Ilustrasi tangan mengetik di tablet dengan teks AI di latar depan

Konsumsi Token AI China Tembus 100 Triliun per Hari

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Konsumsi token AI China naik 1.000x lipat dalam 2 tahun
  • Dari 100 miliar token (2024) menjadi 100 triliun token (akhir 2025)
  • Mencapai 140 triliun token per hari pada Maret 2026
  • Model token-based pricing mulai menggantikan langganan tetap
  • Perubahan harga terutama berdampak pada pelanggan korporat
  • Konsumen umum tetap gunakan harga bulanan tetap
  • OpenAI, Anthropic, Zendesk mulai adaptasi model harga baru
  • China investasi hampir $300 miliar untuk pusat data nasional
  • Biaya coding AI diprediksi lampaui gaji developer pada 2028

Telset.id – Konsumsi token AI di China mengalami lonjakan luar biasa dalam waktu dua tahun. Data terbaru menunjukkan bahwa konsumsi harian token AI di China telah melonjak lebih dari 1.000 kali lipat, dari 100 miliar token pada awal 2024 menjadi 100 triliun token pada akhir 2025. Angka ini bahkan terus meningkat hingga mencapai sekitar 140 triliun token per harinya pada Maret 2026.

Fenomena ini, yang oleh para ahli disebut sebagai “token economy,” mengubah lanskap kecerdasan buatan secara fundamental. Yin Hao dari Chinese Academy of Sciences dalam sebuah konferensi di Beijing mengkonfirmasi bahwa ekonomi token kini mulai muncul. Data dari National Bureau of Statistics China menunjukkan betapa masifnya adopsi AI di negara tersebut.

Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret, South China Morning Post (SCMP) mengilustrasikan bahwa jika setiap warga China, termasuk anak-anak dan pensiunan, menggunakan AI, maka setiap orang akan mengonsumsi sekitar 100.000 token per hari. Angka ini menunjukkan betapa terintegrasinya AI dalam kehidupan sehari-hari masyarakat China.

Lonjakan konsumsi token ini mendorong perubahan besar dalam model bisnis penyedia layanan AI. Para ahli seperti Hao percaya bahwa harga berbasis token (token-based pricing) akan segera menggantikan model langganan tradisional. Model baru ini memungkinkan pelanggan membayar berdasarkan jumlah AI yang benar-benar mereka gunakan, bukan biaya bulanan tetap per pengguna.

Perubahan harga ini saat ini terutama berdampak pada pelanggan korporat yang mengonsumsi token dalam jumlah besar. Sementara itu, konsumen umum yang masuk ke chatbot seperti ChatGPT atau Gemini kemungkinan besar tidak akan terpengaruh karena biaya komputasi yang terus menurun. Model harga tetap bulanan diperkirakan akan tetap berlaku untuk pengguna umum.

Penyedia AI global juga mulai menyadari tren ini dan menyesuaikan strategi harga mereka. Perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic telah mengakui pertumbuhan konsumsi token dan mengadaptasi model harga mereka. Sementara itu, Zendesk menerapkan pendekatan berbeda dengan mengenakan biaya per hasil yang berarti (per meaningful outcome), bukan per kursi atau per token.

Fenomena konsumsi token yang meledak ini tidak hanya terjadi di China. Di Amerika Serikat, perusahaan teknologi besar juga mengalami tren serupa. Amazon, misalnya, dilaporkan memiliki pekerja yang melakukan “tokenmaxxing” untuk mencapai target penggunaan AI yang ditetapkan perusahaan. Ini menunjukkan bahwa tekanan untuk menggunakan AI semakin besar di berbagai sektor industri.

China sendiri telah menunjukkan ambisinya dalam mengembangkan infrastruktur AI. Negara tersebut berencana menghabiskan hampir 300 miliar dolar AS untuk membangun jaringan pusat data nasional. Investasi besar-besaran ini menunjukkan komitmen China untuk menjadi pemimpin global dalam teknologi AI.

Di sisi lain, pendekatan China terhadap model AI cukup unik. Negara tersebut memberlakukan pembatasan ketat terhadap model-model Barat, sementara perusahaan-perusahaan AS justru berbondong-bondong menggunakan DeepSeek, platform AI asal China. Dinamika ini menciptakan lanskap persaingan yang menarik di industri AI global.

Para ahli memprediksi bahwa biaya coding AI akan melampaui gaji developer pada tahun 2028. Pernyataan ini menunjukkan bahwa biaya operasional AI akan menjadi beban signifikan bagi perusahaan di masa depan. “Token discipline will not emerge through developer choice alone,” demikian peringatan para ahli, menekankan bahwa pengelolaan token tidak bisa hanya diserahkan pada pilihan developer.

Biaya pengembangan AI saat ini bahkan telah melampaui biaya program Apollo, Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), dan Proyek Manhattan jika digabungkan. Hal ini menunjukkan betapa besarnya investasi yang diperlukan untuk mengembangkan teknologi AI yang canggih.

Lebih lanjut, server AI diperkirakan akan mengkonsumsi lebih banyak listrik dibandingkan semua pusat data konvensional pada tahun 2027. “The new battle ground for scaling and protecting margins,” demikian pernyataan para analis, menekankan bahwa konsumsi energi akan menjadi medan pertempuran baru dalam industri AI.

Implikasi dari ledakan konsumsi token AI ini sangat luas. Perusahaan yang bergantung pada AI harus mulai mempertimbangkan strategi pengelolaan biaya token mereka. Model bisnis berbasis langganan tradisional mungkin perlu dievaluasi ulang seiring dengan meningkatnya konsumsi AI.

Bagi konsumen umum, meskipun harga tetap bulanan kemungkinan akan bertahan, peningkatan konsumsi token bisa berarti layanan yang lebih baik dan lebih personal. Namun, pengguna perlu waspada terhadap potensi perubahan model harga di masa depan.

Perubahan model harga dari per-seat menjadi per-token juga akan mempengaruhi cara perusahaan mengadopsi AI. Perusahaan mungkin akan lebih selektif dalam memberikan akses AI kepada karyawan mereka, atau malah sebaliknya, mendorong penggunaan AI secara lebih luas untuk memaksimalkan nilai investasi mereka.

Fenomena “tokenmaxxing” yang terjadi di Amazon menunjukkan bahwa perusahaan mungkin perlu menetapkan kebijakan yang jelas tentang penggunaan AI. Target penggunaan yang tidak realistis bisa mendorong perilaku yang tidak produktif di kalangan karyawan.

Sementara itu, investasi besar China dalam infrastruktur AI menunjukkan bahwa persaingan global di bidang ini akan semakin ketat. Negara-negara lain mungkin perlu mengejar ketertinggalan mereka dalam hal infrastruktur dan adopsi AI.

Konsumsi energi yang besar dari server AI juga menjadi perhatian serius. Perusahaan teknologi perlu mencari solusi yang lebih efisien secara energi untuk menjalankan operasi AI mereka. Ini bisa menjadi peluang bagi inovasi di bidang hardware dan software AI.

Pasar AI China sendiri menunjukkan dinamika yang menarik. Dengan konsumsi token yang mencapai 140 triliun per hari, China telah menjadi salah satu pasar AI terbesar di dunia. Hal ini menciptakan ekosistem yang unik dengan pemain lokal yang dominan.

Perubahan model harga dari per-seat ke per-token juga bisa mempengaruhi cara perusahaan mengelola tim AI mereka. Perusahaan mungkin perlu memikirkan ulang struktur tim dan alokasi sumber daya mereka untuk mengoptimalkan penggunaan token.

Bagi penyedia layanan AI, tantangan terbesar adalah bagaimana menyeimbangkan antara kebutuhan untuk menghasilkan pendapatan dengan memberikan nilai yang optimal kepada pelanggan. Model harga yang terlalu mahal bisa menghambat adopsi, sementara harga yang terlalu murah bisa merugikan bisnis.

Dengan tren yang ada, industri AI diprediksi akan terus berkembang pesat. Perusahaan dan individu yang mampu beradaptasi dengan perubahan ini akan memiliki keunggulan kompetitif di masa depan.

Namun, penting untuk diingat bahwa adopsi AI yang masif juga membawa tantangan tersendiri. Isu privasi data, keamanan, dan etika penggunaan AI perlu menjadi perhatian serius bagi semua pemangku kepentingan.

Kesimpulannya, ledakan konsumsi token AI di China adalah fenomena yang patut dicermati. Perubahan model bisnis, investasi infrastruktur, dan dinamika persaingan global akan terus membentuk masa depan industri AI. Perusahaan dan individu perlu bersiap untuk menghadapi era baru di mana AI menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.