📑 Daftar Isi

Presiden Microsoft Brad Smith berbicara dalam sebuah forum teknologi

Microsoft: Regulasi AI AS Lebih Lemah dari Sekotak Susu

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Presiden Microsoft Brad Smith menyebut regulasi AI di AS lebih lemah dari aturan keamanan sekotak susu dan mesin cuci
  • Smith menilai kelambanan AS membuka peluang Inggris memimpin regulasi AI
  • Trump memilih percepatan industri AI AS dan regulasi diri, bukan pengawasan pemerintah
  • Pakta regulasi diri ditandatangani bos AI seperti Pichai, Amodei, Zuckerberg, Brockman, Musk, dan Huang
  • Kritikus menilai pakta itu memungkinkan perusahaan mendefinisikan sendiri arti keselamatan

Telset.id – Presiden Microsoft Brad Smith menilai regulasi AI di Amerika Serikat saat ini justru lebih lemah dibandingkan aturan keamanan yang mengikat produk sehari-hari seperti mesin cuci hingga sekotak susu. Kritik tersebut disampaikannya dalam wawancara dengan ITV pada Jumat, dan menempatkan lemahnya tindakan pemerintah AS sebagai celah strategis bagi Inggris untuk memimpin pengaturan AI.

Pernyataan Brad Smith ini menjadi sorotan karena datang dari eksekutif salah satu perusahaan teknologi terbesar dunia, di tengah perdebatan global soal seberapa ketat AI harus diatur. Menurut Smith, ketiadaan langkah tegas dari Washington membuat Inggris memiliki peluang unik untuk mengambil posisi terdepan dalam regulasi AI.

“Saat ini, mesin cuci Anda tunduk pada aturan keselamatan yang lebih banyak daripada AI,” kata Smith dalam wawancara tersebut. “Setiap kotak susu yang Anda lihat di toko kelontong tunduk pada aturan keselamatan dan inspeksi.”

Pernyataan itu menggambarkan kesenjangan yang tajam. Susu, yang tidak bisa meretas perusahaan maupun pemerintah, tetap diawasi lebih ketat dibandingkan AI yang secara nyata memiliki kemampuan tersebut. Kritik Smith menyoroti bahwa teknologi yang berpotensi mengancam keamanan siber justru beroperasi dengan rambu-rambu yang lebih longgar.

Dorongan Regulasi Diri dan Sikap Pemerintah AS

Sejumlah raksasa AI di Amerika Serikat seperti Anthropic, OpenAI, dan DeepMind milik Google disebut telah menyuarakan dukungan terhadap perlambatan pengembangan AI. Namun, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa industri AI AS justru perlu dipercepat agar tetap unggul dari China.

Alih-alih mengandalkan pemerintah, Trump lebih memilih agar perusahaan AI mengatur diri mereka sendiri. Dalam acara yang disebutnya sebagai Super Intelligence summit, sejumlah bos AI menandatangani pakta dengan beberapa prinsip utama. Mereka yang terlibat antara lain Sundar Pichai dari Google, Dario Amodei dari Anthropic, Mark Zuckerberg, Presiden OpenAI Greg Brockman, Elon Musk, dan CEO NVIDIA Jensen Huang.

Pakta tersebut mencakup penerapan regulasi diri, pengamanan agar model-model perintis tidak lepas kendali, serta penggunaan “auditor independen” untuk menilai model. Pendekatan ini menempatkan tanggung jawab pengawasan pada industri itu sendiri, bukan pada regulator pemerintah.

Meski demikian, para kritikus menilai pakta tersebut tidak memuaskan. Salah satunya mengatakan kepada BBC bahwa pakta itu memungkinkan perusahaan untuk “mendefinisikan apa yang dianggap sebagai keselamatan”. Kritik lain menyebut bahwa “kesepakatan itu harus diabaikan karena hanya merupakan distraksi”.

Di sisi lain, pendekatan kendali pengetahuan AI yang diusung sejumlah pihak menegaskan bahwa tata kelola AI tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Perdebatan ini memperlihatkan tarik-menarik antara kecepatan inovasi dan kebutuhan akan pengamanan yang memadai.

Peluang Inggris sebagai Pemimpin Regulasi AI

Brad Smith menilai ketiadaan tindakan dari AS justru membuka peluang bagi Inggris untuk memimpin dalam hal regulasi AI. Ia menyoroti posisi Inggris yang berbeda dari Brussels dalam pandangan para pembuat kebijakan di Washington DC.

“Di Washington DC, orang tidak melihat Inggris dan mereka tidak melihat London seperti cara mereka melihat Brussels — itu sebuah kekuatan,” ujarnya. “Saya harap itu peran yang bisa kami mainkan sebagai sebuah perusahaan. Saya harap itu peran yang bisa dimainkan Inggris sebagai sebuah negara.”

Smith menekankan bahwa momen untuk bertindak sudah tiba. Menurutnya, ketika ada model-model yang begitu kuat hingga menempatkan keamanan siber dunia pada risiko, maka kehadiran regulasi yang tepat menjadi keniscayaan.

“Ketika Anda melihat model-model yang begitu kuat sehingga menempatkan keamanan siber dunia pada risiko, saya akan mengatakan: momennya telah tiba,” kata Smith.

Pandangan Smith ini memperkuat posisi Inggris sebagai kandidat pemimpin regulasi AI global. Perbedaan pendekatan antara AS, Inggris, dan Uni Eropa menjadi peta kekuatan baru dalam tata kelola teknologi. Inggris dinilai memiliki ruang untuk bergerak tanpa terjebak dalam kerangka birokrasi yang dianggap menghambat inovasi.

Bagi Microsoft sendiri, Smith menyatakan harapan bahwa peran tersebut dapat dijalankan perusahaan. Ia menempatkan Microsoft sebagai bagian dari upaya mendorong kerangka regulasi yang lebih jelas, bukan sekadar mengandalkan komitmen sukarela industri.

Isu ini juga bersinggungan dengan bagaimana perusahaan teknologi mengelola produk dan layanan mereka. Langkah penyimpanan cloud Microsoft 365 misalnya, menunjukkan bagaimana kebijakan perusahaan berdampak langsung pada pengguna. Dalam konteks AI, kebijakan regulasi akan menentukan sejauh mana perlindungan diberikan kepada masyarakat luas.

Kritik terhadap pakta regulasi diri menunjukkan bahwa kepercayaan pada komitmen perusahaan belum sepenuhnya diterima. Kritik yang menyebut pakta tersebut hanya sebagai distraksi menandakan bahwa sebagian pihak menginginkan langkah yang lebih konkret dan mengikat.

Perdebatan soal siapa yang berhak mengatur AI kini menjadi salah satu isu paling krusial di dunia teknologi. Pernyataan Brad Smith menambahkan dimensi baru: bahwa kelambanan AS bisa menjadi keunggulan komparatif bagi negara lain yang lebih sigap menyusun kerangka regulasi.

Pernyataan Smith kepada ITV pada Jumat tersebut menegaskan posisi Microsoft dalam diskusi regulasi AI global. Dengan menyandingkan AI dan sekotak susu, ia menyoroti paradoks bahwa teknologi paling berisiko justru memiliki pengawasan paling longgar.

Sementara itu, dinamika di dalam negeri AS sendiri masih belum menunjukkan arah yang jelas. Dorongan untuk mempercepat industri AI demi bersaing dengan China berhadapan dengan seruan agar pengamanan diperketat. Pakta regulasi diri yang ditandatangani para bos AI menjadi jawaban sementara, meski tidak semua pihak puas.

Bagi Inggris, peluang yang disebut Smith bergantung pada kemampuan negara itu menyusun kerangka yang tidak hanya ketat, tetapi juga tidak menghambat inovasi. Posisi sebagai “bukan Brussels” menjadi modal politik yang menurut Smith bisa dimanfaatkan.

Perkembangan ini juga relevan bagi ekosistem teknologi yang lebih luas, termasuk bagaimana perusahaan seperti Microsoft mengelola lini produk mereka. Perubahan pada kebijakan penyimpanan cloud menjadi contoh bagaimana keputusan korporasi berdampak pada pengguna. Dalam konteks AI, regulasi akan menentukan keseimbangan antara inovasi dan perlindungan publik.

Pernyataan Brad Smith menutup dengan pesan yang tegas: momen untuk mengatur AI sudah tiba. Yang tersisa adalah pertanyaan siapa yang akan mengambil peran kepemimpinan tersebut, dan seberapa cepat kerangka regulasi yang memadai bisa diwujudkan.

[IMAGE_PLACEHOLDER]
Microsoft president Brad Smith shown at summit

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.