidak menghormati nilai-nilai historis yang terkandung di dalamnya.

Selain itu, iklan ini juga memicu diskusi tentang peran AI dalam proses kreatif dan pengambilan keputusan. Para pendiri bangsa AS dikenal sebagai pemikir-pemikir hebat yang melakukan perdebatan panjang dan mendalam sebelum mengambil keputusan besar. Menggambarkan mereka menggunakan AI untuk mencari saran justru dianggap meremehkan proses intelektual yang sesungguhnya terjadi.

Google belum memberikan tanggapan resmi terkait kontroversi ini. Namun, iklan tersebut tetap dapat ditonton di kanal YouTube mereka dan terus menjadi bahan perbincangan di berbagai platform media sosial. Beberapa pihak bahkan menduga bahwa kontroversi ini justru menguntungkan Google karena membuat iklan mereka semakin viral.

Di sisi lain, ada juga yang membela pendekatan Google dengan alasan bahwa iklan tersebut hanyalah lelucon ringan dan tidak dimaksudkan untuk merendahkan sejarah. Namun, argumen ini kalah kuat dibandingkan dengan kritik yang datang dari sejarawan dan akademisi yang menganggap pendekatan tersebut tidak tepat.

Kontroversi ini terjadi di tengah upaya Google untuk terus mengembangkan dan memasarkan produk AI mereka. Perusahaan asal Mountain View tersebut baru-baru ini juga mengumumkan Fitur Pemesanan Makanan melalui AI Gemini di Google Maps, menunjukkan komitmen mereka untuk mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam berbagai layanan.

Di sisi internal, Google juga menghadapi tantangan dalam mengelola tenaga kerja AI mereka. Negosiasi Serikat Pekerja DeepMind dengan Google yang mandek menjadi indikasi bahwa tidak semua berjalan mulus di dalam perusahaan.

Iklan kontroversial ini menjadi pengingat bahwa pemasaran produk AI membutuhkan pendekatan yang lebih hati-hati dan sensitif. Mengingat kecerdasan buatan masih menjadi topik yang sensitif bagi banyak orang, penggunaan narasi sejarah dalam kampanye pemasaran harus dipertimbangkan dengan matang.

Para pendiri bangsa AS mungkin tidak pernah membayangkan bahwa 250 tahun kemudian, alat digital dan kecerdasan buatan akan digunakan untuk “membantu” mereka menulis Deklarasi Kemerdekaan. Namun, satu hal yang pasti: reaksi publik terhadap iklan ini menunjukkan bahwa tidak semua inovasi teknologi perlu dirayakan dengan cara yang kontroversial.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.