📑 Daftar Isi

AI avatar HeyGen yang digunakan Harvard Business School untuk memberikan umpan balik kepada peserta bootcamp

Harvard Business School Pakai AI Avatar untuk Feedback Peserta Bootcamp

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Harvard Business School menggunakan AI avatar dari HeyGen untuk memberikan feedback individual di program HBS Foundry
  • Program bootcamp delapan minggu dengan biaya $699 untuk para wirausahawan
  • AI avatar memberikan umpan balik selama sesi latihan pitch dan rapat dewan
  • Sarah Kessler dari New York Times mencoba langsung pitch ke AI avatar Jeff Bussgang
  • Project director Katharina Rings awalnya membayangkan chatbot, namun mahasiswa menginginkan pengalaman lebih terarah
  • Peserta Foundry menyukai pengalaman dengan AI avatar meski ada sentimen negatif terhadap AI
  • Bussgang mengakui digital copy-nya "menyeramkan" tapi mahasiswa menyukainya

Telset.id – Harvard Business School (HBS) kini memanfaatkan AI avatar untuk memberikan umpan balik individual kepada peserta program bootcamp kewirausahaannya. Inisiatif ini menjadi langkah terbaru institusi pendidikan ternama dalam mengadopsi teknologi kecerdasan buatan untuk memperluas jangkauan pembelajaran mereka.

AI avatar tersebut diciptakan oleh startup bernama HeyGen dan diintegrasikan ke dalam program HBS Foundry, sebuah bootcamp delapan minggu untuk para wirausahawan dengan biaya $699. Program ini menawarkan sesi langsung dengan instruktur setiap minggunya, namun AI avatar-lah yang bertugas memberikan umpan balik selama sesi latihan pitch dan rapat dewan.

Pengalaman Jurnalis New York Times dengan AI Avatar

Reporter New York Times, Sarah Kessler, mencoba langsung pengalaman ini dengan melakukan pitch di depan salinan AI dari Jeff Bussgang, co-founder Flybridge Capital. Menariknya, baik Bussgang asli maupun versi simulacra-nya sama-sama tidak terkesan dengan rencananya untuk membangun “Uber untuk pisang”. Kessler mencatat bahwa versi virtual Bussgang menampilkan senyuman yang terasa beku selama sesi pitch berlangsung.

Proyek ini dipimpin oleh Katharina Rings selaku project director. Rings mengungkapkan bahwa ia awalnya membayangkan komponen AI ini lebih mirip dengan chatbot. Namun, setelah HBS merilis versi uji coba, para mahasiswa justru menginginkan pengalaman yang lebih terarah dan terstruktur.

Meskipun sebagian mahasiswa perguruan tinggi tidak segan-segan mengekspresikan perasaan negatif mereka terhadap AI, para peserta Foundry menyampaikan kepada Kessler bahwa mereka menyukai kehadiran avatar-avatar ini. Hal ini menunjukkan respons positif dari kelompok pengguna yang menjadi target utama program tersebut.

Bussgang sendiri mengakui bahwa salinan digital dirinya terasa sedikit “menyeramkan”, namun ia menyatakan, “Murid-murid saya menyukainya.” Pernyataan ini memperkuat bukti bahwa pendekatan AI avatar mendapat sambutan hangat dari para peserta didik.

Transformasi Metode Pembelajaran di Harvard

Langkah Harvard Business School ini mencerminkan tren yang lebih luas dalam dunia pendidikan tinggi untuk mengeksplorasi potensi AI. Penggunaan avatar digital untuk simulasi interaksi bisnis menjadi salah satu cara institusi pendidikan menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik.

Program HBS Foundry dirancang khusus untuk membantu para wirausahawan mengembangkan keterampilan mereka dalam waktu delapan minggu. Dengan biaya $699, peserta mendapatkan akses ke sesi langsung mingguan bersama instruktur serta pengalaman latihan yang difasilitasi oleh AI avatar.

Umpan balik yang diberikan oleh AI avatar ini menjadi komponen penting dalam proses pembelajaran. Para peserta dapat berlatih pitch dan simulasi rapat dewan tanpa tekanan menghadapi tokoh bisnis sungguhan, sambil tetap menerima evaluasi yang konstruktif.

Kehadiran teknologi HeyGen dalam program ini menunjukkan bagaimana startup teknologi dapat berkolaborasi dengan institusi pendidikan ternama. HeyGen berhasil menciptakan avatar yang cukup realistis untuk digunakan dalam konteks pembelajaran profesional.

Respons para peserta yang menyukai pengalaman dengan AI avatar ini menjadi indikator bahwa pendekatan tersebut efektif. Meskipun beberapa kalangan masih skeptis terhadap penggunaan AI dalam pendidikan, data dari program ini menunjukkan penerimaan yang positif dari pengguna langsung.

Bussgang, yang digital copy-nya digunakan dalam program tersebut, memberikan perspektif menarik tentang pengalamannya. Meskipun menganggap versi digitalnya sedikit “menyeramkan”, ia mengakui bahwa para mahasiswa sangat antusias dengan teknologi ini.

Pengembangan AI avatar untuk pendidikan ini sejalan dengan berbagai inovasi lain yang dilakukan oleh para peneliti Harvard. Institusi ini secara konsisten mengeksplorasi penerapan teknologi baru di berbagai bidang, termasuk penelitian antarbintang dan pengembangan solusi kesehatan.

Pendekatan Harvard Business School ini berbeda dengan model chatbot tradisional. Alih-alih sekadar memberikan respons tekstual, AI avatar menawarkan simulasi visual yang lebih mendekati interaksi manusia nyata, lengkap dengan ekspresi wajah dan bahasa tubuh.

Rings menjelaskan bahwa visi awalnya untuk menggunakan chatbot berubah setelah mendengar masukan dari mahasiswa pada versi uji coba. Para mahasiswa menginginkan pengalaman yang lebih terarah, yang kemudian mendorong pengembangan solusi yang lebih canggih dengan HeyGen.

Program ini juga menjadi contoh bagaimana institusi pendidikan dapat mengukur efektivitas teknologi AI dalam konteks pembelajaran. Dengan adanya umpan balik langsung dari peserta, HBS dapat terus menyempurnakan pendekatan mereka.

Penggunaan AI avatar dalam pendidikan bisnis membuka kemungkinan baru untuk skala pembelajaran. Institusi dapat memberikan pengalaman praktis kepada lebih banyak mahasiswa tanpa memerlukan keterlibatan langsung dari para profesional bisnis dalam jumlah besar.

Bagi para wirausahawan yang mengikuti program ini, kehadiran AI avatar memberikan kesempatan untuk berlatih dalam lingkungan yang aman. Mereka dapat mengasah keterampilan presentasi dan negosiasi sebelum menghadapi situasi nyata di dunia bisnis.

Inovasi ini juga menunjukkan bahwa institusi pendidikan ternama seperti Harvard terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Pendekatan ini dapat menjadi model bagi institusi lain yang ingin mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum mereka.

Ke depannya, pengembangan teknologi serupa berpotensi diterapkan di berbagai bidang pendidikan lainnya. Namun, efektivitasnya akan sangat bergantung pada kemampuan teknologi untuk meniru kompleksitas interaksi manusia secara meyakinkan.

Kolaborasi antara Harvard Business School dan HeyGen menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana riset dan inovasi dapat diterjemahkan menjadi solusi praktis. Keberhasilan program ini akan menjadi tolok ukur bagi adopsi AI avatar di institusi pendidikan lain.

Dengan respons positif dari peserta dan pengakuan dari tokoh bisnis seperti Bussgang, penggunaan AI avatar untuk umpan balik pembelajaran tampaknya akan terus berkembang. Harvard Business School telah membuktikan bahwa teknologi ini dapat menjadi alat yang efektif dalam pendidikan kewirausahaan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.