GPT-6 Astra bermain game Portal secara otonom menggunakan Model Context Protocol

GPT-6 Astra Selesaikan Portal Secara Otonom dengan Biaya API Rp 9 Jutaan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • GPT-6 Astra menyelesaikan game Portal dari Valve secara otonom
  • Eksperimen dilakukan oleh CozyBlaze menggunakan MCP dan SourcePauseTool
  • Total 3.336 tool calls dengan biaya API USD 571,18 (Rp 9 jutaan)
  • Biaya ditanggung langganan Codex Pro senilai USD 200
  • Video highlight berdurasi 2 jam dari total VOD 24 jam
  • Mengingatkan pada visi OpenAI 2016 tentang satu agen untuk berbagai game
  • CozyBlaze menegaskan ini bukan benchmark AI resmi
  • Portal Agent tersedia di GitHub untuk dieksplorasi publik
  • GPT-6 Astra menjadi model flagship OpenAI bulan ini

Telset.id – OpenAI GPT-6 Astra berhasil menyelesaikan seluruh permainan Portal dari Valve secara otonom. Pencapaian ini menjadi demonstrasi nyata kemampuan multimodal AI dalam menangani tugas kompleks yang membutuhkan perencanaan dan eksekusi berkelanjutan.

Eksperimen yang dilakukan oleh seorang penggemar AI berjuluk CozyBlaze ini menghasilkan 3.336 tool calls selama proses bermain. Total biaya API yang tercatat mencapai USD 571,18 atau sekitar Rp 9 jutaan, namun CozyBlaze mengklarifikasi bahwa biaya tersebut ditanggung oleh langganan Codex Pro senilai USD 200 yang mereka miliki.

Pencapaian ini menarik karena sebelumnya AI bahkan kesulitan bermain catur di Atari 2600. Kini, model generasi terbaru OpenAI tersebut mampu menavigasi puzzle 3D yang membutuhkan pemahaman spasial dan logika fisika secara mendalam.

CozyBlaze menjelaskan bahwa GPT-6 Astra mengendalikan Portal melalui MCP (Model Context Protocol) yang dikombinasikan dengan modifikasi SourcePauseTool. Metode ini memungkinkan game tetap dalam keadaan pause saat model berpikir, kemudian melanjutkan eksekusi ketika input telah disiapkan.

GPT-6 Astra Plays Portal - YouTube

Selama proses berpikir, Astra menerima screenshot dan informasi tentang posisi karakter pemain. Setelah itu, game dilanjutkan dan Astra mengeksekusi rangkaian gerakan serta input yang telah direncanakannya. Video highlight yang diedit berdurasi sekitar 2 jam, sementara total VOD streams mencapai sekitar 24 jam.

Menariknya, CozyBlaze mengingat bahwa pada tahun 2016, OpenAI pernah menyebutkan tujuan teknisnya untuk “menyelesaikan berbagai macam game menggunakan satu agen.” Pencapaian ini dipandang sebagai langkah mendekati visi awal tersebut.

Meski demikian, CozyBlaze tetap bersikap pragmatis terhadap pencapaian ini. Mereka mengakui masih banyak masalah yang perlu dipecahkan dan menegaskan bahwa permainan ini tidak boleh dianggap sebagai benchmark AI. Namun, menyaksikan agen tujuan umum menavigasi dan menyelesaikan seluruh game terasa seperti gambaran kecil dari visi awal yang mulai menjadi kenyataan.

Bagi yang tertarik mengeksplorasi lebih dalam, CozyBlaze telah membagikan Portal Agent mereka di GitHub lengkap dengan instruksi untuk mencobanya sendiri.

GPT-6 Astra resmi menjadi model flagship OpenAI pada awal bulan ini. OpenAI mengklaim model baru ini menawarkan “generasi kecerdasan baru” dan menjadi yang terdepan dalam penggunaan komputer, browsing, rekayasa perangkat lunak, keamanan siber, sains, dan pekerjaan profesional.

Eksperimen ini menunjukkan bahwa kemampuan agen AI untuk menyelesaikan tugas kompleks di dunia nyata semakin matang. Meskipun biaya operasionalnya masih tinggi dan prosesnya belum efisien, kemampuan untuk memahami konteks visual dan merencanakan tindakan secara otonom merupakan kemajuan signifikan dalam pengembangan AI.

Perjalanan GPT-6 Astra dalam menyelesaikan Portal juga menyoroti perkembangan pesat OpenAI dalam beberapa tahun terakhir. Dari sekadar visi tahun 2016 hingga implementasi nyata yang dapat disaksikan publik, kemajuan ini memberikan gambaran tentang arah pengembangan AI ke depan.

Bagi pengembang dan peneliti AI, eksperimen semacam ini memberikan wawasan berharga tentang bagaimana model bahasa besar dapat diintegrasikan dengan lingkungan interaktif. Metode yang digunakan CozyBlaze melalui MCP dan SourcePauseTool dapat menjadi referensi untuk eksperimen serupa di bidang lain.

Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa menyelesaikan satu game bukan berarti AI telah memiliki pemahaman atau kecerdasan seperti manusia. Komentar dari forum menunjukkan bahwa sebagian pihak masih memandang pencapaian ini sebagai eksekusi instruksi panjang oleh agen AI, bukan bukti kecerdasan sejati.

Salah satu komentar menarik muncul ketika AI dimintai komentar setelah menyelesaikan game. Astra justru bertanya, “Kapan sekuelnya akan dirilis?” Respons ini menunjukkan bahwa meskipun mampu menyelesaikan tugas kompleks, AI masih memiliki keterbatasan dalam memahami konteks sosial dan nuansa komunikasi manusia.

Ke depannya, ekspektasi terhadap kemampuan AI untuk bermain game kemungkinan akan meningkat. Beberapa pengamat bahkan memperkirakan akan ada yang mencoba membuka akun Steam untuk AI dan memintanya menyelesaikan berbagai game untuk mendapatkan pencapaian. Namun, hal tersebut masih menjadi spekulasi yang belum terkonfirmasi.

Eksperimen CozyBlaze ini menjadi catatan penting dalam perjalanan pengembangan AI. Dengan biaya yang relatif terjangkau melalui langganan Codex Pro, eksperimen semacam ini membuka peluang bagi lebih banyak pengembang untuk mengeksplorasi kemampuan model AI dalam berbagai aplikasi interaktif.

Keberhasilan GPT-6 Astra menyelesaikan Portal juga berpotensi mendorong penelitian lebih lanjut tentang bagaimana AI dapat digunakan dalam pengujian game, pengembangan konten, atau bahkan desain level secara otomatis. Namun, semua potensi tersebut masih membutuhkan penelitian dan pengembangan lebih lanjut.

Perlu dicatat bahwa informasi mengenai perkembangan AI dari OpenAI terus berlanjut. Beberapa isu terkait juga tengah menjadi perhatian publik, termasuk insiden yang melibatkan insiden Wiki Jerman yang telah diakui OpenAI, serta berbagai tantangan hukum dan etika yang menyertai pengembangan teknologi ini.

Pencapaian GPT-6 Astra dalam menyelesaikan Portal secara otonom merupakan tonggak yang menarik dalam pengembangan AI. Meskipun masih jauh dari kecerdasan umum yang sesungguhnya, kemampuan ini menunjukkan bahwa batas-batas yang sebelumnya dianggap mustahil bagi AI perlahan mulai bergeser.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.