Telset.id – Huawei mengumumkan strategi baru yang tidak konvensional untuk memproduksi chip canggih. Perusahaan asal China itu menargetkan mampu membuat chip dengan kepadatan transistor setara proses 1.4 nm pada tahun 2031, sebuah lompatan besar di tengah sanksi teknologi Amerika Serikat yang masih membelenggu.
Pengumuman ini disampaikan langsung oleh He Tingbo, Presiden bisnis semikonduktor Huawei, dalam pidato utamanya di ajang 2026 IEEE International Symposium on Circuits and Systems (ISCAS) di Shanghai pada Senin lalu. Alih-alih mengejar pengecilan ukuran transistor secara tradisional, Huawei mengandalkan pendekatan inovatif yang disebut Tau Scaling Law.
Pendekatan ini dinilai sebagai respons atas sanksi AS yang terus diperketat sejak 2019. Huawei masuk dalam Entity List AS, yang kemudian diperparah dengan aturan Foreign Direct Product Rule (FDPR) pada 2020. Aturan ini melarang Huawei mengakses chip mutakhir dari pengecoran (foundry) mana pun yang menggunakan peralatan dan perangkat lunak buatan AS.
Mengapa Huawei Kesulitan Mendapatkan Chip Canggih?
Dua pengecoran chip terbesar di dunia, TSMC dan Samsung Foundry, sama-sama bergantung pada peralatan dan perangkat lunak buatan AS. Akibatnya, unit desain chip Huawei, HiSilicon, tidak bisa memproduksi chip dengan kepadatan dan jumlah transistor setinggi milik TSMC atau Samsung Foundry. Chip dengan kepadatan transistor tinggi biasanya memiliki jumlah transistor yang besar, membuatnya lebih bertenaga dan efisien secara energi.
Pada awalnya, Huawei mendapat izin untuk menggunakan versi khusus prosesor aplikasi (AP) Qualcomm Snapdragon yang dimodifikasi agar hanya bekerja dengan jaringan 4G, bukan 5G. Beberapa ponsel flagship yang menggunakan solusi ini antara lain:
- 2021: Huawei P50 dan P50 Pro (Snapdragon 888 4G)
- 2022: Huawei Mate 50 dan Mate 50 Pro (Snapdragon 8+ Gen 1 4G)
- 2023: Huawei P60, P60 Pro, dan Mate X3 (Snapdragon 8+ Gen 1 4G)
Namun, untuk seri Mate 60, Huawei ingin menghadirkan kembali dukungan 5G. Perusahaan kemudian mendesain chip Kirin baru dan menggandeng SMIC, pengecoran chip terbesar di China, untuk memproduksinya. Sayangnya, sanksi AS juga menghalangi SMIC untuk mendapatkan mesin lithografi canggih, yaitu mesin Extreme Ultraviolet (EUV) lithography, yang hanya diproduksi oleh satu perusahaan di dunia.
Mesin EUV dengan panjang gelombang 13.5 nm memungkinkan pencetakan garis yang jauh lebih tipis pada wafer silikon, sehingga menghasilkan kepadatan transistor yang lebih tinggi. SMIC hanya diizinkan memiliki mesin lithografi generasi sebelumnya, yaitu Deep Ultraviolet (DUV) lithography, dengan panjang gelombang 193 nm.
Untuk mengatasi keterbatasan ini, Huawei menggunakan teknik multiple patterning, yaitu mencetak desain sirkuit dua kali atau lebih pada wafer. Meski begitu, Huawei hanya mampu memproduksi chip 7 nm untuk Mate 60 Pro pada 2023, sementara Apple saat itu sudah menggunakan chip A17 Pro 3 nm untuk iPhone 15 Pro dan iPhone 15 Pro Max. Namun, untuk pertama kalinya sejak 2020, Huawei berhasil menjual ponsel flagship dengan dukungan 5G penuh pada 2023.
Strategi Baru: Tau Scaling Law dan LogicFolding
Huawei sadar bahwa ketergantungan pada pengecilan transistor secara tradisional sangat sulit dilakukan selama sanksi AS masih berlaku. Oleh karena itu, perusahaan mencari alternatif melalui peningkatan desain chip. Konsep yang dipresentasikan di ISCAS 2026 ini disebut Tau Scaling Law, sebuah metode yang mengurangi waktu yang dibutuhkan sinyal dan data untuk bergerak melalui chip dan sistem komputasi.
Huawei mengklaim telah menerapkan Tau Scaling Law pada 381 chip selama enam tahun terakhir. Chip-chip ini digunakan untuk industri ponsel pintar dan komputasi AI. Mulai musim gugur tahun ini, Huawei akan menggunakan LogicFolding, sebuah arsitektur terkait yang memperpendek jalur kabel di dalam chip, untuk meningkatkan performa pada chip Kirin.
Dengan pendekatan ini, Huawei menargetkan mampu mendesain chip pada 2031 yang memiliki kepadatan transistor setara dengan chip 1.4 nm. Sebagai perbandingan, TSMC dijadwalkan memulai produksi massal chip 1.4 nm pada paruh kedua 2028. Meskipun masih tertinggal beberapa tahun, Huawei dinilai berhasil memangkas jarak secara dramatis dibandingkan pengecoran chip terkemuka lainnya.
Sebelumnya, Huawei juga telah mencoba berbagai cara lain untuk menghindari sanksi AS, termasuk mematenkan mesin lithografi canggih buatan sendiri. Namun, hingga saat ini, langkah tersebut belum membuahkan hasil yang signifikan. Tau Scaling Law tampaknya menjadi jalan terbaik Huawei saat ini untuk mendapatkan chip setara proses node canggih.
Untuk informasi lebih lanjut tentang ekosistem perangkat Huawei, Anda dapat membaca artikel tentang Fitur Terbaru jam tangan pintar mereka. Selain itu, perkembangan chip ini juga bisa menjadi modal penting bagi Huawei untuk bersaing di pasar ponsel lipat, seperti yang terlihat dari Persaingan Ponsel di segmen tersebut.
Baca Juga:
Strategi baru ini menunjukkan bahwa Huawei tidak tinggal diam di tengah tekanan geopolitik. Dengan mengandalkan inovasi desain, perusahaan berusaha mengejar ketertinggalan teknologi dari para pesaingnya. Jika berhasil, ini bisa menjadi titik balik bagi industri semikonduktor China dan mengubah peta persaingan chip global dalam beberapa tahun ke depan.
Meskipun masih ada keraguan mengenai implementasi dan efektivitas Tau Scaling Law dalam skala produksi massal, pengumuman ini setidaknya memberikan secercah harapan bagi Huawei. Perusahaan tampaknya optimistis dapat mempertahankan eksistensinya di pasar ponsel pintar dan komputasi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada rantai pasokan yang dikuasai AS.
Dengan target produksi pada 2031, Huawei masih memiliki waktu sekitar lima tahun untuk menyempurnakan teknologi ini. Selama periode tersebut, persaingan di pasar chip diperkirakan akan semakin ketat, terutama dengan hadirnya pemain-pemain baru dan perkembangan teknologi lithografi alternatif.
Untuk melihat bagaimana strategi ini berdampak pada performa ponsel flagship Huawei di masa depan, Anda bisa membaca perbandingan dengan kompetitor melalui artikel Duel Flagship yang membahas Vivo X300 Ultra vs Huawei Pura 90 Pro Max.





Komentar
Belum ada komentar.