Keyboard dengan tombol AI menyala sebagai ilustrasi larangan AI di sekolah

Norway Larang AI untuk Anak SD, Begini Aturannya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Norway resmi melarang penggunaan generative AI untuk siswa SD kelas 1-7 (usia 6-13 tahun) mulai tahun ajaran baru Agustus 2026
  • Siswa usia 14-16 tahun boleh menggunakan AI hanya dengan pengawasan guru, sementara usia 17+ didorong menggunakan AI secara mandiri
  • Larangan ini merupakan lanjutan dari kebijakan larangan smartphone di sekolah tahun 2024 yang terbukti sukses menurunkan perundungan dan meningkatkan nilai
  • Norway juga berencana melarang media sosial untuk anak di bawah 16 tahun, mirip kebijakan Australia
  • AS juga bergerak dengan RUU GUARD Act yang mewajibkan verifikasi usia untuk chatbot AI, meski bahasanya telah dilunakkan

Telset.id – Norway secara resmi menerapkan larangan ketat penggunaan alat generative AI untuk siswa sekolah dasar, mulai dari kelas satu hingga tujuh. Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Jonas Gahr Stoere dalam sebuah konferensi pers, dengan alasan bahwa AI membuat anak-anak melewatkan langkah-langkah penting dalam proses pendidikan mereka.

Larangan ini akan mulai berlaku pada awal tahun ajaran baru, yang dimulai pada akhir Agustus mendatang. Kebijakan tersebut berdampak pada siswa berusia enam hingga 13 tahun. Namun, aturan ini juga berlaku untuk remaja dalam skala yang lebih ringan. Anak-anak berusia 14 hingga 16 tahun masih bisa menggunakan generative AI, tetapi hanya dengan pengawasan langsung dari guru. Sementara itu, remaja berusia 17 tahun ke atas didorong untuk menggunakan AI secara bertanggung jawab tanpa pengawasan.

Keputusan ini bukanlah langkah pertama Norway dalam mengurangi penggunaan teknologi di ruang kelas. Sebelumnya, negara tersebut telah melarang smartphone di sekolah pada tahun 2024. Kebijakan itu terbukti sukses, menghasilkan penurunan angka perundungan, peningkatan nilai akademik, dan penurunan signifikan jumlah kunjungan ke psikolog untuk masalah kesehatan mental. Hasil positif ini terutama terlihat pada siswa perempuan.

Selain larangan AI, Norway juga berencana memberlakukan larangan media sosial untuk semua anak di bawah usia 16 tahun. Rancangan undang-undang terkait akan diajukan ke parlemen sebelum akhir tahun ini. Pendekatan ini mirip dengan kebijakan yang diterapkan Australia dalam mengatur akses media sosial bagi anak-anak.

Keyboard dengan satu tombol bertanda AI.

PM Stoere menekankan bahwa sekolah harus fokus mengajarkan hal-hal fundamental seperti membaca, menulis, dan matematika. Menurutnya, penggunaan AI tanpa pengawasan yang tepat justru dapat menghambat perkembangan kognitif anak-anak pada tahap kritis pendidikan mereka. Kebijakan ini mendapat perhatian luas karena menunjukkan pendekatan tegas Norway terhadap teknologi di lingkungan pendidikan.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga mulai bergerak untuk membatasi waktu anak-anak berinteraksi dengan chatbot AI. Senat dan Dewan Perwakilan AS telah membahas rancangan undang-undang yang mewajibkan perusahaan AI menerapkan proses verifikasi usia dan melarang mereka menyediakan chatbot untuk anak di bawah umur. RUU yang disebut Guidelines for User Age-verification and Responsible Dialogue Act atau GUARD Act ini telah melewati Komite Yudisial Senat AS, namun belum sampai pada tahap pemungutan suara.

Menariknya, bahasa dalam RUU tersebut telah dilunakkan bulan lalu. Awalnya, aturan ini ditujukan untuk hampir semua chatbot bertenaga AI. Namun sekarang, RUU tersebut hanya merujuk pada “AI companions”. Ini berarti produk seperti ChatGPT, Gemini, dan CoPilot berpotensi dikecualikan dari aturan tersebut. Para kritikus menilai bahwa bahasa yang lebih sempit ini bisa membuat perusahaan mengecualikan diri jika fungsi chatbot dari alat mereka dianggap “insidental”. Pasalnya, garis tipis antara “AI companion” dan “alat pencari” yang kebetulan diajak bicara 24/7 bisa menjadi celah regulasi.

Kebijakan Norway ini menunjukkan tren global yang semakin ketat dalam mengatur penggunaan AI di kalangan anak-anak. Negara-negara lain diperkirakan akan mengikuti jejak Norway, terutama mengingat hasil positif dari larangan smartphone di sekolah yang telah terbukti efektif. Keputusan ini juga memicu diskusi tentang keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan perlindungan anak di era digital.

Bagi industri teknologi, kebijakan ini menjadi sinyal bahwa regulasi AI untuk anak-anak akan semakin ketat. Perusahaan seperti OpenAI, Google, dan Microsoft mungkin perlu menyesuaikan produk mereka agar sesuai dengan berbagai regulasi di berbagai negara. Di sisi lain, pendekatan Norway yang membedakan kelompok usia menunjukkan bahwa regulasi yang fleksibel namun tegas bisa menjadi model bagi negara lain.

Kebijakan ini juga menjadi pengingat bahwa teknologi AI, meskipun menawarkan banyak kemudahan, perlu diatur dengan bijak terutama ketika menyangkut anak-anak. Norway telah menunjukkan bahwa pendekatan berbasis bukti, dengan mempertimbangkan hasil nyata dari kebijakan sebelumnya, dapat menjadi landasan yang kuat untuk regulasi masa depan. Implikasi dari kebijakan ini akan terus dipantau oleh para pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan di seluruh dunia.

Dengan semakin banyaknya negara yang menerapkan regulasi serupa, masa depan penggunaan AI di lingkungan pendidikan akan terus berkembang. Yang jelas, keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan pengguna muda akan menjadi isu sentral dalam diskusi kebijakan digital global ke depannya.

Komentar

Belum ada komentar.