📑 Daftar Isi

Ilustrasi sistem penamaan baru grup peretas oleh Google Threat Intelligence Group

Google Resmi Ubah Sistem Penamaan Grup Peretas Dunia

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Google resmi mengganti sistem penamaan grup peretas dari skema angka (APT1, APT41) ke sistem nama acak + kode negara
  • Sistem baru menggunakan kata Castle (Tiongkok), Ion (Iran), Neptune (Korea Utara), Relic (Rusia)
  • Google kini melacak lebih dari 5.000 activity clusters di berbagai negara
  • Perombakan dipimpin Shane Huntley, CTO Google Threat Intelligence Group
  • Tujuan penamaan: memudahkan organisasi mengenali ancaman dan merespons insiden lebih cepat
  • Peretas negara lebih mudah dilacak dibanding grup cybercriminal dan hacker-for-hire
  • Setiap perusahaan tetap memiliki visi berbeda karena tidak ada visibilitas sempurna
  • Penyatuan skema Google Threat Analysis Group dan Mandiant mengurangi kebingungan industri

Telset.id – Google resmi merombak sistem penamaan untuk grup peretas yang selama ini digunakan, menggantikan skema berbasis angka seperti APT1 atau APT41 dengan sistem baru yang lebih sederhana dan mudah diingat. Perubahan ini diumumkan langsung oleh Google Threat Intelligence Group dan berdampak pada cara industri keamanan siber global mengidentifikasi aktor-aktor di balik serangan siber.

Sistem baru tersebut menggunakan kombinasi nama depan yang acak dan mudah diingat, serta kata kedua yang huruf awalnya menunjukkan negara asal grup peretas. Google menggunakan kata “Castle” untuk Tiongkok, “Ion” untuk Iran, “Neptune” untuk Korea Utara, dan “Relic” untuk Rusia. Langkah ini diambil untuk menghadirkan kejelasan bagi para peneliti keamanan, baik di internal perusahaan maupun di luar.

Alasan Di Balik Perombakan Sistem Penamaan

Shane Huntley, chief technology officer Google Threat Intelligence Group, menjelaskan bahwa perombakan ini menjadi kebutuhan mendesak. Pada awal 2010-an, ketika perusahaan mulai menerbitkan laporan tentang serangan siber dan menamai peretas di baliknya, jumlah grup yang teridentifikasi masih terbatas. Huntley mengungkapkan kepada TechCrunch bahwa saat itu “kami tidak menyangka akan memiliki grup ancaman sebanyak sekarang.”

Faktanya, Google kini melacak lebih dari 5.000 “activity clusters” di berbagai negara, menurut John Hultquist, chief analyst di Google Threat Intelligence Group. Huntley juga menyebut bahwa sangat sedikit negara maju yang tidak memiliki kemampuan siber dan grup peretas sendiri. Pertumbuhan jumlah ini membuat sistem penamaan berbasis angka menjadi tidak praktis dan sulit dilacak.

Sistem lama yang diadopsi dari Mandiant, firma keamanan independen yang kini menjadi bagian dari Google, memang menjadi standar pertama dalam industri. Namun, dengan semakin banyaknya grup yang teridentifikasi, sistem tersebut dianggap kurang efektif. Mandiant sendiri merupakan perusahaan pertama yang mengadopsi skema penamaan untuk grup peretas.

Pentingnya Penamaan Grup Peretas bagi Keamanan Siber

Penamaan grup peretas bukan sekadar latihan akademis. Huntley menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah membangun pemahaman dasar tentang siapa yang menyerang siapa, dan bagaimana metode serangan mereka. Dengan pemahaman ini, organisasi dapat mengenali ancaman lebih cepat, mempersiapkan diri, menghentikan serangan, atau setidaknya menyelidiki insiden dengan lebih sigap.

Semua itu hanya mungkin dilakukan jika para peretas diberi nama dan dilacak secara konsisten. Huntley memberikan contoh konkret: “Jika Anda benar-benar diretas oleh mereka atau sedang menangani suatu insiden, mengetahui bagaimana aktor tersebut berperilaku, apa yang mereka lakukan, apa yang pernah mereka lakukan di masa lalu, semua detail ini menjadi sangat penting untuk membantu respons dan juga menyusun perlindungan terhadap ancaman tersebut.”

Sebagai ilustrasi, mengetahui bagaimana perilaku grup peretas pemerintah Korea Utara yang dikenal sebagai Lazarus Group, apa tujuan umum mereka, dan untuk siapa mereka bekerja, memberikan titik awal bagi para pembela sistem untuk menangani peretas tersebut.

Menariknya, melacak peretas yang disponsori negara relatif lebih mudah dibandingkan melacak grup cybercriminal dan hacker-for-hire. Huntley menjelaskan bahwa peretas pemerintah cenderung memiliki target dan aktivitas yang lebih konsisten. Sementara itu, grup cybercriminal memiliki anggota yang datang dan pergi, kadang terpecah, dan secara keseluruhan lebih amorf. Grup hacker-for-hire dan pembuat spyware juga cenderung memiliki banyak pelanggan di berbagai belahan dunia, membuat pelacakan mereka sedikit lebih sulit.

Kritik dan Tantangan Penyatuan Skema Penamaan

Kritik yang umum muncul setiap kali sistem penamaan baru diumumkan adalah pertanyaan: mengapa tidak semua perusahaan dan organisasi menggunakan nama kode yang sama? Meskipun terdengar sederhana, kenyataannya setiap perusahaan memiliki sudut pandang yang sedikit berbeda terhadap setiap grup, berdasarkan kumpulan data dan telemetri mereka sendiri.

Huntley menyebut ini sebagai realitas yang tak terelakkan dan tidak bisa dihindari hanya dengan berbagi informasi antar perusahaan dan kelompok peneliti. “Tidak ada yang memiliki visibilitas sempurna,” ujarnya. “Kami membangun model dan pemahaman terbaik kami, tetapi kami tidak akan pernah tahu segalanya tentang apa yang terjadi.”

Dengan menyatukan skema penamaan dari Google Threat Analysis Group yang lama, yang sebelumnya dipimpin Huntley, dan Mandiant, setidaknya kini ada satu skema yang lebih sedikit untuk diingat. Langkah ini menjadi bagian dari upaya industri untuk menciptakan konsistensi di tengah kompleksitas yang terus berkembang.

Bagi para profesional keamanan siber, pemerintah, pembuat kebijakan, jurnalis, dan masyarakat luas, sumber daya seperti daftar komprehensif yang dirujuk dalam artikel asli tetap menjadi alat penting untuk memahami siapa siapa di dunia peretasan. Sistem baru Google ini diharapkan dapat mengurangi kebingungan yang selama ini terjadi karena setiap perusahaan menamai grup peretas secara berbeda.

Perubahan sistem penamaan ini juga relevan dengan perkembangan ekosistem digital yang lebih luas. Seiring dengan meningkatnya kompleksitas ancaman siber, kolaborasi dan standarisasi di industri menjadi semakin krusial. Google sendiri tengah gencar melakukan berbagai pembaruan di ekosistemnya, termasuk untuk layanan-layanan produktivitas. Bagi pengguna yang ingin memahami lebih jauh tentang ekosistem Google, informasi mengenai Cara Menghilangkan Gemini dari Google Docs bisa menjadi panduan yang bermanfaat.

Selain itu, Google juga terus berinovasi di berbagai lini produk. Misalnya, perusahaan baru saja meluncurkan Fitur Saldo Anak di Google Wallet untuk pembayaran NFC. Di sisi lain, perusahaan juga aktif bersaing di pasar perangkat wearable dengan teaser Pixel Watch 5 yang menyindir desain kompetitor.

Dengan sistem penamaan baru ini, Google berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi industri keamanan siber global. Konsistensi dalam penamaan akan memudahkan kolaborasi antar organisasi, mempercepat respons terhadap insiden, dan pada akhirnya membantu melindungi organisasi dan individu dari ancaman siber yang semakin canggih. Perubahan ini menjadi tonggak penting dalam evolusi cara industri memahami dan melacak aktor-aktor di balik serangan siber dunia.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.