Telset.id – Upaya OpenAI meningkatkan citra dengan merekrut para influencer justru berbenturan dengan kenyataan pahit: perusahaan tersebut sudah dianggap sebagai perusahaan yang tidak keren. The Verge melaporkan bagaimana para influencer yang direkrut oleh pembuat ChatGPT ini diterbangkan ke “brand trip pertamanya” di sebuah retret alam di luar New York City. Alih-alih menciptakan buzz positif, konten dari kampanye “Summer Club” ini justru memicu reaksi keras terhadap para influencer yang dicap sebagai “sellouts.”
Seorang pengguna TikTok mengomentari, “People will literally sell their soul and their planet down the river for a nice free hotel room.” Komentar lain mengejek, “Wow! Beautiful greenery! They should put a data center there!” Meskipun tidak jarang perusahaan mengandalkan engagement bait untuk menarik perhatian, ini tampaknya bukan manuver yang disengaja oleh OpenAI.
Mayoritas konten dari para influencer ini hanya mendapat sedikit perhatian, dengan beberapa ratus likes dan beberapa ribu views. Namun, video yang mengkritik para influencer OpenAI justru meraup ratusan ribu views, termasuk dari influencer lain yang menolak tawaran tersebut. Meredith Lynch, seorang komedian yang dikenal dengan konten TikTok-nya, menyebut mereka “a bunch of f*cking phony sellouts” dalam video viralnya.
Saat para influencer, yang sebagian besar adalah perempuan, membawa merchandise bermerek dan menikmati suasana pedesaan, banyak yang menyoroti kemunafikan upaya mencuci citra industri yang pusat datanya berdampak buruk pada lingkungan. Pemilihan mayoritas perempuan juga terasa penting, mengingat laporan The Verge mengamati bahwa perempuan cenderung memandang AI lebih negatif dibandingkan laki-laki.
Yang lebih membingungkan adalah minimnya konten yang dihasilkan dari perjalanan tersebut. Hampir tidak ada konten yang membahas produk utama OpenAI, ChatGPT. Konten yang ada justru “largely aspirational lifestyle content focused on the free swag and pretty setting” — tanpa ide jelas bagaimana hal ini merefleksikan perusahaan, selain fakta bahwa OpenAI bersedia membiayai perjalanan mahal untuk sekelompok orang yang sangat sia-sia.
Perusahaan ini memang sedang gencar membangun kredibilitas budaya. Beberapa minggu lalu, OpenAI meluncurkan lini pakaian baru dengan gaya minimalis dan trendi — atau setidaknya trendi untuk lima tahun lalu, seolah departemen fesyennya memiliki tanggal batas pengetahuan seperti model AI-nya. Peluncuran tersebut juga mendapat cemoohan serupa.
Dalam pernyataan kepada The Verge, OpenAI membela skema pemasaran influencer-nya dan mengatakan acara tersebut dimaksudkan untuk edukasi. “Creators are an important part of our community and how people get information and learn about our products today,” ujar juru bicara perusahaan. “We welcome healthy debate as AI becomes more prevalent, and we value creators who choose to engage with us, attend our events, ask tough questions, and learn alongside everyone else. We’ll continue to value them, just as we do traditional media and other marketing partners.”
Kampanye influencer ini merupakan bagian dari upaya OpenAI untuk mendapatkan popularitas budaya. Namun, hasilnya justru kontraproduktif. Alih-alih meningkatkan citra, kampanye ini malah memperkuat persepsi negatif yang sudah ada tentang perusahaan. Hal ini menunjukkan tantangan besar yang dihadapi OpenAI dalam membangun hubungan dengan publik yang semakin skeptis terhadap pengaruh AI.
Kegagalan kampanye ini juga menyoroti kesenjangan antara strategi pemasaran perusahaan teknologi besar dengan realitas persepsi publik. Meskipun OpenAI mencoba pendekatan berbeda dengan melibatkan influencer, eksekusi yang dianggap tidak autentik justru memicu backlash. Ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya keselarasan antara citra yang ingin dibangun dengan realitas operasional perusahaan.
Perlu dicatat bahwa ini bukan pertama kalinya OpenAI menghadapi kontroversi. Perusahaan ini telah beberapa kali menjadi sorotan terkait berbagai isu. Sebelumnya, Agen AI OpenAI dikabarkan kabur dan meretas Hugging Face dalam insiden yang tidak biasa. Ada juga laporan tentang Model AI OpenAI yang membobol sistem uji keamanan. Berbagai insiden ini menunjukkan bahwa OpenAI seringkali menjadi pusat perhatian, baik karena inovasi maupun kontroversi.
Sementara itu, Apple Gugat OpenAI dalam kasus yang melibatkan rahasia bisnis teknologi. Ini menambah daftar panjang tantangan hukum dan reputasi yang dihadapi perusahaan. Meskipun OpenAI terus berinovasi dalam pengembangan AI, perusahaan ini juga harus menghadapi berbagai masalah reputasi yang muncul dari berbagai sisi.
Kontroversi seputar kampanye influencer ini menunjukkan bahwa meskipun OpenAI adalah pemimpin dalam teknologi AI, perusahaan ini masih kesulitan dalam hal pemasaran dan hubungan masyarakat. Strategi yang dianggap kurang autentik dan tidak selaras dengan nilai-nilai yang diharapkan publik justru menjadi bumerang. Ini menjadi pelajaran bahwa dalam era di mana publik semakin kritis, keaslian dan transparansi menjadi kunci dalam setiap strategi komunikasi.
Ke depannya, OpenAI perlu lebih berhati-hati dalam merancang strategi pemasaran yang tidak hanya efektif secara komersial tetapi juga diterima oleh publik. Kegagalan kampanye “Summer Club” ini menunjukkan bahwa pendekatan konvensional dalam pemasaran influencer mungkin tidak cocok untuk perusahaan teknologi yang bergerak di bidang yang kontroversial seperti AI. Dibutuhkan strategi yang lebih matang dan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk persepsi publik tentang dampak AI terhadap lingkungan dan masyarakat.





Komentar
Belum ada komentar.