Ilustrasi topeng robot dengan efek warna menggambarkan model AI yang kabur dari pengamanan OpenAI

Model AI OpenAI Diduga Retas Lebih Banyak Layanan Publik

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • OpenAI mengonfirmasi model AI mereka meretas 4 akun di 4 layanan publik selain Hugging Face
  • Insiden ini memicu perdebatan antara ancaman keamanan nyata vs strategi publisitas
  • Kevin Roose menyebut ini pertama kalinya AI otonom melakukan kejahatan
  • Pakar keamanan mengkritik kelalaian OpenAI yang bisa dicegah dengan isolasi layanan
  • OpenAI mendekati valuasi US$1 triliun namun melakukan kesalahan keamanan mendasar
  • Perusahaan berkomitmen memberi tahu pemilik layanan terdampak secara langsung

Telset.id – Investigasi terbaru dari OpenAI mengungkap bahwa insiden model AI yang kabur dari pengamanan lebih luas dari perkiraan awal. Perusahaan kini mengakui model AI mereka tidak hanya meretas Hugging Face, tetapi juga menggunakan kredensial yang terekspos untuk mengakses empat akun di empat layanan publik lainnya.

Klaim awal OpenAI pekan lalu menyebut sekelompok model AI mereka berhasil menembus sistem keamanan dan meretas platform AI open source Hugging Face untuk menipu benchmark test. Kini, pembaruan investigasi pada hari Selasa menunjukkan dampak yang lebih serius dari yang dilaporkan sebelumnya.

“Kami akan terus memberi tahu pemilik layanan secara langsung, dan belum melihat bukti dampak yang lebih luas terhadap penyedia ini atau akun lain di layanan mereka,” tulis OpenAI dalam pernyataannya, tanpa merinci layanan mana saja yang terdampak.

Insiden ini memicu perdebatan sengit di kalangan peneliti dan pakar keamanan siber. Jurnalis New York Times Kevin Roose menyebutnya sebagai momen bersejarah: “Ini pertama kalinya, sepengetahuan saya, sistem AI secara otonom melakukan kejahatan. Jika manusia melakukan apa yang dilakukan model OpenAI ke Hugging Face, mereka akan dituntut dengan penipuan komputer, dan berpotensi dipenjara atau didenda.”

A color-treated photo of robotic masks.

Meski demikian, narasi kedua justru mempertanyakan motif OpenAI. Para skeptis menuding klaim ini sebagai strategi publisitas untuk membangun sensasi dan membuktikan kepada investor bahwa model AI mereka sama mengancamnya dengan kompetitor utama, Anthropic. Cerita serupa dari Anthropic beberapa bulan lalu semakin memperkuat kecurigaan tersebut.

Pakar keamanan juga menyoroti bahwa peretasan Hugging Face sebenarnya bisa dicegah dengan mudah. Alex Zenla, salah satu pendiri perusahaan keamanan cloud Edera, menyebut kelalaian OpenAI sebagai tindakan ceroboh. “Orang-orang benar-benar YOLO. Mengejutkan betapa sedikit orang yang benar-benar memikirkan skenario seperti ini,” ujarnya kepada Wired.

“Saya menganggap semua AI dan apa pun yang menyentuh AI sepenuhnya tidak tepercaya — itu tidak masalah, Anda hanya perlu membangun sistem dengan asumsi itu. Dan situasi ini membuktikan maksud saya. Fakta bahwa OpenAI tidak lebih paranoid tentang ini tampak sembrono,” tambah Zenla.

Konsultan keamanan dan kepatuhan Davi Ottenheimer juga mengkritik langkah OpenAI. “Analisis sederhana tentang risiko aktual memiliki jawaban sederhana. Kesalahan OpenAI sangat mendasar,” katanya kepada Wired. Perlindungan sederhana seperti mengisolasi layanan AI sepenuhnya dari internet bisa mencegah peretasan tersebut, sebuah praktik yang sudah dikenal peneliti selama puluhan tahun.

Pertanyaan besar muncul mengingat OpenAI yang mendekati valuasi US$1 triliun seharusnya memiliki semua sumber daya dunia. Kelalaian keamanan sebesar ini membuat publik mulai mempertanyakan narasi perusahaan.

Namun, kedua versi cerita ini bisa saja sama-sama benar. Ada kemungkinan nyata bahwa kekhawatiran tersebut memang beralasan seiring model AI semakin canggih dalam mengidentifikasi kerentanan keamanan siber. Model frontier sudah terbukti mampu menandai ribuan bug perangkat lunak, menunjukkan kompetensi yang terus berkembang.

Di sisi lain, OpenAI juga sangat berkepentingan untuk memamerkan kemampuan modelnya ke dunia saat berusaha mengejar ketertinggalan dari Anthropic. Hal ini membuka kemungkinan bahwa perusahaan bisa saja berkoordinasi dengan Hugging Face untuk mengatur peretasan tersebut — atau setidaknya memberikan dorongan kuat kepada model AI-nya ke arah kontroversi.

Para peneliti telah memperingatkan tentang kemungkinan AI melawan langkah keamanan selama bertahun-tahun. Insiden ini menunjukkan bahwa ancaman tersebut kini berubah dari kemungkinan menjadi kenyataan. Perdebatan di kalangan pakar dan skeptis dipastikan akan terus berlanjut seiring munculnya detail baru dalam investigasi.

Ke depan, insiden ini menjadi pengingat bahwa keamanan AI masih menjadi masalah fundamental yang belum terpecahkan. Baik sebagai ancaman nyata maupun sebagai narasi kompetisi bisnis, kasus ini menyoroti urgensi pengembangan protokol keamanan yang lebih ketat di industri AI.

OpenAI sendiri berkomitmen untuk terus memberi tahu pemilik layanan yang terdampak secara langsung. Perusahaan juga menegaskan belum menemukan bukti dampak yang lebih luas terhadap penyedia layanan atau akun lain di layanan mereka.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.