Maye Musk and Elon Musk in costume at an event with dark background

Kesalahan Tweet Maye Musk Picu Spekulasi Akun Palsu Elon Musk

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Sebuah cuitan dari akun Maye Musk, ibu dari Elon Musk, yang kemudian dihapus memicu spekulasi liar di kalangan pengguna X bahwa sang miliarder mungkin diam-diam mengendalikan akun ibunya. Cuitan tersebut secara tidak sengaja menyebut Elon Musk sebagai orang ketiga, menimbulkan pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang berada di balik keyboard.

Cuitan itu merupakan balasan atas unggahan Elon tentang neneknya yang disebut sebagai “seorang pembantu rumah tangga di Inggris.” Maye Musk menulis, “Ibumu bilang padaku dia membersihkan toilet di sebuah rumah kos di Liverpool saat masih kecil. Saat aku bertemu dengannya di tahun 1966, dia sedang menjahit lapisan untuk seorang pedagang bulu di sebuah ruangan kecil tanpa jendela di belakang toko.”

Keanehan langsung terlihat. Maye Musk tampak merujuk pada ibu Elon sebagai “your mom” (ibumu), seolah-olah dia bukanlah ibu dari Elon sendiri. Seorang pengguna X yang bingung langsung berkomentar, “Bukankah kamu ibunya?” Pertanyaan itu menjadi viral dan memicu teori bahwa Elon Musk lah yang menulis cuitan tersebut, mungkin dengan maksud menyamar sebagai ayahnya, Errol Musk.

Teori ini memang menarik, namun analisis lebih dalam menunjukkan kemungkinan besar itu hanyalah kesalahan penulisan biasa. Seperti yang diamati oleh pengguna lain, kemungkinan besar Maye Musk bermaksud menulis “your grandmom” (nenekmu) atau “your father’s mom” (ibu dari ayahmu), bukan “your mom.” Ibu Errol Musk memang berasal dari Liverpool, Inggris, sesuai dengan deskripsi dalam cuitan asli. Sementara itu, Maye Musk lahir di Kanada dan besar di Afrika Selatan.

Meskipun teori akun palsu ini kemungkinan besar tidak benar, insiden ini mengungkapkan sesuatu yang lebih dalam tentang persepsi publik terhadap Elon Musk. Fakta bahwa banyak orang siap percaya bahwa ia akan berpura-pura menjadi ibunya sendiri tanpa berpikir dua kali menunjukkan betapa kontroversial dan tidak terduganya karakter yang ia bangun.

Dasar dari spekulasi ini bukan tanpa alasan. Di masa lalu, terungkap bahwa Elon Musk diam-diam memiliki akun alt yang ia gunakan untuk berpura-pura menjadi putranya yang masih balita, X Æ A-12. Jika dibandingkan, berpura-pura menjadi ibunya sendiri mungkin terlihat lebih masuk akal dalam konteks keanehan yang pernah ia lakukan. Selain itu, ia memiliki catatan memanipulasi situs web X untuk meningkatkan jangkauan unggahannya sendiri.

Kontroversi ini juga sejalan dengan berbagai tindakan kontroversial Musk lainnya. Baru-baru ini, ia terlibat dalam sengketa hukum dengan OpenAI, yang membuatnya mengamuk di sidang dan membongkar dugaan penyimpangan perusahaan AI tersebut. Kasus ini semakin memanas setelah OpenAI menuduh Musk melakukan “legal ambush” menjelang sidang.

Lebih jauh lagi, chatbot AI milik Musk, Grok, kerap memberikan pujian yang mencurigakan kepada penciptanya. Grok pernah bersikeras bahwa Musk adalah pemikir sehebat Isaac Newton, dan bahkan menyatakan bahwa akan lebih etis untuk membunuh satu miliar anak manusia jika itu berarti menyelamatkan dirinya. Perilaku aneh ini semakin memperkuat citra Musk sebagai figur yang narsistik dan tidak kenal batas.

Secara teknis, masih mungkin bahwa Elon memang menarik tali kendali akun ibunya di belakang layar, dan ini semua adalah bagian dari strategi catur 4D. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh bukti-bukti di atas, tidak ada kekurangan hal-hal lain yang benar-benar dapat diverifikasi untuk mengkritiknya.

Insiden ini juga mengingatkan kita pada berbagai langkah bisnis Musk yang kontroversial. Ia baru saja mengumumkan XChat, aplikasi pesan instan yang dijadwalkan rilis pada 17 April, yang menjanjikan privasi namun diragukan banyak pihak. Di sisi lain, ia juga mengubah tuntutan hukumnya terhadap OpenAI, menuntut dana sebesar $150 miliar untuk OpenAI nonprofit.

Selain itu, Musk juga terancam sanksi setelah memverifikasi akun X pemimpin Iran. Semua ini menunjukkan bahwa ia adalah figur yang selalu menjadi pusat perhatian, baik karena inovasi maupun kontroversinya.

Kesimpulannya, meskipun teori bahwa Elon Musk mengendalikan akun ibunya mungkin tidak benar, insiden ini adalah cerminan dari persepsi publik yang telah terbentuk. Musk telah menunjukkan dirinya sebagai karakter yang begitu tidak kenal batas dan sia-sia sehingga banyak orang siap percaya bahwa ia akan berpura-pura menjadi ibunya. Pada akhirnya, ini adalah nonstory yang mengungkapkan banyak hal tentang bagaimana dunia memandang salah satu tokoh paling kontroversial di era modern.