Telset.id – Studio film indie ternama A24, yang baru saja sukses besar dengan film horor “Backrooms” meraup lebih dari $330 juta secara global, kini menghadapi badai kemarahan dari basis penggemar setianya. Penyebabnya adalah kemitraan penelitian senilai $75 juta dengan Google untuk mengembangkan alat AI baru bagi produksi film.
Keputusan ini memicu krisis kepercayaan yang luar biasa, mengingat sutradara muda A24, Kane Parsons, adalah seorang kritikus vokal terhadap penggunaan AI. Pria berusia 21 tahun yang merupakan YouTuber berubah menjadi pembuat film ini menyebut AI sebagai hal yang “benar-benar berbahaya” bagi kreativitas.
“Kita sudah hidup di dunia di mana kamu berjalan keluar dan ada papan reklame serta tanda-tanda yang jelas merupakan AI slop,” ujar Parsons kepada Deadline. “Bagi saya, generative AI terasa kurang seperti inovasi dan lebih seperti gejala dari pembusukan budaya dan ekonomi yang lebih luas.”
Ironi situasi ini semakin terasa ketika Wall Street Journal melaporkan bahwa Google menginvestasikan $75 juta di A24 sebagai bagian dari kemitraan penelitian. Tujuannya adalah menciptakan alat AI baru untuk produksi film, sebuah pengembangan yang membuat para penggemar mengalami “full-on meltdown.”
Reaksi negatif ini seharusnya tidak mengejutkan. Penggunaan generative AI di industri hiburan telah menjadi isu sensitif, dengan banyak kreator terkenal, termasuk Parsons, dengan lantang menyuarakan penentangan mereka terhadap teknologi ini. Kemarahan publik terhadap AI telah mengubah penggemar menjadi massa yang marah, dan jelas bahwa A24 tidak siap menghadapi reaksi balik yang berkepanjangan.
“Mungkin kita harus menerima bahwa era A24 sudah berakhir,” demikian bunyi postingan yang banyak beredar di subreddit A24. “Studio indie datang dan pergi. Seperti Miramax dan New Line Cinema sebelumnya, A24 selalu ditakdirkan untuk dikonsumsi oleh kepentingan korporat.”
Postingan tersebut menambahkan, “Saya tidak tahu apakah kemitraan Google ini akan menjadi akhir dari studio ini, tetapi jika iya, sesuatu yang lain akan menggantikannya.”
Sementara itu, A24 berusaha meredakan kemarahan dengan pernyataan resmi. Kepala komunikasi Sophia Shin mengatakan kepada Wired bahwa ini adalah “kemitraan penelitian.”
“Kami bekerja berdampingan dengan para peneliti DeepMind untuk belajar, mengulangi, dan membangun, dengan memiliki peran aktif dalam membentuk alat dan alur kerja baru,” jelas Shin.
“Hubungan kami dengan audiens adalah sesuatu yang tidak kami anggap remeh,” tambahnya. “Kemitraan ini ada karena kami ingin menentukan alat apa yang dibuat untuk para seniman, sehingga mereka memiliki suara dalam membentuknya daripada menerima alat yang sudah jadi.”
“Kami lebih memilih memiliki kursi di meja daripada di pinggir lapangan,” pungkas Shin.

Seperti yang diduga, komunitas penggemar tidak menerima dengan baik upaya perusahaan untuk memperbaiki situasi. “Mengapa seniman perlu memiliki suara dalam membentuk alat yang seharusnya tidak pernah mereka gunakan?” cuit seorang pengguna.
“Meja itu memiliki enam kaki,” tulis seorang pengguna Reddit dengan nada mengejek, merujuk pada alat AI awal yang kesulitan menghasilkan gambar orang dengan jumlah jari yang benar.
“Kami tidak ingin berada di pinggir lapangan dan melewatkan semua kerugian bisnis yang akan dialami perusahaan lain karena semua orang ikut-ikutan tren gelembung AI,” tulis pengguna lain.
Secara singkat, krisis yang berkembang ini dengan sempurna menggambarkan betapa radioaktifnya setiap kemitraan AI di perusahaan hiburan saat ini. Meskipun beberapa nama besar Hollywood menentang penggunaan teknologi ini, studio-studio terus menandatangani kontrak yang menguntungkan, yang membuat kecewa para penggemar mereka.
Baca Juga:
Kontroversi ini menyoroti dilema yang dihadapi studio kreatif di era AI. Di satu sisi, ada tekanan untuk berinovasi dan memanfaatkan teknologi baru untuk efisiensi produksi. Di sisi lain, ada risiko besar kehilangan kepercayaan dari komunitas kreatif dan penggemar yang mendukung mereka.
Kasus A24 menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana keputusan bisnis dapat berbenturan dengan nilai-nilai artistik dan ekspektasi audiens. Studio yang dikenal dengan film-film independen dan inovatif ini kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa basis penggemarnya tidak segan-segan untuk menyuarakan kekecewaan.
Para pengamat industri mencatat bahwa situasi ini bisa menjadi titik balik bagi hubungan antara studio film dan teknologi AI. Jika A24, yang memiliki reputasi sebagai pelindung seni indie, bisa menghadapi reaksi keras seperti ini, maka studio lain mungkin akan berpikir dua kali sebelum menjalin kemitraan serupa.
Namun, tekanan finansial tetap menjadi faktor utama. Dengan investasi $75 juta dari Google, A24 mendapatkan suntikan dana yang signifikan untuk mengembangkan teknologi produksi film masa depan. Pertanyaannya adalah apakah keuntungan finansial ini sebanding dengan kerusakan reputasi yang mungkin terjadi.
Sementara itu, industri teknologi terus bergerak maju dengan pengembangan AI, terlepas dari kontroversi yang mengelilinginya. Google dan DeepMind kemungkinan akan terus mencari mitra di industri kreatif, meskipun harus menghadapi resistensi dari para seniman dan penggemar.
Krisis A24 ini juga menyoroti perubahan lanskap hubungan antara studio dan penggemar. Di era media sosial, kemarahan publik bisa menyebar dengan cepat dan berdampak signifikan pada reputasi merek. Studio tidak lagi bisa mengabaikan sentimen penggemar tanpa konsekuensi.
Apakah A24 akan mampu melewati badai ini dan mempertahankan posisinya sebagai studio indie terkemuka? Atau apakah kemitraan dengan Google ini akan menjadi awal dari akhir era A24? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: industri hiburan sedang berada di persimpangan jalan yang krusial dalam hubungannya dengan teknologi AI.





Komentar
Belum ada komentar.