Telset.id – Raksasa teknologi asal China, Huawei, mengumumkan telah mengembangkan cara baru untuk memproduksi chip atau semikonduktor. Inovasi ini berpotensi mengatasi hambatan akses terhadap peralatan pembuat chip canggih yang diakibatkan sanksi Amerika Serikat, sekaligus menandai potensi berakhirnya era Hukum Moore yang telah bertahan puluhan tahun.
Beberapa tahun terakhir, Huawei berada di pusaran ketegangan geopolitik. AS memperingatkan bahwa peralatan perusahaan tersebut dapat digunakan oleh pemerintah China untuk aktivitas spionase, tuduhan yang dibantah keras Huawei. Sanksi yang dijatuhkan sejak 2019 memutus akses Huawei ke berbagai komponen dan teknologi buatan AS dan sekutunya. Salah satunya adalah mesin litografi yang sangat krusial untuk membuat chip paling canggih.
Meskipun menghadapi tekanan berat, Huawei tetap berupaya membuat chip sendiri, bahkan sekarang makin canggih produknya. Terobosan terbaru ini menjadi bukti bahwa perusahaan asal China tersebut tidak hanya bertahan, tetapi juga berinovasi di tengah keterbatasan.
Hukum Penskalaan Tau: Alternatif dari Hukum Moore
Kepala Divisi Semikonduktor Huawei, He Tingbo, menyatakan perusahaannya akan mampu memproduksi chip setara dengan generasi chip 1,4 nanometer (1,4nm) pada tahun 2031. Sebagai perbandingan, pemimpin industri saat ini, TSMC asal Taiwan, memproyeksi dapat mencapai target tersebut di 2028. Meskipun tertinggal beberapa tahun, pencapaian ini tetap signifikan mengingat keterbatasan akses Huawei terhadap teknologi manufaktur mutakhir.
Pengumuman Huawei ini mengindikasikan mereka mungkin berhasil mengakali kebutuhan mesin litografi Extreme Ultraviolet (EUV), yang selama ini dianggap prasyarat wajib produksi massal chip 5nm ke bawah. He menjelaskan teknik baru ini lahir dari pergeseran cara pembuatan chip.
Selama ini industri berpatokan pada “Hukum Moore” (dikembangkan pendiri Intel, Gordon Moore), yang menyatakan jumlah transistor dalam chip berlipat ganda tiap dua tahun. Kepadatan transistor lebih tinggi akan menghasilkan chip lebih kecil atau chip berukuran sama tapi daya pemrosesannya jauh lebih cepat.
Sebagai alternatif, He mengusulkan “Hukum Penskalaan Tau” (Tau Scaling Law) atau “Hukum He”. Melalui pendekatan ini, perancang tak lagi mengoptimalkan ruang, melainkan mengoptimalkan waktu yang dibutuhkan oleh berbagai elemen penyusun chip untuk saling berkomunikasi. Hal ini diklaim mampu mengatasi tantangan utama Hukum Moore, yang diringkas oleh Intel dengan kalimat: “Anda dapat membuat sesuatu menjadi semakin kecil dan semakin kecil hingga akhirnya tidak bisa lagi.”
Baca Juga:
Chip Kirin Baru: Produk Pertama dengan Arsitektur LogicFolding
“Solusi kami sangat layak dan terjangkau. Performa dari chip baru ini sepenuhnya mampu bersaing dengan jalur teknologi yang lain,” tegas He yang dikutip detikINET dari News.com.au.
Chip Kirin baru Huawei, dijadwalkan meluncur musim gugur, akan menjadi produk pertama yang mengadopsi penuh arsitektur bernama LogicFolding berdasarkan prinsip baru ini. “Saya bisa mengatakan dengan penuh percaya diri bahwa dalam 10 tahun mendatang, solusi kami untuk komputasi seluler dan komputasi AI akan sangat kompetitif,” kata He.
Meski demikian, ia mengakui masih ada berbagai hambatan dalam melakukan produksi skala besar terutama menyangkut perlunya alat desain baru serta tantangan panas berlebih. Ini menunjukkan bahwa meskipun terobosan ini menjanjikan, masih ada jalan panjang sebelum teknologi ini dapat diproduksi secara massal dan komersial.
Chip mutakhir yang mampu melatih dan menggerakkan sistem kecerdasan buatan (AI) saat ini menjadi elemen sangat penting dan sensitif dalam persaingan teknologi antara AS dan China. Inovasi Huawei ini berpotensi mengubah peta persaingan di industri semikonduktor global.
Menanggapi inovasi ini, George Chen, pengamat dari The Asia Group memberikan pandangan. “Hukum Penskalaan Tau menegaskan ambisi perusahaan jadi pemimpin, bukan sekadar mengekor, dalam perlombaan chip global. Bahkan tanpa peluncuran produk baru hari ini, niat Huawei sudah sangat jelas dan lintasan perjalanannya kemungkinan besar akan meningkatkan kekhawatiran AS,” sebutnya.
Terobosan Huawei ini terjadi di tengah dinamika industri teknologi yang semakin kompetitif. Berbagai perusahaan berlomba-lomba menghadirkan inovasi terbaru untuk memenangkan hati konsumen. Di sisi lain, iOS 27 Akhirnya Perbaiki Panel Pengaturan AirPods, menunjukkan bahwa persaingan juga terjadi di sisi software.
Implikasi dari terobosan ini sangat luas. Jika Huawei berhasil membuktikan bahwa Hukum Penskalaan Tau dapat diimplementasikan secara massal, maka ini akan menjadi pukulan telak bagi dominasi teknologi manufaktur chip yang selama ini dikuasai oleh AS dan sekutunya. Ini juga akan membuka jalan bagi China untuk menjadi pemain utama dalam industri semikonduktor global, terlepas dari sanksi yang dijatuhkan.
Namun, tantangan tetap ada. Produksi massal dengan arsitektur baru ini membutuhkan alat desain yang belum tersedia secara luas. Selain itu, masalah panas berlebih juga harus diatasi sebelum chip ini bisa digunakan secara komersial. Huawei tampaknya sadar akan tantangan ini dan berkomitmen untuk menyelesaikannya dalam beberapa tahun ke depan.
Bagi konsumen, terobosan ini bisa berarti hadirnya chip dengan performa tinggi namun dengan biaya produksi yang lebih rendah. Ini bisa berdampak pada harga perangkat di pasaran, termasuk smartphone dan perangkat AI. Namun, masih terlalu dini untuk berspekulasi tentang dampak jangka panjangnya.
Dengan pengumuman ini, Huawei sekali lagi membuktikan bahwa inovasi bisa lahir dari keterbatasan. Di tengah tekanan sanksi yang berat, perusahaan ini justru menemukan cara baru untuk memproduksi chip yang bisa mengubah industri semikonduktor secara fundamental. Hukum Penskalaan Tau mungkin akan menjadi tonggak baru dalam sejarah komputasi, menggantikan Hukum Moore yang telah memandu industri selama lebih dari setengah abad.
Kita tunggu saja apakah Huawei benar-benar bisa mewujudkan ambisinya pada tahun 2031. Satu hal yang pasti: persaingan di industri chip global semakin menarik untuk diikuti.





Komentar
Belum ada komentar.