Telset.id – Ambisi OpenAI untuk menyaingi Pixar melalui film animasi AI berjudul “Critterz” harus kandas di tengah jalan. Film yang direncanakan debut di Cannes Film Festival 2026 itu gagal tayang setelah OpenAI menutup generator video Sora secara mendadak.
Proyek “Critterz” sejatinya menjadi bukti konsep bahwa kecerdasan buatan dapat memproduksi film animasi layaknya studio besar. Dengan biaya produksi yang jauh lebih rendah dan waktu pengerjaan yang lebih singkat, film ini diharapkan menjadi momen “Toy Story”-nya industri AI. Namun, kenyataan berkata lain.
Menurut laporan Bloomberg, penutupan Sora terjadi pada Maret 2026, hanya beberapa bulan setelah OpenAI menandatangani kesepakatan lisensi besar dengan Disney. Keputusan ini memaksa tim produksi “Critterz” untuk mencari mitra AI baru agar film tersebut bisa rampung.
Co-produser Chad Nelson, yang juga seorang creative strategist di OpenAI, dan James Richardson mengungkapkan bahwa mereka kini menargetkan rilis “Critterz” pada kuartal pertama tahun depan. Meskipun mengalami kemunduran, keduanya tetap optimistis terhadap kemampuan AI dalam produksi film.
“Film seperti ini biasanya memakan waktu tiga tahun dengan 300 orang, atau empat tahun dengan 200 orang. Kami mengerjakannya dalam sembilan bulan dengan 15 orang,” ujar Richardson di festival tersebut, seperti dikutip Bloomberg.
Pernyataan ini menyoroti efisiensi yang ditawarkan AI, meskipun dengan mengorbankan aspek kreativitas dan detail yang biasanya dihasilkan oleh tim besar. Namun, kegagalan “Critterz” menjadi pengingat keras tentang ketidakstabilan industri AI.

Penutupan Sora yang tiba-tiba menunjukkan bahwa proyek yang bergantung pada satu model AI bisa runtuh kapan saja. Jika perusahaan AI memutuskan untuk menghentikan model yang mahal, seluruh proyek film bisa terancam. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi para “pembuat film AI” yang mengandalkan teknologi milik pihak ketiga.
Meskipun memiliki hubungan erat dengan OpenAI melalui Nelson, perusahaan tersebut justru meremehkan perannya dalam film “Critterz”. Juru bicara OpenAI menyatakan bahwa “Critterz” adalah “film independen yang dibuat oleh pembuatnya, yang bereksperimen dengan alat OpenAI sebagai bagian dari proses kreatif mereka.” Mereka menegaskan bahwa OpenAI bukanlah pemodal atau produser film tersebut.
Baca Juga:
Sikap ini kontras dengan fakta bahwa Nelson adalah karyawan OpenAI yang terlibat langsung dalam proyek tersebut. Di sisi lain, Nelson dan Richardson mengaku sedang mencari distributor di Cannes. Mereka mengklaim bahwa distributor, studio, dan platform streaming menunjukkan “antusiasme besar” terhadap proyek mereka.
Kegagalan “Critterz” bukan hanya kemunduran bagi para pembuat film, tetapi juga pukulan reputasi bagi OpenAI. Proyek ini seharusnya menjadi showcase untuk kemampuan Sora, namun berakhir menggambarkan kerapuhan ekosistem AI saat ini.
Kejadian ini juga menyoroti kesenjangan antara janji industri AI dan realitas di lapangan. Banyak pihak yang memprediksi AI akan merevolusi Hollywood, namun kenyataannya, hambatan teknis dan bisnis masih sangat besar. Kasus “Critterz” menjadi contoh nyata bagaimana sebuah proyek ambisius bisa gagal karena faktor di luar kendali kreatif.
Sementara itu, OpenAI terus bergerak di berbagai bidang. Mereka baru saja membuktikan teorema matematika berusia 80 tahun, menunjukkan bahwa kemampuan AI tidak terbatas pada satu sektor saja. Namun, kegagalan di industri kreatif menunjukkan bahwa AI belum siap menggantikan sentuhan manusia sepenuhnya.
Ke depannya, para pembuat film yang ingin menggunakan AI harus siap dengan risiko ketergantungan pada penyedia teknologi. Seperti yang terjadi pada “Critterz”, perubahan kebijakan sepihak dari perusahaan AI bisa menggagalkan proyek yang sudah berjalan berbulan-bulan.





Komentar
Belum ada komentar.